
Melihat Ana yang tidur begitu lelap, Regan tidak sampai hati untuk membangunkannya.
Pelan pelan Regan mengangkat tubuh Ana dan dibawanya ke mobil, sepanjang perjalanan menuju ke mobil, banyak mata yang memandang ke arah mereka.
Mungkin yang terlihat, Regan dan Ana adalah pasangan yang paling berbahagia di dunia ini padahal pada kenyataannya mereka seperti Tom dan Jerry, selalu bertengkar setiap saat.
"jadi ke rumah sakit Tuan?" tanya Jay yang sudah siap di belakang setirnya.
"langsung pulang saja!" sahut Regan sambil mengusap lembut kepala Ana agar wanita itu tidak terganggu tidurnya.
"tapi kan...!" Jay masih berani membantah.
"Jay!!!" hardik Regan agak kesal.
"siap Tuan...langsung menuju mansion!" sahut Jay langsung ketakutan.
Dalam perjalanan, Jay sempat sempatnya melirik ke belakang, mencuri pandang dengan apa yang sedang Tuannya lakukan pada Nona Mudanya.
"fokus pada pekerjaan mu Jay!" tegur Regan yang sadar pada lirikan Jay.
"eh.. baik Tuan!" sahut Jay yang langsung salah tingkah.
sialan.. kenapa bisa ketahuan?? padahal aku kan sudah melirik dengan hati hati!" batin Jay menggerutu.
Setengah jam kemudian, mereka akhirnya sampai dan lagi lagi Regan harus menggendong Ana karena wanita itu tidak bangun sama sekali.
"apa mau saya bantu Tuan??" kata Jay menawari niat baiknya pada Regan.
Bukannya menyahut, Regan malah melemparkan tatapan tajam yang mematikan ke arah Jay.
"eh.. maaf Tuan! saya tidak bermaksud...!" belum selesai Jay beralasan, Regan sudah menyelanya.
"urus saja urusan mu sendiri!" sela Regan dengan ketus.
"baik Tuan Muda!" sahut Jay kemudian dengan patuh.
Sampai di kamar, Regan langsung menidurkan Ana dengan sangat hati hati namun sayang Ana tetap terbangun.
"em... apa kau sudah selesai dengan pekerjaan mu??" tanya Ana yang belum menyadari kalau dirinya sudah ada di rumah.
"sudah dari tadi!" jawab Regan seadanya.
Ana berusaha untuk bangkit,
"ya sudah.. aku siap siap dulu lalu kita langsung ke rumah sakit ya!" kata Ana.
__ADS_1
"tidak perlu karena kita sudah sampai di rumah!' sahut Regan dengan santainya.
Ana membelalakkan matanya dan melihat sekitarnya dengan nanar.
"sejak kapan kita ada di rumah?? bukannya tadi masih di kantor??" seru Ana agak linglung.
"tidurmu lelap sekali jadi aku tidak berani membangunkan mu!! karena sudah larut, aku terpaksa membawamu pulang langsung!" kata Regan sejujurnya.
"tapi kan tadi katamu mau mengantarku ke rumah sakit??" rengek Ana.
"kan masih ada besok!!" jawab Regan dengan tegas.
"tapi aku maunya hari ini!" kata Ana setengah memohon.
"lagipula rumah sakit itu pasti sudah tutup sekarang dan kau tidak akan di perbolehkan masuk ke sana!" seru Regan.
"bukannya rumah sakit itu juga milikmu?? mereka pasti mengijinkan asal kau yang datang bersamaku!" sahut Ana masih berusaha.
"meski pun aku pemegang saham terbesar di rumah sakit itu, aku juga tetap harus mengikuti peraturan yang ada agar bisa menjadi contoh yang baik bagi orang lain!" ujar Regan menjelaskan.
"ck!" Ana berdecak kesal karena keinginannya tidak terpenuhi.
"hari ini masih belum kiamat jadi kau bisa menjenguk kakakmu besok ataupun lusa!" kata Regan.
Ana malah memanyunkan mulutnya.
"salahmu juga kenapa tidak membangunkan aku!" sahut Ana tak mau kalah.
