Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 41


__ADS_3

"ah.. iya.. aku lumayan sibuk hari ini sampai tidak sadar kalau sudah siang!" sahut Regan beralasan dan langsung pura pura sibuk dengan semua berkas yang menumpuk di atas mejanya.


Sementara Ana mengeluarkan semua makanan yang dibawanya dan di tata di atas meja seperti biasanya.


"kau masak apa hari ini??" tanya Regan yang langsung pindah duduk di samping Ana.


"semua makanan kesukaan mu, ada ayam goreng, tumis jamur dan tempe goreng seperti biasanya!" jawab Ana sambil menunjukkan semua makanan yang disebutnya pada Regan.


Regan tersenyum lebar melihat semua makanan itu apalagi aromanya yang wangi sungguh menggugah seleranya dan perutnya jadi lapar sekarang.


Ana sungguh pintar membuat suasana hati Regan menjadi senang seketika padahal yang dilakukan nya hanyalah sesuatu yang sederhana, makanan yang dibawa pun bukan makanan mewah tapi cukup membuat hati Regan tersentuh.


Meski pernikahan mereka hanyalah perjanjian di atas kertas tapi belakangan ini Ana mulai memperlakukan Regan dengan baik bahkan Ana menjalankan segala tugasnya sebagai istri dengan sangat baik.


Lambat laun, hati Regan mulai tersentuh bahkan dia bisa sedikit mengabaikan pikirannya terhadap Tia, mantan kekasihnya yang susah membuatnya move on.


"mau makan sendiri apa di suapi?" tanya Ana yang sukses membuyarkan lamunan Regan.


"suapi dong!" jawab Regan dengan cepat.


Lalu Ana mulai melakukan ritual menyuapinya dan itu dilakukannya setiap hari tanpa libur.


"apa tangan mu sudah baikan?" tanya Ana sambil melirik sekilas tangan Regan.


Regan langsung menyembunyikan tangannya karena tangan itulah yang tadinya di gunakan untuk memukul wajah Bara, kakak dari istrinya tersebut.


"sudah tidak apa apa kok!" jawab Regan berusaha bersikap wajar di hadapan Ana.


"syukur lah! tapi tetap harus di olesi obat karena sepertinya masih bengkak!" kata Ana lagi dengan penuh perhatian.


jelas saja bengkak, tadi kan abis nonjok wajah kakakmu yang menyebalkan itu! kata Regan di dalam hatinya.


"iya.. nanti biar aku olesi sendiri!" sahut Regan.


"kalau sudah tidak ada apa apa lagi, aku mau langsung pulang!" kata Ana seraya membereskan rantang makanannya.


"Jay akan mengantar mu pulang!" kata Regan.


"aku bisa naik taksi sendiri kok!" tolak Ana.


"jangan membantah!" ujar Regan tak ingin dibantah.


"oke!" kata Ana singkat karena dia lagi malas untuk berdebat.


"hati hati di jalan ya! jangan lupa untuk memasak makan malam ku!" pesan Regan sebelum Ana keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"mana mungkin lupa!" sahut Ana setengah mencibir.


Ingin rasanya Regan terkekeh saat itu juga tapi harus di tahannya karena dia tetap harus jaga image di hadapan Ana demi predikat 'pria kejam' yang di milikinya.


"Jay!" panggil Regan dan Jay langsung datang menghadap.


"iya Tuan!" jawab Jay.


"antar Nona Muda pulang! hati hati saat berkendara karena yang kau bawa adalah harta milik Tuan Muda!" pesan Regan pada Jay.


apa?? harta?? apa dia pikir aku emas permata?? enak saja menyamakan aku dengan barang! gerutu Ana di dalam hatinya.


"baik Tuan!" sahut Jay dengan patuh.


"mari Nona!" kata Jay dan Ana pun berjalan terlebih dahulu.


Dan seperti biasa seluruh keamanan di gedung itu langsung heboh ketika Ana hendak masuk ke dalam lift, mereka seolah sedang menjaga sebuah benda yang mudah pecah dan memperlakukannya dengan sangat hati hati.


Hati Ana sungguh sebal karena dia pikir, mereka semua terlalu berlebihan, tanpa pengamanan ekstra pun sudah pasti gedung ini aman dari marabahaya mengingat betapa ketatnya penjagaan di seluruh sudut.


