
Ana sempat tertegun karena Regan meminta maaf terlebih dulu padanya.
"iya!" sahut Ana pelan.
"apa?? aku tidak dengar!" kata Regan setengah menggoda Ana.
"iyaaaaaaa!" sahut Ana dengan nada geram.
"ikhlas kan?" goda Regan lagi.
"cerewet!" ketus Ana lalu berlalu ke dapur untuk meletakkan piring bekas makan Regan.
Regan terkekeh, wajahnya kembali sumringah.
Ya Tuhan.. kenapa aku sesenang ini melihatnya seperti itu dan mau memaafkan aku?? batin Regan bertanya tanya.
"kalau kau sudah baik baik saja, aku akan mengantar mu ke rumah sakit sekarang!" kata Regan lagi.
Ana yang sedang mencuci tangannya, merasa senang bukan main namun dia berusaha untuk tidak lepas kendali di hadapan Regan.
Setidaknya Ana harus menjaga image nya agar tidak di remehkan dan di anggap lemah oleh Regan.
"bagaimana??" tanya Regan lagi karena Ana tidak menjawab pertanyaannya.
"apa kau tidak kembali ke kantor lagi?" sahut Ana balik bertanya.
"aku bisa kembali kapan saja aku mau!" jawab Regan dengan santainya.
"bukannya kau tidak mau memberi contoh yang tidak baik pada bawahan mu?? bagaimana kalau mereka tahu kau tidak di kantor saat jam kerja??" balas Ana.
"ada Jay yang bakal mengatur semuanya jadi kau tidak usah ikut memikirkannya!" sahut Regan.
"baiklah kalau begitu.. aku ganti baju dulu!" ujar Ana yang berusaha menahan senyum di bibirnya.
"kalau mau senyum ya senyum saja, jangan di tahan!" goda Regan yang sepertinya sadar kalau Ana sedang menahan senyumnya sejak tadi.
"ish apaan sih!" seru Ana yang langsung berlalu ke kamarnya dan di dalam kamar Ana baru bisa jingkrak jingkrak kegirangan seperti anak yang baru dapat mainan baru.
Tak butuh waktu lama bagi Ana untuk mengganti pakaian dan memoles sedikit wajahnya yang memang cantik jelita.
"aku sudah siap!" kata Ana pada Regan yang tampak menunggunya sambil membaca koran di ruang tamu.
Regan menoleh pada Ana dan merasa takjub untuk yang kesekian kalinya pada kecantikan Ana,
"kita berangkat sekarang??" ucap Ana yang berusaha membuyarkan lamunan Regan karena sedari tadi Regan menatapnya tanpa berkedip.
__ADS_1
"eh.. iya iya!! ayo!" sahut Regan agak salah tingkah karena sepertinya Ana menyadari kalau dirinya sempat terpana pada wajah cantik Ana.
"kau menyetir sendiri?? kemana Jay??" tanya Ana yang melihat Regan duduk di belakang kemudinya.
"Jay kan aku suruh mengurus perusahaan selama aku tidak ada!" sahut Regan seadanya.
"ah iya.. aku lupa!" sahut Ana mengiyakan.
"pakai sabuk pengaman mu!" kata Regan mengingatkan.
"iya!" sahut Ana sambil menarik sabun pengamannya namun sayang sabuk itu sepertinya macet dan Ana agak kesusahan saat ingin memakainya.
Regan bisa melihat kalau Ana tengah kesusahan menarik sabuk pengaman itu.
"sini biar aku bantu!" kata Regan menawarkan diri untuk membantu.
Regan langsung mengambil alih dan membantu Ana untuk menarik sabuk pengamannya, kini jarak wajah mereka sangat dekat bahkan Ana bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Regan yang menguar begitu kuat di indera penciumannya.
Entah mengapa posisi yang seperti itu tiba tiba membuat jantung Ana berdebar lebih cepat dari biasanya begitu pula dengan Regan yang sama berdebar nya dengan Ana.
Posisi itu hanya bertahan beberapa saat saja karena Regan segera menjauhkan dirinya dari Ana, Regan tidak ingin Ana tahu betapa berdebar nya jantung Regan saat ini.
Begitu pula dengan Ana, dia malah bersyukur karena Regan segera menjauh, dengan begitu Ana bisa menyembunyikan debaran jantungnya yang mulai tidak menentu.
gila.. jantung ku kenapa berdebar seperti ini sih?? Ana.. ingat.. dia hanya suami sementara untukmu!! ingat juga dengan tujuan awalnya menikahi mu! kata Ana mengingat dirinya sendiri.
