Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 16


__ADS_3

Sesuai dengan janji Regan, Ana boleh keluar dari mansion asal di temani pengawal dan pengawal yang di utus oleh Regan adalah Jay, pengawal serta kaki tangan yang paling di percayai nya.


"Jay.. awasi dia! jangan sampai kabur!" pesan Regan pada Jay.


"siap Tuan!" sahut Jay dengan sigap.


Ana enggan menanggapi karena dia takut salah bicara dan membuat Regan marah, jika sudah marah pasti dia akan mencabut ijinnya untuk Ana bisa menjenguk sang Kakak di rumah sakit.


"silahkan Nona!" kata Jay dengan sopan.


Ana bukannya menyahut malah memberengut kesal, memang dari awal Jay sangat menyebalkan dan Ana tidak menyukainya.


Jay yang cuek pun tidak memperdulikan sikap jutek Ana kepadanya.


Sepanjang perjalanan hanya hening karena baik Ana maupun Jay tidak ada yang memulai pembicaraan.


Setelah sampai, Jay membuka kan pintu mobil untuk Ana.


berasa nyonya besar aku!


"mari silahkan Nona!" kata Jay dengan sopan dan hormat.


"mari ikuti saya!" imbuhnya lagi.


Tanpa membantah seperti biasanya, Ana langsung mengikuti langkah Jay, sepertinya hari ini Ana benar benar menjadi gadis baik yang penurut membuat pekerjaan Jay jadi lebih mudah.


Ana langsung menghambur sambil menangis ke pelukan kakaknya yang terbaring dengan berbagai macam alat penunjang kehidupan menempel di tubuhnya.


"kak..!" lirihnya.


Sementara Jay tetap berjaga di sebelah Ana, sebenarnya dia merasa tak nyaman melibat suasana haru di hadapannya tersebut namun demi menjalankan tugas dia harus tetap berada di sisi Ana.


"apa kau mau tetap disitu??" ujar Ana dengan ketus tanpa menolehkan pandangannya.


"maaf Nona.. sudah menjadi tugas saya untuk menjaga anda!" sahut Jay dengan tegas.


"apa kau pikir aku nyaman di awasi begini??" cibir Ana.


"nyaman tidak nyaman itu bukan urusan saya Nona!" sahut Jay lagi dengan cueknya.


"argh.. kau menyebalkan!! sama menyebalkan nya dengan Tuan mu itu!!" rutuk Ana dengan geram.


"anda boleh memaki saya sesuka hati, asal anda tidak mengusir saya dari sini!" kata Jay lagi.


"apa aku tidak bisa memiliki privasi hanya berdua saja dengan kakakku saja??" katanya setengah memelas berharap Jay mau menunggunya di luar ruangan.


"lagipula kakak anda dalam keadaan koma, privasi seperti apa yang anda maksud Nona??" tukas Jay.

__ADS_1


"argh.. kau memang menyebalkan!! apa kau tidak punya saudara hah?? bagaimana perasaan mu jika kau ada di posisiku??" sungut Ana.


"saya sebatang kara Nona jadi saya tidak bisa memposisikan diri saya seperti anda saat ini!" sahut Jay lagi.


"kau ini manusia arau robot sih?? benar benar tidak punya hati!" ujar Ana.


"saya manusia tulen Nona!" jawabnya dengan wajah serius.


"astaga!!! darimana dia mendapat pengawal yang bahkan sifatnya seperti kloningan Tuan nya??" gerutu Ana pelan.


"apa anda mengatakan sesuatu Nona?" tanya Jay yang mendengar Ana menggerutu walau samar.


"tidak!" sahut Ana dengan ketusnya.


ah baik lah.. anggap saja manusia kloningan ini tidak nyata, aku ingin berbagi cerita dengan kakakku.


"kak.. apa kabar mu?? maaf karena sudah lama tidak menjenguk mu!" lirih Ana tepat di samping telinga kakaknya.


"kak.. cepat lah sembuh dan tolong aku kak..!" lirihnya lagi sambil sesenggukan.


Jay menundukkan kepalanya, bagaimana lun juga dia hanya manusia biasa yang punya perasaan, melihat Ana menangis sampai sesenggukan cukup membuat hatinya bergetar sehingga Jay lebih memilih untuk tidak melihatnya daripada harus baper pada apa yang tengah terjadi di hadapannya kini.


Tak lama kemudian, ponsel Jay berdering, Tuannya yang memanggil.


Jay sedikit bergeser menjauh dari Ana untuk menerima panggilan telepon dari Tuannya.


"bagaimana dengan gadis bodoh itu? apa dia bertingkah??


"ah tidak Tuan.. Nona malah sangat kooperatif dan tidak menyusahkan!" sahut Jay mengatakan yang sebenarnya terjadi.


"bagus lah.. jangan sampai lengah karena dia licik dan licin seperti ular!"


""siap Tuan!" sahut Jay.


"jika dia sampai kabur, nyawamu jadi taruhannya Jay!"


"saya mengerti Tuan!" kata Jay sedikit tegang.


Setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Tuan Regan, Jay kembali lagi pada posisinya.


Ana masih saja berbicara pada kakaknya, menumpahkan segala kesulitan yang di alaminya semenjak bertemu dengan Regan.


Setelah puas bercerita, Ana mulai menyadari bahwa ruangan ini bukan lah ruangan yang biasanya kakaknya tempati.


apa dia yang sengaja memindahkan kakak ke ruangan mewah ini?? tapi untuk apa?? bukannya dia membenci kakak dan aku?? berapa ya kira kira biayanya?? pasti mahal sekali!! ini bahkan terlihat seperti hotel bintang 5 bukan bilik rumah sakit seperti pada umumnya.


"sudah saatnya pulang Nona!" kata Jay mengingatkan jam berkunjung nya telah habis.

__ADS_1


"tidak bisa kah aku menginap disini saja??" kata Ana dengan suara parau nya, matanya bengkak karena terlalu lama menangis.


"jangan meminta lebih Nona, sudah bagus Tuan mengijinkan anda keluar dari mansion dan menjenguk kakak anda!" kata Jay.


Apa yang di katakan Jay memang benar, belum saatnya dia meminta lebih pada Tuan Muda yang kejam itu, bisa bisa dia berubah pikiran lagi nantinya.


"baiklah!" sahut Ana dengan malas.


"mari Nona!" kata Jay yang sudah membukakan pintu untuk Ana.


Ana benar benar di perlakukan bak Ratu, dia tidak terlihat seperti tawanan.


Baru beberapa menit merebahkan dirinya, Ana harus bangkit kembali karena Jay bilang kalau Tuan Regan sudah datang.


"bangun lah Nona.. anda harus menyambut kedatangan Tuan!" kata Jay.


"halah.. biasanya datang ya datang aja.. tidak perlu pakai acara sambut menyambut segala!" gerutu Ana yang masih betah rebahan.


"saya harap anda tidak membantah Nona, lakukan saja apa yang saya katakan demi kebaikan anda sendiri!" kata Jay lagi.


"kau benar benar manusia kloningan ya?? kenapa kau ikut ikutan suka mengancam sekarang??" ujar Ana mulai kesal pada Jay.


"jangan sampai Tuan masuk rumah tanpa sambutan Nona.. anda sendiri yang akan rugi nantinya!" kata Jay berusaha memperingatkan Ana.


"argh.. iya.. iya!! menyebalkan!!" Ana terpaksa bangkit dan hendak menyambut kedatangan Regan.


"berlaku lah selayaknya istri Nona!" kata Jay lagi.


"lama lama kau cerewet juga ya!" ujar Ana dengan sinis nya.


"saya hanya berusaha mengingatkan anda Nona!" kata Jay lagi.


"huh!" Ana mendengus dengan kasar karena lagi lagi harus menurut pada ucapan Jay.


Regan datang dan di sambut oleh senyuman palsu Ana,


"kau hanya perlu mengambil jas dan tas kerja ku saja, tidak perlu tersenyum palsu seperti itu!! wajahmu malah terlihat semakin mengerikan!" cibir Regan yang melihat wajah Ana tersenyum palsu padanya.


"cuih.. aku juga terpaksa melakukannya!" sungut Ana sambil merampas paksa jas dan tas kerja dari tangan Regan.


"ambil dengan cara yang sopan!" tegas Regan.


"baik Tuan!" sahut Ana melunak lalu mengulangi caranya mengambil alih jas dan tas kerja Regan dan kali ini dengan cara yang benar.


"bagus!" seru Regan sambil tertawa melihat tingkah Ana yang sok lembut, tidak sesuai sama sekali dengan perangai aslinya, khas gadis barbar yang kasar.


🥌🥌🥌🥌🥌🥌🥌🥌🥌🥌

__ADS_1


__ADS_2