
Dengan wajah merengut, Ana berusaha menikmati makanan aneh di hadapannya, apa namanya tadi?? salad?? Ana benar benar merasa seperti kambing, makan sayuran mentah yang di siram krim putih entah apa rasanya.
Setelah berhasil menghabiskan separuhnya, Ana menenggak minuman merah dengan sekali teguk membuat Regan langsung ternganga.
"apa kau terbiasa minum minuman beralkohol??" tanya Regan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"hah??" Ana langsung melongo.
"apa kau tahu minuman apa yang kau minum barusan??" tanya Regan yang agak aneh dengan ekspresi wajah Ana.
Ana menggelengkan kepalanya.
"astaga!" Regan memutar bolanya matanya, jengah.
Pantas saja dia langsung menenggaknya sampai habis, mungkin dia pikir itu sirup marj*an rasa kelapa muda.
Wajah Ana mulai merona dan agak lunglai, sepertinya red wine sudah beraksi di dalam tubuhnya, reaksi yang sangat cepat dan Regan yakin bahwa ini pasti yang pertama kalinya bagi Ana minum red wine.
Tak lama kemudian, Ana mulai meracau tidak jelas dan tertawa sendiri.
"haha...!" gelak nya membuat Regan yakin bahwa Ana benar benar mabuk sekarang.
"kenapa kau tertawa seperti itu?? apa ada yang lucu??" tanya Regan sengaja memancing kesadaran Ana.
"haha.. kau lucu!" sahutnya masih tergelak dengan begitu lepasnya.
"lucu??" Regan mulai mendapatkan ide.
"iya lucu!! apalagi??" sahut Ana.
"hanya lucu saja?? tampan juga kan??" pancing Regan, karena biasanya orang mabuk pasti akan jujur saat di tanya atau saat meracau.
"haha.. dasar narsis!! untung saja kau memang tampan!! tapi sayang...!!" Ana menggantung kalimatnya karena sepertinya dia ingin muntah.
"huek...!!" Ana ingin muntah namun urung.
"jangan muntah disini, ke toilet sana!" titah Regan.
Ana pun langsung bangkit dan berjalan dengan sempoyongan menuju wastafel yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
Ana berusaha memuntahkan isi perutnya namun tidak ada yang bisa di keluarkan nya, Regan kasihan melihat Ana, dia langsung menghampiri dan memijat tengkuk Ana.
"apa kau pusing??" tanya Regan.
Ana mendongak dan menggeleng dengan tatapan lemah.
Setelah merasa lebih baik, Ana kembali duduk di tempatnya dan di susul oleh Regan.
__ADS_1
"apa katamu tadi?? aku tampan tapi sayangnya kenapa??" Regan masih penasaran dengan kalimat Ana yang di gantung oleh Ana tadi.
"hem.. ganteng sih tapi sayang...!!!!" lagi lagi Ana menggantung kalimatnya membuat Regan semakin gemas karena penasaran.
"tapi sayang... galak!!" lanjut Ana namun nadanya mulai berbisik lalu Ana terbahak.
Raut wajah Regan langsung masam namun sedetik kemudian dia ikut tertawa, Regan mengingat betapa kejam dan kasarnya dia pada Ana namun yang wanita itu ingat hanyalah kata GALAK.
Dia bahkan tidak mengatakan kalau Regan jahat.
"selain galak.. kau juga cerewet, banyak hal yang kau suruh kan padaku!! padahal di rumah mu banyak pembantu dan bodyguard, seharusnya kau merepotkan mereka bukannya aku!? aku kan istrimu!!" omel Ana.
"bukannya sudah menjadi kewajiban mu untuk melayani segala kebutuhan ku??" sahut Regan.
Tanpa sungkan, Ana menyambar gelas milik Regan dan langsung meneguk Red Wine bagian suaminya tersebut.
"argh.. pahit tapi enak!!" kata Ana setelah menenggak habis red wine milik Regan yang belum sempat di minumnya.
Regan tersenyum melihat kelakuan Ana, inilah dia sifat asli Ana.
"mau lagi?" Regan menawari.
"emang boleh?? minuman apa sih ini?? pahit dan panas di tenggorokan!" sahut Ana.
"boleh...tapi jangan banyak banyak ya!" kata Regan lalu mengisi gelas Ana dengan red wine dan Ana langsung meneguknya kembali hingga tandas.
