Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 23


__ADS_3

Pagi harinya..


"aduh..kepalaku sakit sekali!" seru Ana sambil memegangi kepalanya sendiri.


Ana berusaha untuk bangun namun rasanya ada yang aneh, Ana membuka kedua matanya secara perlahan,


Matanya memandang berkeliling dan tidak mendapati siapapun di sana.


"ah.. syukur lah pria kejam itu sudah berangkat!" gumam Ana.


"pria kejam??" terdengar suara berat yang khas dari arah kamar mandi.


Ana langsung menoleh dan mendapati sosok Regan yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang, rambutnya yang basah membuatnya terlihat segar dan seksi.


"eh.. aku pikir kau sudah berangkat ke kantor!" kata Ana salah tingkah.


"bagaimana aku bisa ke kantor dengan leher merah merah seperti ini?" sahut Regan sambil menunjukkan beberapa tanda merah yang ada di lehernya.


"memangnya kenapa dengan leher mu??" Ana bertanya dengan polosnya.


"hah?? apa kau tidak mengingatnya??" Regan sengaja ingin menggoda Ana.


"tidak ingat?? tentang apa??" tanya Ana mulai bingung.


"coba kau lihat dirimu!" Regan tersenyum penuh arti.


Ana langsung mengintip di balik selimut dan dia langsung histeris ketika mendapati dirinya hampir telanjang bulat, yang tersisa hanyalah ****** ***** yang menutupi mahkotanya.


"aaaa.......!" teriaknya histeris membuat Regan reflek mengunci pintu kamar mereka agar suara Ana tidak terdengar sampai keluar kamar.


"kau jahat!!!" teriak Ana mulai melempari Regan dengan bantal.


Regan berusaha melindungi dirinya dan terus berjalan mendekati Ana yang uring uringan dan Regan langsung duduk di sebelah Ana, Ana dengan leluasa memukuli Regan sambil menangis.


"kau benar benar jahat!! tega sekali kau!!!" teriak Ana dengan tangis yang semakin histeris.


Regan mengunci pergerakan kedua tangan Ana dan menyuruhnya untung tenang.


"tenang lah!! tenang!!" kata Regan berusaha membujuk Ana.


"kau jahat!! aku benci padamu!!" sungut Ana.


"diam lah!!! tenangkan dirimu!! aku tidak meniduri mu!!! kau masih suci!!" kata Regan dengan keras.


Ana langsung menghentikan pergerakan tangannya dan menatap Regan dengan seksama, Ana mencari kejujuran di mata Regan.

__ADS_1


"apa katamu barusan??" tanya Ana.


"aku tidak melakukan apa yang kau pikirkan di otak kotor mu itu!!!" kata Regan lalu melepas kedua tangan Ana karena Ana sudah lebih tenang.


"kau tidak bohong kan??" Ana masih ragu.


"coba saja kau periksa sendiri!" sungut Regan.


"la..lu ke..kenapa lehermu merah merah seperti itu??" tanya Ana agak tergagap dan malu melihat Regan bertelanjang dada di hadapannya.


"memangnya kenapa lagi?? apa mungkin aku menggigit leher ku sendiri??" sentak Regan karena kesal dengan kepolosan Ana.


"jangan bilang kalau aku yang telah membuat tanda merah itu??" Ana masih bersikap sok polos.


"iya ini memang kelakuan mu!! dan yang di leher mu itu baru hasil karyaku!!" Ana yang belum menyadari kondisi lehernya sendiri langsung gelagapan.


Dengan selimut yang tergulung, Ana berusaha menggapai meja hias untuk berkaca.


Regan terkekeh karena merasa lucu melihat Ana berjalan dengan selimut tebal melilit tubuhnya, dia sudah terlihat seperti kepompong.


"aaaaah.... kenapa banyak sekali??" Ana kesal karena hampir seluruh lehernya lebam kebiruan bahkan sudah mencapai ke dadanya.


"kau pasti mengambil kesempatan dalam kesempitan kan? kau sengaja kan membuat ku mabuk??" tuduh Ana.


