
Kau ingin bebas?? apa keberadaan ku sudah membuatmu terkekang dan tidak bebas Ana?? batin Regan bertanya tanya setelah mendapat kiriman rekaman dari Suster Ayu.
"aku kira dia sudah mulai nyaman hidup bersamaku, ternyata tidak!" gumam Regan sambil memukul meja kerjanya dengan sangat keras sampai buku buku tangannya berdarah.
"ada apa Tuan Muda??" tanya Jay yang terburu buru masuk setelah mendengar suara gaduh dari dalam ruang kerja Tuan nya.
Jay melihat wajah Tuan Mudanya tampak muram dan menahan amarah.
Melihat tangan Tuannya yang berdarah, Jay langsung mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Regan.
"kenapa tangan anda sampai berdarah seperti ini Tuan??" tanya Jay sambil meraih tangan Regan namun dengan cepat Regan menepis tangan Jay.
Regan terlihat masih kesal.
"kalau tidak segera di obati, luka anda akan infeksi Tuan!" kata Jay mengingatkan.
"biarkan saja!" sahut Regan.
"lagipula tidak ada yang peduli padaku!" tambahnya.
ada apa dengan Tuan?? apa dia mendengar sesuatu tentang Nona Muda??
"siapa bilang tidak ada yang peduli? masih banyak yang peduli pada anda Tuan termasuk saya!" kata Jay.
"bukan hanya saya, karyawan lain juga sangat peduli pada Anda, mereka menggantungkan nasibnya di pundak perusahaan mu Tuan!" tambah Jay.
"maka dari itu, jangan sampai anda terluka sedikit pun Tuan!" kata Jay mengingatkan.
Regan pun akhirnya tidak menolak lagi ketika Jay menarik tangannya dan segera mengobatinya.
Setelah mengobati tangan Regan, Jay bergegas keluar dari ruangan Regan lalu menelpon Nona Muda nya.
"Nona.. apa anda baik baik saja?" tanya Jay pada Ana.
"aku baik baik saja Jay, ada apa??" balas Ana balik bertanya.
"ah syukur lah! tapi sepertinya keadaan Tuan disini tidak baik baik saja!" sahut Jay.
"apa yang terjadi pada Tuan mu??" tanya Ana.
"entah bagaimana kejadiannya tapi ketika saya masuk tadi, saya melihatnya tangannya berdarah!" cerita Jay.
"apa?? berdarah?? bagaimana bisa??" seru Ana terkejut.
"hanya luka kecil Nona tapi saya sudah mengobatinya!" kata Jay lagi.
"jemput aku sekarang juga Jay!" titah Ana kemudian.
"ba..baik Nona!" sahut Jay.
********
"kenapa dengan tangan mu?" tanya Ana pada Regan yang tampak terkejut dengan kedatangan Ana.
__ADS_1
"kapan kau datang?? kenapa kemari?? bukannya kau ada di rumah mu sendiri??" Regan sampai bertanya bertubi tubi pada Ana.
"aku baru saja sampai! kenapa memangnya?? apa datang kemari harus ada alasannya??" sahut Ana dengan santainya duduk di sofa.
"ya bukan begitu.. bukan kah aku sudah bilang untuk menunggu sampai aku jemput??" balas Regan.
"kau pasti belum makan siang kan?" Ana berusaha mengalihkan pembicaraan.
"aku sudah masak tadi!" tambah Ana sambil membuka kotak bekal yang dibawanya.
"masak dimana?? di rumahmu??" tanya Regan.
"ya iyalah.. dimana lagi??" sahut Ana.
Regan hanya menghela nafas karena tidak tahu harus berkata apalagi, tadinya hatinya jengkel dan dongkol karena kiriman video yang Suster Ayu kirimkan padanya.
Tapi sekarang setelah kedatangan Ana, semua perasaan itu menguap entah kemana, Regan merasa Ana memperlakukannya dengan baik sebagai suami.
"kenapa tangan mu??" tanya Ana yang pura pura baru melihat luka di tangan Regan padahal tadi Jay sudah memberi tahunya walau tidak detail.
"ah.. ini.. tidak apa apa kok!" sahut Regan lalu menyembunyikan tangannya di bawah meja.
"coba saja kalau kau yang bertanya padaku, kau pasti marah kalau aku jawab tidak apa apa !!" cibir Ana.
