Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 35


__ADS_3

Setelah Ana berkonsultasi dengan dokter yang merawat kakaknya, Bara, Ana akhirnya bisa membawa Bara pulang ke rumah dengan catatan menyelesaikan segala rangkaian pemeriksaan untuk memastikan keadaan Bara benar benar sehat.


Karena seperti yang di ketahui, Bara sempat koma beberapa waktu yang membuat sistem di tubuhnya belum berfungsi secara normal dan baik.


"kita pulang ke rumah kita ya!" kata Bara dengan wajah senang.


Ana juga terlihat sangat senang.


"dan kau harus kembali tinggal bersama ku!" kata Bara lagi sambil melirik Regan yang berdiri mematung di sebelah Ana.


"tidak bisa!" sahut Regan dengan cepat.


"kenapa tidak bisa?? dia kan adikku!" sungut Bara yang langsung memasang wajah kesal pada Regan.


"karena keadaannya sudah berbeda sekarang, Ana sudah menikah dan sudah sepatutnya dia tinggal bersama suaminya!" ujar Regan.


"suami? suami macam apa yang menikahinya secara paksa?? apa kau yakin sudah memperlakukannya sebagai istri dengan benar?" cibir Bara.


"benar atau tidaknya, itu bukan urusan mu!! yang penting aku dan Ana sudah terikat dalam ikatan suci yang sah sementara kau tidak bisa mengganggu kehidupan pernikahan kami meski kau adalah kakak kandungnya!" balas Regan.


"apa kau mencintainya?? tidak kan??" sentak Bara.


"apa pentingnya aku memberitahu mu tentang perasaan ku padanya hah??" sungut Regan membalas.


Ana hanya bisa mendengarkan perdebatan antara kakak dan suaminya itu, dia masih tidak tahu harus bagaimana, semacam ada perasaan di lema di hati Ana.


Di satu sisi dia bahagia karena akhirnya kakaknya bisa pulang ke rumah, di satu sisi lagi Ana bersedih karena di hatinya ada perasaan semacam tak rela untuk berpisah dengan Regan.


"sebaiknya kita tanya Ana saja, dia mau tinggal bersama mu atau dengan ku!" ketus Bara.


"oke!" sahut Regan yang meski di dalam hatinya ragu pada pilihan Ana nantinya, dia yakin Ana pasti lebih memilih tinggal bersama kakaknya ketimbang bersama dirinya yang sudah kejam selama ini pada Ana.


"Ana.. kau akan tinggal bersama dengan kakak lagi kan?? seperti dulu??" tanya Bara berusaha membujuk Ana.


Ana tampak semakin di lema dengan dua pilihan yang menurutnya sulit.


Regan yang memiliki gengsi besar, tidak berkata apa apa untuk membujuk Ana, dia hanya melempar tatapan aneh kepada istrinya tersebut membuat Ana semakin tidak bisa menentukan pilihannya.


Diam diam Regan mengirimi Jay pesan untuk membereskan sesuatu, entah masalah apa itu.


Ana masih terdiam karena ragu.


"Ana.. cepat katakan!" desak Bara.


"aku....em!" sahut Ana sambil menatap ragu ke arah Regan.

__ADS_1


ck.. kau bahkan tidak berusaha untuk menahan ku agar tetap tinggal bersama mu... Regan! dasar payah!!! omel Ana di dalam hatinya.


Ayo Ana.. jangan pilih dia... kau itu istriku dan sudah seharusnya kau tinggal bersama ku! batin Regan pun berdoa penuh harap pada keputusan Ana.


"em.. karena kakak masih harus di pantau masalah kesehatannya, apakah boleh aku tinggal bersama kakakku??" kata Ana dengan sangat hati hati pada Regan.


"yes!" seru Bara senang.


Sementara Regan merasa hatinya sakit bagai di tusuk ribuan jarum, ternyata Ana lebih memilih untuk tinggal bersama kakaknya ketimbang dengan dirinya.


"kalau alasan mu hanya kesehatan Bara, aku bisa menyewakan perawat untuknya!" sahut Regan masih berusaha menahan Ana dengan caranya.


kenapa kau tidak menahan ku sih?? batin Ana berharap Regan menahannya untuk tinggal.


"sepertinya di rawat adik sendiri jauh lebih baik daripada di rawat oleh orang lain!" sela Bara.


"tapi adikmu itu sudah menikah dan dia punya kewajiban untuk merawat suaminya!" sentak Regan mulai geram pada kelakuan Bara.


