Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 26


__ADS_3

Keesokan harinya Ana sudah di perbolehkan pulang tapi Ana tidak langsung pulang melainkan masih menyempatkan waktunya yang terbatas untuk menjenguk sang kakak.


"apa aku boleh menjenguk kakakku dulu sebelum pulang?" tanya Ana agak ragu pada Regan yang memapahnya.


"apa perlu?" tanya Regan dengan santainya.


"tentu saja perlu, aku yakin kakakku pasti khawatir semalaman karena aku tak kunjung mengabarinya!" jawab Ana memberi alasan.


"aku sudah mengabarinya!' kata Regan singkat.


"oh!" tanggap Ana tak kalah singkatnya dengan Regan.


Wajahnya berubah manyun karena Regan tak kunjung mengiyakan permohonannya.


Regan melirik sejenak dan wajah masam Ana membuatnya tak sampai hati untuk melarang Ana menjenguk kakaknya sendiri.


"kau boleh menjenguknya tapi hanya 10 menit saja, tidak lebih!" kata Regan kemudian.


Ana langsung tersenyum senang, seperti anak kecil yang diberi hadiah balon oleh ibunya.


"oke.. 10 menit!" serunya.


10 menit?? sesenang itu kah kau??


Regan membantu Ana berjalan sampai ke kamar kakaknya, posisi mereka yang sangat dekat membuat Regan bisa mengendus aroma tubuh Ana yang begitu menyegarkan padahal dia belum mandi sejak kemarin.


Ana langsung memeluk kakaknya dengan erat.


"bagaimana keadaan mu?" tanya Bara sambil melihat kepala Ana yang di perban.


"hanya luka kecil saja kok.. satu atau dua hari pasti sembuh!" sahut Ana yang tidak ingin membuat kakaknya khawatir.


"luka kecil apanya kalau sampai di jahit 4?' cibir Bara.


Ana mendelik dan menoleh pada Regan.


Sementara Regan sok bodoh dengan tampangnya.


ternyata pria menyebalkan ini sudah menceritakan semuanya pada kakakku.


"jangan sok kuat! kakak tahu semuanya!" seru Bara.


"tunggu lah sampai kakak sembuh, kakak akan membebaskan mu dari pria itu!" bisik Bara pada Ana.


Ana hanya mengangguk.

__ADS_1


Tidak memungkinkan untuk menanggapinya dengan perkataan karena Regan pasti akan mendengarnya.


"waktumu sudah habis!" Regan mengingatkan Ana.


Mau tidak mau Ana harus bangkit dan meninggalkan kakaknya, Ana tidak ingin Regan murka lalu melarangnya untuk menjenguk sang kakak lagi.


Regan senang karena Ana langsung menuruti perkataannya, sebelum beranjak Regan berkata pada Bara.


"jangan coba coba untuk memisahkan aku dengan istriku!! karena itu adalah hal yang sangat mustahil terjadi!" ucap Regan dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Deg...


Baik Ana maupun Bara sama sama terkejutnya, tidak menyangka kalau Regan ternyata mendengar obrolan mereka tadi padahal Bara sudah memelankan suaranya.


Regan langsung menyeret lengan Ana dengan agak kasar, agak kesal dia karena Ana menganggukkan kepalanya dengan apa yang di ucapkan oleh Bara.


apa sebegitu inginnya Ana lepas darinya?? bukan kah mereka harus ke pengadilan agama dulu karena Regan menikahi Ana secara sah di mata hukum dan Agama.


"tidak semudah itu lepas dariku, Nyonya Regan!" bisik Regan di telinga Ana membuat Ana merinding.


Kata kata Regan bagai sebuah peringatan keras untuk Ana.


Sepanjang perjalanan, Regan hanya diam berkutat dengan pikirannya sendiri.


Sebenarnya apa kurangnya dia sebagai suami sampai Ana mau meninggalkannya??


Kekayaan Regan bukan lah isapan jempol semata, bahkan jika Ana meminta sebuah pulau pun, Regan pasti langsung membelikannya.


Di nikmati pun, harta itu tidak akan habis tujuh turunan.


