
"em.. setelah sarapan, apa aku boleh ikut?" kata Ana dengan hati hati pada Regan yang sedang menikmati sarapannya melalui suapan Ana.
"ikut?? ikut ke kantor maksud mu??" sahut Regan.
"bukan ke kantor.. arah kantor dan rumahku kan sama, kalau aku hari ini ingin menjenguk Kak Bara, boleh??" Ana berusaha lebih hati hati lagi berharap Regan mau mengizinkannya untuk pergi.
"pantas saja tutur bicara mu manis sekali, ternyata ada maunya!" cibir Regan.
"bukannya setiap berbicara, tutur kataku memang selalu manis??" sahut Ana membela diri.
"cih!" Regan berdecih dengan pembelaan diri Ana tersebut.
"untuk apa kau menjenguknya?? dia kan sudah ada yang merawat dan perawatnya itu perawat terbaik!" ujar Regan lagi.
"apa untuk bertemu dengan saudara harus ada alasan yang tepat?" kata Ana balik bertanya.
"ya iyalah!! harus ada alasan yang masuk akal agar aku bisa memakluminya!" jawab Regan.
"aku hanya merindukan kakakku! apa itu kurang untuk menjadi alasan??" kata Ana.
"merindukannya?? baru beberapa hari yang lalu kau bertemu dengannya di rumah sakit!" sinis Regan.
"sebelumnya, aku bisa bertemu dengannya setiap hari!" ketus Ana.
"keadaan sudah berbeda, sekarang kau sudah menikah dan ada suami yang harus menjadi prioritas mu!" ujar Regan dengan penuh penekanan.
"bukan kah aku sudah menjadikan mu sebagai prioritas?? aku lebih memilih tinggal dengan mu ketimbang dengan kakakku sendiridan aku juga pergi saat kau tidak ada di rumah!" sungut Ana.
Regan tampak berpikir dan merasa apa yang dikatakan Ana ada benarnya juga jadi tidak ada ruginya jika dia mengizinkan Ana untuk menjenguk kakaknya itu lagipula Ana tidak akan bisa kabur karena kondisi Bara belum begitu maksimal untuk melakukan aksi yang berbahaya.
"baik lah baiklah.. kau menang!" sahut Regan akhirnya.
Ana kini berhasil mengendalikan dirinya sendiri, jadi meski senang bukan main, dia bersikap biasa saja.
"aku bersiap dulu ya!" kata Ana dengan bersemangat.
"jangan lama lama! tidak usah berdandan karena kau hanya akan ada di dalam rumah!" pesan Regan sebelum Ana benar benar masuk ke dalam kamar.
"oke!" sahut Ana setengah berteriak.
apa katanya?? aku tidak usah berdandan?? cih memangnya aku mau kondangan sampai harus berdandan segala! cibir Ana di dalam hatinya.
Tidak butuh waktu lama, Ana sudah siap dan turun ke bawah.
Regan masih saja terpana melihat kecantikan Ana padahal sudah tiap hari melihatnya dan lihat lah kini meski tanpa polesan yang berlebih Ama tampak sangat cantik dan Regan sampai gemas melihatnya.
__ADS_1
"berangkat sekarang??" kata Ana yang sukses membuyarkan keterpanaan Regan barusan.
"eh.. iya tentu saja!" sahut Regan agak salah tingkah.
Sesampainya di dalam mobil,
"ingat.. jangan kemana mana sampai aku menjemputmu kembali!" pesan Regan dengan nada dingin dan datar.
Regan sengaja bersikap seperti itu agar Ana mau menurut dan tidak membantahnya.
"iya.. lagipula aku bisa kemana??" sahut Ana pasrah.
"segala yang kau butuh dan inginkan.. bisa mengatakannya pada Suster Ayu!" tegas Regan lagi.
"iya!" sahut Ana.
Sementara di belakang kemudi, Jay berusaha mencuri pandang ke arah Ana, benar kata Regan, Ana terlihat semakin mempesona setiap harinya.
Regan menyadari tatapan Jay dan menegurnya secara langsung.
"kondisikan mata mu dengan benar Jay jika tidak ingin aku mencongkelnya!" tegur Regan dengan nada ketus dan menyindir.