"heh.. kau sendiri yang minum!! kenapa malah menyalahkan aku?? kau bahkan mengisi gelas mu sendiri!!" cibir Regan.


"ya sudah kalau tidak percaya!!" sahut Regan dengan santainya.


"huwaa.. bagian mana saja yang sudah kau pegang?? huwa... aku sudah tidak suci lagi!!" rengek Ana.


"semua bagian!" sahut Regan dengan seringai nakalnya.


"dasar brengs*k!! kau bilang tidak akan mau menyentuh ku tapi kenapa sekarang malah begini kejadiannya??" umpat Ana kesal.


"i..itu karena faktor keadaan!! kau sendiri yang memancingku!! bagaimana pun juga aku ini kan pria normal yang masih sehat jasmani dan rohani!!" jawab Regan agak gugup.


"sudah tahu aku mabuk, seharusnya kau tidak meladeni tingkah aneh ku!?!" Ana masih bersikeras dirinya benar.


"kau sendiri yang menyerahkan dirimu dengan sukarela!! masih bagus aku bisa menahan nafsu dan tidak meniduri mu meski kau memaksa!!" ujar Regan.


"apa?? memaksa?? jangan konyol!!!" sanggah Ana.


"kau bahkan bilang sendiri kalau itu adalah kewajiban istri!!" kata Regan lagi.


"ah.. sudah sudah!!" teriak Ana lalu berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


Ana benar benar malu membayangkan apa yang telah terjadi semalam antara dirinya dan Regan, benar yang Regan katakan, sekarang seluruh jiwa dan raganya adalah hak Regan karena Regan telah menikahinya secara resmi.


Sementara Regan bersantai di ranjang sambil menunggu Ana keluar dari kamar mandi.


Satu jam Ana berdiam diri di kamar mandi, entah apa yang di lakukan nya di dalam sana, Regan sampai jenuh menunggu.


"kau itu mandi atau bunuh diri??" kata Regan sambil menggedor pintu kamar mandi.


"bunuh diri!" teriak Ana dari dalam.


Regan langsung terbahak.


"sepertinya acara bunuh dirimu tidak berhasil!! mau aku bantu??" kata Regan sambil terus terbahak bahak.


Ana tidak terima dengan ucapan Regan, dia langsung keluar dengan bathrobe melekat di tubuhnya.


"apa kata mu?? kau mau membantu ku bunuh diri??" Ana berkata sambil berkacak pinggang seolah menantang Regan.


"ooo... takut!!" Regan pura pura takut.


"habisnya.. mana ada orang bunuh diri bisa ngomong!" tambah Regan yang kembali tergelak.


Ana mulai menyadari kebodohannya.


"bodo amat!!" sungut Ana lalu berjalan ke arah meja hias untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"sini aku bantu!!" kata Regan yang sudah mengambil alih handuk yang melilit di kepala Ana.


"tidak usah sok baik!" sungut Ana namun Regan tetap saja membantu Ana untuk mengeringkan rambutnya.


"nyonya habis ngapain semalam?? kok keramas pagi pagi sih??" goda Regan.


Pipi Ana langsung merona sempurna.


"hayo ngapain?? abis main kuda kudaan ya sama suaminya??" goda Regan lagi.


"ih apaan sih!! jorok!!" sungut Ana berusaha menyembunyikan pipinya yang merona dengan tangannya.


"jorok apanya?? kita udah dewasa jadi wajar bicara seperti itu!!" kata Regan.


"wajar sih kalau pernikahan ini terjadi karena di dasari cinta!!" sindir Ana.


Perkataan Ana cukup menampar perasaan Regan, terbukti Regan langsung mundur dan meninggalkan Ana sendiri tanpa berkata apa apa.


Regan sadar betul kalau pernikahan ini sebenarnya adalah ajang balas dendamnya bukan ajang cinta cintaan seperti sekarang.

__ADS_1


🥫🥫🥫🥫🥫🥫🥫🥫🥫🥫


__ADS_2