Ana pun semakin kikuk dan takut karena Regan hanya diam seribu bahasa.


dia pasti sedang merencanakan sesuatu untuk mengikatku dengan erat agar aku tidak bisa kabur.


🌤🌤🌤🌤🌤🌤🌤🌤🌤🌤


Tanpa sepengetahuan Ana, Regan mengunjungi Bara di rumah sakit.


"kau datang lagi?? dimana Ana?" tanya Bara yang terkejut melihat kedatangan Regan.


"dia aman di rumah ku!" sahut Regan dengan nada datar.


"ada tujuan apa kau kemari?" tanya Bara.


"jangan pernah kau mempengaruhi Ana untuk meninggalkan aku!! aku tidak akan pernah melepasnya dengan mudah setelah apa yang kau perbuat padaku!" kata Regan dengan geram.

__ADS_1


"kenapa?? bukannya kalian tidak saling mencintai?? kau menikahi adikku hanya karena dendam semata!! dendam yang tidak kau ketahui kebenarannya!" sentak Bara.


"aku tidak tahu kebenarannya?? kau pikir aku tidak mencari tahu semuanya??" sinis Regan.


"sepertinya kau sudah salah memilih orang!! dia bahkan tidak memberimu informasi yang benar dan mirisnya kau percaya begitu saja!" sahut Bara.


"aku tidak sembarangan dalam memilih orang orang kepercayaan untuk aku pekerjakan!! jadi tutup mulutmu, jangan bicara omong kosong!!" bentak Regan.


"kasihan sekali kau!! menyimpan dendam pada orang yang salah!!" cibir Regan.


Dan Bugh..


Satu pukulan berhasil merobek bibir Bara.


"sudah ku peringatkan untuk diam tapi kau malah tambah banyak bicara!" sungut Regan dengan nafas yang memburu.


"pukul saja aku sesuka hatimu tapi jangan sakiti adikku!! dia tidak tahu apa apa tentang masalah kita berdua!" kata Bara sambil mengusap bibirnya yang terasa nyeri dan berdarah.


"aku tidak akan menjadikannya tumbal kalau kau saat itu dalam keadaan sehat!! sayang sekali kau koma, jadi aku terpaksa menculik adikmu dan menikahinya dengan paksa!!" seru Regan.


"sekarang aku sudah sehat jadi tolong lepaskan adikku!!" sentak Bara mulai emosi.


"ckck.. sabar kakak ipar!! apa kau lupa siapa yang sudah membuatmu kembali sehat? kau berhutang banyak padaku!!" sindir Regan dengan senyum smirknya.


"jangan libatkan Ana.. Ana tidak melakukan kesalahan apapun!" kata Bara lagi.


"dia adikmu!! itulah kesalahannya?!" sentak Bara tidak mau mendengar ucapan Bara lagi.


Regan langsung keluar dan kembali ke kantornya karena sebentar lagi waktunya makan siang, Ana pasti sudah menyiapkan makan siang untuknya seperti biasa.


Dan benar saja, Regan sampai hampir berbarengan dengan mobil yang membawa istrinya tersebut.


Ana memaksa senyum di wajahnya dan Regan tahu itu.


"kenapa kau masih datang? bukannya aku sudah menyuruhmu untuk istirahat??" sambut Regan sambil merangkul pinggang ramping istrinya.


"bukannya kau tidak bisa makan tanpa di suapi??" sahut Ana berusaha santai walau hatinya merasa canggung dengan perlakuan Regan


Begitulah hubungan mereka, tampak mesra di luar namun bobrok di dalam.


Regan selalu menjaga imagenya dan membentuk citra sebagai suami yang sangat romantis dan mencintai istrinya.


Regan membawa Ana dalam dekapannya dan banyak mata iri melihat kemesraan mereka.


Sungguh sempurna, yang pria tampan dan kaya, yang wanita cantik luar biasa dan pandai memasak.

__ADS_1


Regan yang hampir tidak pernah makan masakan rumahan, kini lidahnya hanya terbiasa dengan masakan istrinya.


☔☔☔☔☔☔☔☔☔☔☔


__ADS_2