Jay langsung salah tingkah dan speechless, dia tidak menyangka kalau Regan akan menyadarinya.
"ma..maaf Tuan!" sahut Jay yang langsung fokus pada apa yang ada di hadapannya.
haha.. jangan bilang kalau dia cemburu karena Jay menatapku! seru Ana senang di dalam hatinya.
Kini sepanjang perjalanan, hanya sunyi dan deru mesin mobil yang terdengar karena semuanya pada diam membisu hanya sesekali tatapan mata Ana dan Regan tidak sengaja bertemu yang membuat kecanggungan makin lekat terasa.
Setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di rumah Bara dan Ana.
Ana langsung turun dengan wajah sumringah,
"hati hati di jalan!" kata Ana pada Regan.
"hem!" sahut Regan acuh.
Ana melambaikan tangannya ketika mobil Regan mulai melesat kembali.
"kak...kakak!" panggil Ana sambil mengetuk pintu rumah mereka yang sederhana.
Bukan Bara yang membuka pintunya tapi Suster Ayu yang sudah tampak rapi meski tidak berseragam.
"selamat pagi Nona Muda!" sapa Suster Ayu dengan formal.
__ADS_1
"pagi Sus...!" sahut Ana membalas sapaan Suster Ayu.
"dimana kakak??" tanya Ana kemudian.
"ada di kamarnya!" jawab Suster Ayu singkat.
"kalau begitu aku langsung ke kamarnya saja!" pamit Ana lalu bergegas masuk dan langsung menuju ke kamar Bara.
Saat membuka pintu kamar Bara, Ana melihat Bara baru selesai berpakaian setelah mandi.
"Ana??" seru Bara yang senang melihat Ana datang.
"kakak sedang apa??" tanya Ana basa basi.
"baru saja habis mandi! kapan kau datang??" sahut Bara lalu langsung bertanya dengan antusiasnya.
"baru saja kak! kakak sudah sarapan??" Ana kembali balik bertanya.
"belum dan kau??"
"aku sudah sarapan! kalau begitu cepat sarapan dan minum obatmu supaya cepat sembuh!" ujar Ana.
"aku juga ingin segera pulih secepatnya agar bisa membawamu pergi dari sini secepatnya!" sahut Bara.
"Ana.. maafkan Kakak! karena masalah pribadi kakak, kau harus jadi korban!" kata Bara mulai serius.
"aku tidak menyalahkan mu kak! mungkin ini sudah takdir dari yang Kuasa!" sahut Ana.
"takdir?? takdir yang kejam maksud mu?? apa pria itu masih menyiksa mu??" sungut Bara mulai agak kesal setelah mengingat sosok Regan.
"dia tidak pernah menyiksa ku kak dan aku baik baik saja! kau bisa lihat sendiri kan??" sahut Ana beralasan.
"apa kau yakin??"
"tentu saja aku yakin sekali! buktinya dia membantu biaya perawatan kakak hingga kakak bisa seperti sekarang dan dia juga memperlakukan ku dengan sangat baik walau terasa sangat posesif!" ujar Ana lagi.
"ya.. mau tidak mau harus aku akui kalau aku berhutang nyawa padanya tapi aku masih tidak bisa menerima perlakuannya yang seenak hatinya menikahi mu!" sesal Bara.
"aku ingin kau lepas dari genggamannya dan hidup bebas menjadi dirimu sendiri.. Ana!" tambahnya.
"aku juga ingin bebas seperti itu kak.. tapi aku bisa apa?? dia menikahi ku secara sah dan surat suratnya lengkap!" balas Ana.
"pasti ada cara dan aku akan memikirkannya untukmu!! aku hanya ingin kau bahagia Ana karena kebahagiaan mu adalah tanggung jawabku setelah orang tua kita meninggal dunia!" Bara lalu memeluk adik semata wayangnya tersebut sambil menangis.
Ana pun akhirnya tidak bisa menahan diri dan menangis dalam pelukan kakaknya.
Diam diam Suster Ayu merekam semuanya dan mengirimkannya pada Regan sesuai dengan perintah Tuan nya tersebut yang tadi sudah menghubunginya terlebih dahulu.
__ADS_1
📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