"Jay!" panggil Ana.


"iya Nona Muda? ada apa?" sahut Jay lalu bertanya balik pada Ana.


"maaf Nona Muda.. kami hanya menjalankan perintah langsung dari Tuan Muda Regan!" sahut Jay.


"uh!" Ana hanya bisa melengos kesal.


*********


"auw!" lenguh Bara ketika Suster Ayu mengobati lukanya.


"maaf Tuan!" kata Suster Ayu lalu memelankan gerakan tangannya agar Tuan nya tidak kesakitan.


"apa perlu saya menelpon Nona Ana?" tanya Suster Ayu.


"tidak usah!" jawab Bara dengan cepat.


"tapi dia harus tahu dengan apa yang terjadi antara anda dan suaminya!" kata Suster Ayu lagi.


"belum saatnya dia tahu.. nanti setelah urusan ku benar benar selesai dengan Regan maka aku akan menceritakannya sendiri!" ujar Bara.


"oh begitu! terserah anda saja kalau begitu!" sahut Suster Ayu pasrah.


"sebaiknya anda istirahat, saya akan membuatkan bubur supaya makannya lebih enak!" ujar Suster Ayu lagi.

__ADS_1


"aku tidak mau makan bubur lagi!" tolak Bara.


"anda yakin bisa makan makanan kasar dengan kondisi seperti ini??" tanya Suster Ayu kurang yakin jika melihat kondisi wajah Bara yang sedikit bengkak.


"ini hanya luka kecil! tidak akan membuatku kesakitan meski makan biji salak!" sahut Bara setengah bercanda lalu terkekeh.


Mau tidak mau Suster Ayu juga ikut ikutan terkekeh.


"apa anda yakin mau makan biji salak??" balas Suster Ayu yang semakin terkekeh.


"apa kau tega memberi makan pasien dengan menu biji salak??" sahut Bara.


"saya hanya melakukan sesuai permintaan pasien!" jawab Suster Ayu.


"tapi aku tidak minta menu biji salak!" ujar Bara dengan wajah manyun.



Suster Ayu lalu tertawa ringan,


"baiklah baiklah.. sebaiknya anda istirahat sekarang supaya memarnya cepat hilang! jangan sampai ketika Nona Ana datang, memarnya masih ada, dia bisa curiga nanti!" kata Suster Ayu memperingatkan.


"terimakasih Suster!" sahut Bara dengan nada formal, jarang jarang Bara menyebut kata Suster untuk Suster Ayu.


"sama sama Tuan!" balas Suster Ayu agak tersipu.


Setelah membantu Bara berbaring, Suster Ayu langsung keluar dari kamar itu.


"huh!" Suster Ayu menghela nafas panjang sambil. memegangi dadanya sendiri.


huft.. kenapa jantung ku berdebar debar begini?? parah Ayu.. Ayu.. wake up girls!!! gerutunya didalam hati berusaha menyadarkan dirinya sendiri dari kehaluan yang fana.


"sadar Yu... kau datang kemari untuk bekerja bukan untuk terlibat perasaan dengan majikan mu itu!! lagipula siapa lah dirimu ini?? dia tidak akan mau membuang buang waktunya hanya untuk orang seperti kamu!" omel Suster Ayu kepada dirinya sendiri.


Suster Ayu pun kembali ke dapur dan menyibukkan dirinya dengan memasak untuk makan siang Tuannya.


Entah kenapa suasana hati Suster Ayu hari ini sangat baik, dia bahkan sampai bernyanyi kecil saat memasak dan sesekali tersenyum kecil tidak jelas pada dirinya sendiri.


Bekerja dengan suasana hati yang baik membuat waktu berjalan dengan begitu cepat, semua pekerjaannya selesai lebih awal dan Suster Ayu pun bisa bersantai sambil menunggu waktu makan siang Tuannya tiba.


Karena masih lama dari waktu jam makan siang, akhirnya Suster Ayu memutuskan untuk rebahan di depan TV sambil nonton FTV kesukaannya.


Tanpa terasa, Suster Ayu akhirnya tertidur, mungkin karena sedikit lelah dan suasana yang nyaman membuatnya jadi mengantuk.


🚨🚨🚨🚨🚨🚨🚨🚨🚨

__ADS_1


__ADS_2