"salahmu karena punya wajah menyedihkan saat tidur, aku jadi tidak tega untuk membangunkan mu!" sahut Regan sekenanya.
"apa?? menyedihkan katamu??" seru Ana tidak terima dengan ucapan Regan.
"iya.. apalagi kalau bukan menyedihkan??" sahut Regan yang dengan santainya berjalan ke arah kamar mandi.
Ana lagi lagi hanya bisa mendengus dengan kesal, angannya ingin bertemu sang kakak pun musnah gara gara dia yang ketiduran.
"ish!! kenapa juga aku harus ketiduran?? ck.. salah dia kelamaan kerjanya!" omel Ana sendirian karena Regan sudah masuk ke kamar mandi.
Ana masih kesal pada Regan dan juga dirinya sendiri sehingga susah untuk memejamkan mata kembali walau dia sudah memejamkan matanya secara paksa.
"ayo dong mata...tidur lagi!! tadi saja kau lelap sekali, kenapa sekarang malah On??" gumam Ana pada dirinya sendiri yang sudah bergumul di bawah selimut tebal yang nyaman.
"itu karena kau sudah kelamaan tidur jadinya tidak mengantuk lagi!" kata Regan yang ternyata mendengar gumaman Ana barusan.
"aih!" gumam Ana pelan karena merasa malu pada Regan.
__ADS_1
"kalau kau belum bisa tidur, temani aku di balkon!" ajak Regan.
"males!" sahut Ana dengan cepat.
"ya sudah!" sahut Regan yang sudah berjalan menuju ke balkon.
Ana mengintip dari balik selimutnya dan mendapati Regan sedang berdiri di balkon dengan hanya menggunakan bathrobe miliknya.
Matanya tampak terpejam, sepertinya Regan sedang menikmati angin malam yang begitu menyejukkan.
"dia pasti penat sekali sampai harus berdiri di balkon seperti itu!" gumam Ana lagi tapi dia berusaha tidak peduli pada pria itu dan kembali berusaha untuk tidur.
Sementara Regan, tampak merenung, entah apa yang sibuk melayang layang di pikirannya.
"aku tidak akan pernah melepaskan mu Ana...!" lirihnya dalam gelap dan sepinya malam itu.
"aku harus bisa membuatmu tunduk dan selalu membutuhkan keberadaan ku! tapi bagaimana caranya??" Regan mengobrol pada dirinya sendiri.
Lalu terbersit di otak Regan untuk membuat Ana mengandung anaknya.
"menghamilinya?? apa itu benar??" ucapnya ragu pada idenya itu.
"tapi kalau dia mengandung anakku, dia tidak akan bisa lari dariku!" kata Regan lagi.
"argh!" teriak Regan agak frustasi.
Karena malam semakin dingin akhirnya Regan memutuskan untuk kembali ke kamar dan mendapati Ana sudah kembali terlelap dengan pulas nya.
Regan menggelengkan kepalanya melihat Ana yang sudah mendengkur halus.
"cih.. katanya susah tidur!!" cibir Regan sambil menutupi kaki Ana yang tidak terkena selimut.
Lalu Regan pun ikut merebahkan dirinya di samping Ana dan perlahan memeluk Ana dari belakang.
Regan menghirup dalam dalam aroma tubuh Ana yang begitu menyegarkan baginya, sungguh aroma yang membuat Regan menjadi candu.
"selamat malam istriku!" bisik nya dengan lirih.
Setelah Regan terlelap, kini giliran Ana yang terbangun, ternyata Ana belum benar benar tertidur sehingga dia bisa mendengar dengan jelas apa yang Regan ucapkan tadi padanya.
Ana ingin bergeser tapi terhalang oleh tangan kekar milik Regan yang melingkar di pinggang rampingnya.
apa katanya tadi?? istriku?? apa dia mengigau?? tidak mungkin kan dia menganggap ku sebagai istri sungguhan nya?? ck.. benar benar membingungkan!
Batin Ana terus bertanya tanya.
__ADS_1
Karena kelamaan berpikir akhirnya Ana ikut terlelap juga dan membiarkan Regan terus mengungkungnya dalam pelukannya.
🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐🌐