
Pagi itu, seperti biasanya Regan berangkat ke kantor setelah sarapan di rumah namun kali ini Regan tidak benar benar ke kantor, dia malah menyuruh Jay untuk membelokkan mobilnya ke rumah Bara.
Sepertinya Regan punya sesuatu yang mendesak yang harus di bicarakan dengan Bara.
Wajahnya tampak gusar dan tidak bersemangat, Jay menyadari hal itu namun dia tidak berani bertanya.
"lebih cepat sedikit Jay!" titah Regan pada Jay.
"baik Tuan!" sahut Jay.
Sesuai permintaan Tuannya, Jay langsung tancap gas.
Sesampainya di rumah Bara, Regan langsung turun dengan di ikuti oleh Jay.
"kau tunggu disini saja!" kata Regan yang melihat Jay membuntutinya.
"tapi Tuan...!" Jay tampak ragu.
"tunggu disini, tidak akan terjadi apa apa padaku!" kata Regan meyakinkan.
"baiklah Tuan! hati hati!" sahut Jay akhirnya.
Regan menarik nafasnya dalam dalam sebelum masuk dan bertemu dengan 'kakak iparnya' tersebut, berharap hal itu bisa menekan emosinya.
Tok... Tok..
Tak lama kemudian, Suster Ayu membukakan pintu dan langsung terkejut melihat kedatangan Regan sepagi itu.
"eh.. Tuan Muda?? " seru Suster Ayu dengan ekspresi wajah terkejut.
"se.. selamat pagi Tuan!" salam Suster Ayu kemudian.
"dimana dia?" tanya Regan to the point tanpa menjawab sapaan Suster Ayu padanya.
"Tuan Bara ada di kamarnya Tuan!" sahut Suster Ayu.
"cepat panggilkan dia karena aku ingin bicara dengannya!" titah Regan dengan acuhnya lalu masuk dan duduk di sofa tamu tanpa harus di suruh oleh Suster Ayu.
Suster Ayu segera berlalu dan memanggil Bara.
Bara tampak segar karena baru saja selesai mandi, Suster Ayu sampai terpana melihatnya,
"ada apa?" tanya Bara.
"eh.. anu.. ada Tuan Regan diluar sedang menunggu anda!" sahut Suster Ayu agak gugup.
"untuk apa dia kemari pagi pagi sekali??" gumam Bara pada dirinya sendiri.
"baiklah aku akan menemuinya!" kata Bara kemudian.
Dan Suster Ayu minggir untuk memberi Bara jalan.
"untuk apa kau pagi pagi datang kemari?" tanya Bara dengan nada angkuhnya.
__ADS_1
"aku tidak akan sudi datang kemari jika tidak ada hal yang penting!" sahut Regan tanpa bangun dari duduknya.
Wajah Regan terlihat sinis melihat Bara yang sepertinya sangat menikmati hidupnya.
"cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan ocehan mu!" ujar Bara.
"aku juga tidak akan banyak bicara padamu, kau dengarkan baik baik karena aku tidak akan mengulangi perkataan ku!" sahut Regan.
"untuk pertama dan terakhir kalinya aku memperingatkan mu, jangan pengaruhi Ana lagi untuk kabur dariku!" tegas Regan.
"hah.. aku tidak mempengaruhinya! aku hanya akan membuatnya sadar agar segera meninggalkan pria kejam seperti mu!" sahut Bara dengan entengnya.
"lagipula pernikahan kalian bukan lah pernikahan yang sebenarnya, kau menikahinya atas dasar balas dendam padaku!! dan sekarang aku sudah baik baik saja, kau bisa melampiaskan dendam mu padaku bukan pada adikku!! Ana tidak tahu apa apa tentang masalah kita!" tambah Bara setengah emosi.
"apa kau lupa?? aku menikahinya secara sah dan kau tidak bisa memisahkan kami begitu saja!" sahut Regan.
"aku akan melakukan apapun untuk membebaskan Ana dari cengkeraman mu!" sentak Bara.
"lagipula untuk apa kau menahannya kalau kau tidak mencintainya?? sekarang sudah ada aku, sakiti aku saja jangan Ana!" tambahnya.
"kau sudah menghancurkan hidupku satu kali, tidak akan kubiarkan kau menghancurkan nya untuk yang kedua kali!" sungut Regan.
"asal kau tahu, aku tidak pernah menghancurkan hidupmu!!" teriak Bara.
"tidak menghancurkan katamu?? kau merebut calon istriku, apa itu bukan perbuatan yang keji?? dia pergi ketika semuanya sudah di persiapkan!!" balas Regan yang ikut berteriak, Regan bahkan sampai menarik kerah baju Bara.
Bara menepis cengkeraman tangan Regan dengan kasar.
"katamu kau kaya dan bisa melakukan segalanya?? tapi mencari tahu tentang kebenaran Tia saja kau tidak bisa!! aku jadi ragu pada kekuatanmu yang di elu elu kan itu! " cibir Bara menghina Regan.
"sudah ku duga, kau tidak tahu apa apa!" cibir Bara.
"tidak tahu apa apa?? jangan berbelit belit!! katakan apa yang mau katakan!!" hardik Regan dengan tidak sabaran.
"apa begini caramu bertanya?? sopan sekali kau!" cibir Bara lagi.
Dan Bugh..
Regan yang sudah naik pitam langsung meninju wajah Bara sampai Bara tersungkur ke lantai.
"hentikan Tuan!!!" teriak Suster Ayu histeris lalu membantu Bara.
"Tuan Bara.. apa kau baik baik saja?" tanya Suster Ayu sambil menyandarkan kepala Bara ke pangkuannya.
Tampak wajah Bara memar dan sudut bibirnya mengeluarkan darah, dia juga meringis kesakitan.
"argh!" ringis Bara sambil meraba memar di wajahnya.
"sebaiknya Tuan Muda pergi dari sini sebelum semuanya bertambah kacau, lagipula Tuan Bara tidak akan bisa di ajak bicara lagi dalam keadaannya yang seperti ini!" ujar Suster Ayu.
Regan menghela nafasnya dan berusaha berpikir jernih, sepertinya apa yang Suster Ayu katakan ada benarnya juga, mereka tidak bisa ngobrol dalam keadaan sama sama emosi.
Akhirnya Regan memilih untuk pergi walau rasa penasaran masih menghantui perasaannya.
"baiklah aku akan pergi!" kata Regan.
__ADS_1
Sebelum pergi, Regan mendekati Bara dan berkata,
"urusan kita belum selesai! kau harus mengatakan semuanya jika tidak ingin adikmu menderita!" ancam Regan pada Bara.
Ancaman yang sebenarnya hanya untuk menggertak Bara saja, karena tidak mungkin bagi Regan untuk menyakiti Ana.
"aku akan membunuhmu jika sampai kau berani membuatnya menangis!" sungut Bara membalas.
Regan hanya membalas dengan senyuman smirk nya lalu pergi dari sana.
Jay yang menunggu di mobil tampak lega melihat Tuannya kembali dalam keadaan baik baik saja.
"langsung ke kantor Tuan?" tanya Jay.
"iya!" sahut Regan dengan nada datar.
Jay pun tidak bertanya lebih lanjut lagi karena melihat ekspresi wajah Regan yang tidak baik baik saja.
Sesampai di kantor, Regan langsung mengurung dirinya di ruang kerjanya.
"jangan ganggu aku dulu dan tunda semua meeting hari ini!" pesan Regan pada Jay sebelum masuk ke ruangannya.
"baik Tuan!" sahut Jay mengiyakan.
"sialan! rahasia apa lagi yang Bara simpan?? tentang Tia?? apa maksudnya??" gumam Regan pada dirinya sendiri.
"benarkah aku telah melewatkan sesuatu yang penting tentang mereka?" gumamnya lagi.
Regan tampak berpikir keras mengingat sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk.
Tanpa terasa hari sudah siang dan tiba tiba ada suara pintu di ketuk,
Tok... Tok..
"ada apa Jay?? bukan kah sudah ku bilang aku tidak ingin di ganggu!!!" teriak Regan kesal.
Pintu pun terbuka,
"apa kedatanganku juga mengganggumu??" tanya Ana yang hanya memunculkan kepalanya di balik pintu.
"kau??" seru Regan yang terkejut melihat Ana datang.
"iya... ini aku!! apa aku tidak boleh masuk??" tanya Ana lagi.
"masuklah!" sahut Regan.
Lalu Ana pun masuk.
"untuk apa kau kemari?" tanya Regan basa basi.
"sepertinya pekerjaan mu banyak sekali sampai tidak sadar kalau hari sudah siang dan saatnya untuk makan siang!" ujar Ana sambil menunjukkan rantang makanan yang dibawanya.
Regan memang baru sadar kalau hari sudah sesiang ini.
🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥
__ADS_1