Terpaksa Regan harus menggendongnya sampai ke mobil dan tanpa malu Ana langsung melingkarkan tangannya di leher Regan.
"jangan sampai jatuh ya!" kata Ana lalu menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang milik Regan.
Hal yang paling tidak mungkin Ana lakukan, kini dia lakukan walau karena dalam pengaruh alkohol.
Dan cup...
Tiba tiba Ana mengecup pipi Regan sekilas membuat sang empunya pipi langsung tegang karena terkejut.
Regan melotot dan Ana langsung mengusap pipinya.
"itu hadiah karena kau sudah berbaik hati mau menggendong ku!" kata Ana dengan nada polosnya.
Regan masih tak mampu membalas ucapan Ana, dia masih speechless dengan apa yang Ana lakukan barusan.
Ada perasaan hangat yang menjalar di tubuh Regan, perasaan nyaman dengan kedekatannya yang intens bersama istrinya, istri yang dipaksa untuk menikahinya.
Selama perjalanan pulang, Ana terus saja menempel pada Regan bahkan dia mengendus leher Regan beberapa kali membuat birahi Regan bangkit.
Sebagai pria dewasa yang normal, tentu saja Regan merasa tergoda, penampilan Ana yang luar biasa cantik malam ini dan sifatnya yang manja selama mabuk membuat Regan ingin menerkamnya.
__ADS_1
Regan mulai hilang akal sehatnya, dia menarik pembatas antara sopir dan penumpang agar menghalangi pandangan sang sopir lalu Regan meraup bibir Ana dengan rakus.
Dalam keadaan setengah tidak sadar Ana membalas ciuman Regan dan mereka akhirnya berciuman dengan begitu mesra.
Tangan Regan mulai tak terkendali, dia mulai berani meraba raba tubuh Ana, Regan yakin jika Ana dalam keadaan sadar, dia pasti sudah di tampar oleh wanita itu.
Hal itu membuat Regan sadar dan segera melepas tautan bibirnya dengan Ana bahkan Regan menjauhkan tubuh Ana dari dirinya.
"kenapa?" lirih Ana karena Regan tiba tiba menghentikan aksinya.
"kenapa katamu?? kalau kau sadar, kau pasti sudah menampar dan memaki ku!!" sungut Regan yang terpaksa menahan hasratnya yang telah bergejolak hebat.
"kenapa aku harus menampar mu?? bukannya sudah menjadi kewajiban ku untuk melayani mu??" racau Ana.
"apa?? apa kau tidak akan menyesalinya??" Regan mengernyitkan keningnya.
"menyesal?? kau benar benar suami ku kan??" kata Ana lagi, pandangannya mulai berkabut antara ingin terpejam namun di paksa terus terbuka.
Regan mengangguk pelan.
Ana langsung tersenyum lalu mencodongkan wajahnya kembali agar Regan leluasa menciumnya.
"jangan menyesal karena telah menyerahkan dirimu padaku!" kata Regan lalu menyambar bibir Ana dengan buasnya.
Mereka berciuman kembali dan kini ciuman itu begitu panas serta menuntut,
Sampai di rumah, Regan melepas sejenak ciumannya dan langsung membawa Ana ke kamar mereka.
Regan melanjutkan kembali aksinya dan Ana terlihat pasrah menikmati segala perlakuan Regan.
"apa kau mencintai ku??" tiba tiba Regan bertanya dengan konyolnya di sela sela kegiatan panas mereka.
"tidak!" jawab Ana dengan mata sedikit terpejam.
"lalu kenapa kau mau melakukan ini dengan ku??" tanya Regan agak kesal tapi masih penasaran.
"karena kau suamiku!" jawabnya.
"kau sendiri.. apa kau mencintaiku?? mengingat alasan mu menikahi ku karena dendam pasti kau sangat membenci ku!!" omel Ana.
Regan terhenyak mendengar racauan Ana.
Memang benar adanya, Regan menikahi Ana karena dendam, dendam yang seharusnya dia lampiaskan pada kakak dari wanita tersebut.
Regan bangkit, dia sudah tidak bernafsu lagi melanjutkan kegiatannya padahal tubuh mereka sudah hampir polos tanpa busana sementara Ana langsung terlelap dalam tidurnya.
Regan menutupi tubuh Ana dengan selimut, entah apa yang akan terjadi besok setelah Ana melihat tubuhnya setengah telanjang dengan tanda merah bertebaran dimana mana.
__ADS_1
📀📀📀📀📀📀📀📀📀