Sesampainya di rumah sakit pun, Ana tidak banyak mengeluarkan lisan karena dia memang tidak tahu harus berbicara apa pada Regan.
"kakak!" seru Ana setelah masuk ke dalam ruang VIP tempat kakaknya di rawat.
Bara yang melihat kedatangan Ana pun langsung senang bukan main, terpancar jelas raut wajah bahagianya namun wajahnya kembali cemberut ketika melihat siapa yang datang bersama dengan Ana.
Dia adalah Regan, musuhnya!
"bagaimana keadaan mu kak??" tanya Ana.
"tadinya setelah melihatmu, keadaan ku sepertinya semakin baik tapi setelah melihat dia, rasanya hatiku sakit lagi!" sahut Bara yang dengan sengaja menyindir Regan.
"kakak!" Ana menyikut Bara agar tidak berkata sembarangan.
Karena bisa gawat keadaannya kalau sampai suasana hati Regan memburuk.
"kenapa?? memang kenyataannya begitu kok!" ketus Bara sambil melirik sinis ke arah Regan.
Regan benar benar harus menahan diri meski hatinya kesal pada sikap Bara, kesabarannya ini semata hanya untuk memenangkan hati Ana.
"kakak!" tegur Ana lebih tegas lagi pada kakaknya.
__ADS_1
"apalagi sih Ana?? kenapa kau malah membelanya??" sahut Bara agak kesal pada adiknya itu.
"aku tidak membela siapa siapa kak!! hanya saja.. mari lah kita saling menghormati satu sama lain agar tidak ada keributan lagi!" ujar Ana.
"ini semua terjadi memang karena dia!" ujar Bara sambil menunjuk Regan yang terlihat tenang.
Ana malah takut melihat ekspresi Regan yang begitu tenang tanpa bicara, baginya lebih baik Regan mengelak dan banyak bicara.
"kak.. tolong hentikan!! karena bagaimana pun juga, orang yang kau sindir itu adalah suamiku sekarang!" kata Ana berusaha menegaskan pada kakaknya.
Hati Regan langsung berubah menjadi taman berbunga tatkala mendengar ucapan Ana yang mengakui dirinya sebagai suami.
Ternyata diam banyak mendatangkan manfaat, sepertinya mulai sekarang Regan akan lebih banyak diam agar bisa mendapatkan simpati Ana lebih dalam lagi.
"kak.. aku mohon! kedatangan ku kemari untuk menjenguk mu bukan untuk berdebat!" kata Ana lagi.
"iya.. iya! tapi bisakah kita bicara hanya berdua saja tanpa orang lain??" lagi lagi Bara menyindir Regan.
Regan tetap diam.
Ana tampak melirik Regan, berharap Regan mau mengerti dengan permintaan Bara barusan.
Dan Regan pun mengerti serta sadar diri, dia akhirnya keluar tanpa Ana suruh.
Bara senang melihat Regan keluar dari kamarnya.
"bagaimana keadaan mu?? apa dia memperlakukan mu dengan baik??" tanya Bara setelah Regan pergi.
"aku baik baik saja kak! dan dia tidak seburuk yang kau pikirkan!" jawab Ana.
"lalu kenapa dengan bibirmu??" tanya Bara yang mulai menyadari kalau bibir Ana terluka.
"oh.. ini.. ini karena kecerobohan ku sendiri!" sahut Ana berusaha menutupi bibirnya yang terluka.
"benarkah?? kau tidak sedang membelanya kan??" Bara masih tidak percaya dengan jawaban Ana.
"iya kak.. bibirku tidak sengaja mencium pintu kamar mandi sampai akhirnya terluka seperti ini!" kata Ana berbohong karena tidak mungkin baginya untuk mengatakan yang sebenarnya pada Bara sekarang.
"kau ini memang selalu ceroboh dari dulu!" gerutu Bara sambil menjitak pelan kepala Ana.
"bagaimana dengan keadaan kakak sendiri?? sepertinya kakak jauh lebih baik sekarang!" ujar Ana.
"iya alhamdulillah... dan aku ingin segera keluar dari rumah sakit ini!" kata Bara.
"nanti biar aku tanyakan pada dokter yang merawat mu ya!" sahut Ana senang.
🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊
__ADS_1