"memang kenyataannya luka ini bukan apa apa! sudah lah jangan di bahas, aku sudah lapar!" sahut Regan berusaha mengalihkan topik obrolan mereka.
Ana memanyunkan wajahnya karena tidak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan harapannya.
Perlahan Ana mulai menyuapi suaminya meski tetap dengan wajah yang manyun,
Ana berusaha tidak manyun lagi namun terlihat terpaksa di mata Regan,
"kau sebenarnya kenapa??" tanya Regan kemudian.
"tidak apa apa!" sahut Ana sekenanya.
"tidak apa apa??" ulang Regan.
"memang kenyataannya tidak apa apa!" sungut Ana seolah membalikkan perkataan Regan yang tadi.
"oke oke.. aku akui aku salah!!" sentak Regan akhirnya.
"jadi??" ujar Ana sambil mengerutkan keningnya.
"tadi perasaan ku sedikit kacau jadi aku tidak sengaja memukul meja sampai tanganku berdarah!! sudah puas????" sahut Regan dengan nada agak geram, dia terpaksa harus jujur daripada melihat wajah istrinya manyun.
Ana tersenyum kecil karena Regan akhirnya memilih untuk jujur padanya.
"kacau?? apa kau kesal padaku??" tanya Ana semakin kepo.
"bisa jadi!" sahut Regan singkat.
"bisa jadi?? jadi benar karena aku??" tanya Ana lagi.
__ADS_1
"entah lah!!" jawab Regan lalu bergegas melarikan diri ke kamar mandi untuk menghindari pertanyaan Ana.
"jangan kau pikir dengan beralasan ke kamar mandi, kau bisa menghindari pertanyaan ku!" sindir Ana.
Regan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ana,
"apa kau masih berpikir untuk lari dariku?? apa kau merasa terkekang selama menikah dengan ku??" tanya Regan tiba tiba.
Wajah Ana langsung berubah pucat seketika,
bagaimana dia bisa tahu tentang pembicaraan ku dengan kak Bara tadi pagi?? apa benar kata Mimin kalau tembok bisa melaporkan sesuatu padanya?? atau jangan jangan...
Ana terdiam karena tidak tahu harus berkata apa, dia seperti pencuri yang tertangkap basah.
"kenapa?? apa aku masih tidak cukup baik untuk menjadi suamimu?? kau benar benar ingin meninggalkan aku??" kata Regan.
"kau bicara apa?? apa bisa aku lari darimu sedangkan kau bisa tahu segalanya tentang aku!" ujar Ana berusaha untuk tenang.
"kau memang tidak bisa lari sendiri, aku yakin kakakmu itu pasti sedang merencanakan sesuatu untuk membuatmu pergi meninggalkan aku!" sentak Regan mulai gusar.
"kenapa kau harus selalu berpikir negatif tentang kakakku??" ujar Ana.
"karena aku tahu kalau dia tidak menyukaiku!"
"sebaiknya kau selesaikan dulu masalahmu dengan kakakku agar semuanya bisa jelas!" kata Ana memberi pendapat.
"kalau masalah selesai?? kau akan tetap di sisiku?? atau malah pergi??" tanya Regan berusaha mencari kepastian.
"tergantung!" sahut Ana singkat.
"tergantung apa??" tanya Regan semakin penasaran.
"tergantung bagaimana kau menyikapi masalah mu dengan kakakku!! kau tahu kan keluarga ku hanya tinggal kak Bara saja??"
"aku mengerti!" sahut Regan.
"ya sudah.. karena kau sudah kenyang! aku akan pulang!" kata Ana kemudian.
"pulang kemana??" tanya Regan.
"maunya kemana??" Ana malah balik bertanya.
"jangan hanya menuruti kemauan ku saja, kau bisa mengutarakan pendapatmu!" sahut Regan.
"dan apa kau akan setuju jika pendapatku tidak sesuai dengan harapan mu??" balas Ana dengan agak sinis.
"maka sesuaikan dengan keinginan ku agar aku setuju!"
Ana memutar bola matanya dengan malas dan menghela nafas dengan kasar,
"huh.. kalau masih harus sesuai keinginan mu kenapa juga harus mengutarakan pendapatku??" cibir Ana.
"tidak usah pulang!! tunggu aku sampai selesai bekerja dan kita bisa pulang sama sama!" kata Regan kemudian.
__ADS_1
"baiklah!" sahut Ana pasrah.
🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