Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 37


__ADS_3

Saat tengah bersantai di rumah, muncul ide di otak Regan untuk menggoda Ana yang sedang sibuk menyiapkan makan malam.


"kau masak apa Min?" tanya Regan yang tiba tiba mendekati Mimin yang sedang sibuk membantu Ana memasak.


Ana yang melihat Regan dekat dekat dengan Mimin pun jadi risih melihatnya, tapi dia tidak bisa menegur langsung karena gengsi.


Alhasil, Ana hanya bisa menatap dengan kesal dan Regan tahu kalau Ana sedang kesal karenanya.


"eh.. Tuan.. bukan saya yang masak tapi Nona Muda!" sahut Mimin dengan takut takut.


"kenapa ekspresi wajah mu seperti itu?? apa kau takut padaku??" seru Regan yang melihat Mimin menjauh untuk menjaga jarak darinya.


Selain takut pada Regan, Mimin juga takut melihat ekspresi wajah Ana yang tampak gusar, sepertinya Nona Mudanya itu tidak suka melihat suaminya berdekatan dengan wanita lain.


Karena Mimin berusaha menjauh, Regan kembali mendekati Mimin dan hal itu berhasil membuat Ana menampakkan wajah kesal nya.


"i..iya Tuan.. sa... saya takut!" sahut Mimin agak tergagap.


"takut padaku?" tanya Regan lagi.


"iya Tuan... saya takut di pecat seperti waktu itu!" sahut Mimin lalu menundukkan kepalanya.


Entah ekspresi apa yang di perlihatkan Ana sekarang, yang jelas sedari tadi Ana menjatuhkan sendok, pisau dan garpu secara bergantian sehingga menimbulkan suara yang gaduh.


Regan senang bukan main di dalam hatinya, dia beranggapan bahwa Ana pasti sedang cemburu padanya.


"kenapa kau ceroboh sekali?? semuanya jatuh secara bergantian! apa kau sengaja??" tegur Regan.


"maaf.. tanganku berkeringat jadinya licin!" sahut Ana dengan nada ketus.


"tumben berkeringat?? apa kau sakit??" tanya Regan.


"tidak!" ketus Ana.


"kalau tidak enak badan, sebaiknya kau istirahat saja biar Mimin yang melayani ku!! bukan kah dia sudah kau ajari memasak menu kesukaan ku!" ujar Regan dengan santainya.


"Mimin masih belum mahir!" Ana kembali menyahut dengan ketus.


"tapi kan bisa walau tidak mahir!" balas Regan.


Ana yang sudah tidak sabar langsung membanting pisau ke talenan membuat sayur mayur yang di potongnya jadi berantakan.


"kalau kau mau Mimin yang masak, tinggal bilang saja langsung!!" sungut Ana.


"eh.. kenapa tiba tiba kau marah?? aku kan hanya memberi saran saja supaya kau tidak tambah sakit!" seru Regan.


"terserah!" sentak Ana lalu bergegas naik ke kamar dengan perasaan kesal.


Regan lalu terkekeh geli melihat Ana berjalan sambil menendang nendang tidak jelas, Mimin yang melihat Tuannya cengar cengir sendiri malah merasa aneh sendiri.


Kemudian Regan melirik Mimin dan ekspresinya kembali menjadi kaku seperti biasanya membuat Mimin langsung menunduk dan bergidik ngeri.


Nah lho.. kenapa tiba tiba wajahnya jadi menyeramkan lagi?? barusan saja cengar cengir tidak jelas!


"lanjutkan pekerjaanmu!" tegas Regan lalu pergi menyusul Ana.


Sementara Mimin melanjutkan kembali pekerjaan yang Ana tinggalkan begitu saja.

__ADS_1


*********


"aduh.. perutku sakit!! aku kelaparan!" Regan pura pura merintih untuk menyindir Ana yang sedang menyembunyikan kepalanya di bawah bantal.


Ana tidak bergeming.


"ya Tuhan.. perut ku perih sekali!" rintih Regan lagi berharap Ana mau keluar dari bantal tempat persembunyiannya.


Ana tetap tidak peduli.


Sepertinya Regan harus mencoba cara yang lebih ekstrim lagi untuk menarik perhatian Ana.


Dan Brak....


Regan terjatuh ke lantai.


Dia pura pura pingsan.


Awalnya Ana tidak peduli tapi kemudian suasana sunyi,


kemana dia?? kenapa tiba tiba sepi?? batin Ana penasaran.