"lagi lagi kau menyebut kata suami, apa kalian sudah menjadi pasangan yang sesungguhnya?? bukannya kau menikahinya hanya untuk balas dendam??" cibir Bara dengan begitu sinis nya.


"sudah berapa kali aku katakan, urusan pernikahan dan lainnya hanya akan menjadi urusan ku dengan Ana saja!" ujar Regan dengan penuh penekanan.


"sudah cukup!! hentikan perdebatan kalian karena tidak akan menemukan titik akhir yang baik!!" teriak Ana berusaha melerai kakak dan suaminya.


Regan tampak pasrah dan putus asa setelah mendengar keputusan Ana yang lebih memilih tinggal bersama kakak kandungnya itu.


"lalu bagaimana dengan aku??" protes Regan.


"di rumahmu ada puluhan maid bahkan Mimin sudah ku ajari cara membuat menu makanan kesukaan mu!" sahut Ana dengan berat hati.


"sementara di rumah, kakakku hanya sendirian, tidak ada siapapun yang bisa menemani dan membantunya!" tambah Ana memberikan alasan yang tepat agar Regan bisa mengizinkannya.


"apa Mimin juga tahu cara menyuapiku?" seru Regan tidak memikirkan rasa malunya lagi meski ada Bara di sana.


Ana sampai celingukan karena salah tingkah, kakaknya bahkan tidak tahu tentang masalah itu dan sekarang Regan mengatakannya secara gamblang di hadapan Bara.


"apa??? menyuapi?? hei bung!!! apa kau bayi??" sindir Bara dengan sinis.


Ana mendekati Regan dan mengajaknya bicara agak jauh dari Bara.


"kau kan masih bisa makan sendiri!!" bisik Ana.


"tidak selera!" jawab Regan dengan acuh.


"hanya untuk sementara saja kok!" bujuk Ana lagi.

__ADS_1


"kalau begitu ajari juga Mimin bagaimana cara menyuapi dengan benar!" kata Regan lagi.


"apa kau yakin mau di suapi wanita lain selain istrimu sendiri?!" seru Ana yang mulai merasa jengah dengan sikap Regan yang agak kekanakan.


"jika terpaksa!" sahut Regan dengan santainya.


"apa kau tidak memikirkan perasaan ku??" sungut Ana dengan wajah kesal.


"apa kau cemburu??" tuduh Regan kegirangan melihat wajah Ana yang kesal.


"apa kau sudah gila?? cemburu?? jangan mimpi!" balas Ana menolak di tuduh cemburu padahal di dalam hatinya memang tidak rela Regan di suapi oleh wanita lain.


Ana sampai membayangkan bagaimana tangan Mimin menyuapi Regan saat makan dan tidak sengaja menyentuh bibir suaminya itu, hati Ana langsung memanas karena terbakar api cemburu.


"ya sudah, tolong ajari Mimin ya!" kata Regan lagi setengah menggoda Ana.


"tidak mau!" ketus Ana.


"kalau tidak mau, apa kau tega melihat ku kelaparan karena tidak bisa makan??" ujar Regan.


Ana sampai berpikir keras sambil bersedekap dada saking kesalnya pada Regan.


"kenapa diam?? lalu bagaimana??" tanya Regan lagi.


"argh!! ya sudah, sewakan perawat saja untuk kakakku!" akhirnya Ana memutuskan kembali.


Yes.....!!!! hati Regan bersorak kegirangan.


"apa?? kenapa kau berubah pikiran secepat itu Ana??" protes Bara yang mendengar ucapan Ana barusan.


"baiklah... aku akan menyewa perawat terbaik dari rumah sakit ini untuk kakakmu itu!" sahut Regan dengan cepat.


Ana hanya bisa diam, tidak tahu harus menanggapi kakaknya seperti apalagi.


Dan Regan pun secara diam diam kembali mengirimi Jay pesan,


Jay.. masalah yang tadi batalkan saja!


Jay yang menerima pesan itu langsung uring uringan karena Regan dengan sesuka hatinya membatalkan begitu saja.


ya Tuhan!! apa kelakuan bos selalu seperti itu?? seenak jidatnya main suruh lalu batalkan?? dia pikir urusan jual beli rumah itu gampang?? Jay menangisi dirinya sendiri.


Ternyata, tadinya Regan menyuruh Jay untuk membeli rumah yang akan di tinggali Bara dan Ana, tujuannya agar Bara dan Ana bisa tinggal di mansion nya karena tidak punya rumah lagi.


🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀

__ADS_1


__ADS_2