Karena tetap sunyi, akhirnya Ana keluar dari persembunyiannya dan celingukan mencari cari keberadaan Regan.


Namun dia tidak mendapati Regan dimana pun, padahal barusan saja dia mendengar suaranya dekat disini.


Karena masih penasaran, Ana memutuskan untuk bangun dan mencari keberadaan Regan tapi saat kakinya turun dari ranjang, hal pertama yang di pijaknya bukan lah lantai seperti biasanya melainkan sesuatu yang empuk dan hangat.


Ana sampai kaget dan langsung reflek menarik kakinya ke atas ranjang lagi,


Ana lalu menoleh ke bawah dan betapa terkejutnya dia melihat Regan tergeletak dibawah.


"Ya Allah.. Tuan!" seru Ana sambil menghampiri Regan yang sepertinya pingsan.


"Tuan.. Tuan!! kau kenapa??" seru Ana mulai panik.


Ana sampai menepuk nepuk pipi Regan dengan agak keras berharap Regan bisa sadar kembali.


Lalu Ana berusaha membopong tubuh Regan dan menidurkan nya di kasur,


"ya Allah.. dia kenapa sih?? perasaan barusan baik baik saja!" gerutu Ana.


Ana mengolesi minyak hangat pada dada dan perut Regan,


"jangan jangan dia pingsan karena kelaparan lagi;" gumam Ana lagi.


"ya Allah.. Tuan.. maafkan aku!" lirih Ana karena menyesal.


Ana mulai menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.


"ini semua salahku! hiks...!" lirihnya sambil menangis.


"aku harus memanggil dokter!" katanya lagi lalu hendak mengambil handphonenya di atas nakas.


Namun tiba tiba tangannya di tarik dan tubuhnya sampai jatuh di atas tubuh Regan.


Kini tubuh Ana menindih tubuh Regan dan Regan tampak sadar sambil menatap wajah Ana dengan intens.

__ADS_1


Jarak mereka sangat dekat bahkan aroma mint dari mulut Regan pun bisa di rasakan oleh Ana.


"ka..kau tidak pingsan??" tanya Ana.


Regan menjawab dengan hanya menggelengkan kepalanya.


"jadi kau membohongi ku??" tanya Ana lagi.


Ana hampir saja berontak namun dengan cepat Regan merapatkan pelukannya di bagian pinggang ramping Ana sehingga Ana tidak bisa berkutik lagi.


"maaf!" bisik Regan.


Ana hendak berontak namun tidak bisa jadi dia hanya melengos kesal.


"maafkan aku!" bisik Regan lagi lalu mencium pipi Ana sekilas.


Jantung Ana rasanya mau copot karena tiba tiba Regan menciumnya.


Karena tidak mendapat perlawanan dari Ana, Regan mulai memberanikan diri ingin mencium bibir Ana.


Saat kedua bibir sudah semakin dekat dan hampir bersentuhan, tiba tiba terdengar suara pintu di ketuk,


Tok ... Tok... Tok..


Ketukan yang mampu membuyarkan suasana ya g mulai erotis.


Baik Ana maupun Regan langsung melo.pat menjauh satu sama lain.


Regan sungguh kesal bukan main pada orang yang telah mengganggu mereka.


Shit!! umpatnya di dalam hati.


"siapa??" teriak Regan dengan nada super kesal.


"saya Tuan.. Mimin!" sahutan dari luar.


"ada apa??" teriak Regan lagi.


"makan malamnya sudah siap!" teriak Mimin lagi memberitahukan Tuan Muda nya.


"makan saja sendiri!! aku tidak lapar!!" sungut Regan meluapkan kekesalannya.


Sementara Ana tampak duduk dengan canggung di ujung ranjang sambil membenahi rambutnya yang berantakan.


Sepeninggal Mimin, suasana malah tambah canggung baik Ana atau pun Regan tidak ada yang berinisiatif untuk berbicara terlebih dahulu.


Sampai akhirnya Regan berkata,


"a.. aku lapar!! aku mau di suapi!" kata Regan berusaha memecah kecanggungan di antara mereka.


"ba..baik! aku akan menyiapkan makan malam mu dulu!" sahut Ana dengan cepat lalu bergegas turun ke bawah.


Sepanjang tangga, Ana menghela nafas lega karena bisa keluar dari kecanggungan tadi.


uh.. apa apaan itu tadi?? kenapa aku merasa malu sekali??


🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2