
"Ana...!" lirih Regan sambil menggenggam tangan Ana dengan erat.
"dia baik baik saja Tuan.. kami sudah memberinya 4 jahitan karena lukanya agak lebar!" kata Dokter.
Regan mengabaikan ucapan dokter, dia hanya fokus pada Ana yang masih belum membuka matanya.
"kalau begitu saya permisi Tuan!" Dokter langsung undur diri karena sudah selesai dengan tugasnya.
"maafkan aku!" ucap Regan yang nyaris berbisik.
Tak lama kemudian, Ana mulai menggerakkan tangannya dan memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"argh!" keluhnya.
Regan langsung sumringah namun tidak lupa dia mundur beberapa langkah untuk memberi jarak di antara mereka, dia tidak ingin Ana tahu bagaimana khawatirnya Regan tadi.
"pelan pelan!! kepala mu baru saja di obras!!" kata Regan berusaha agak sinis walau sebenarnya hatinya tidak sampai hati memperlakukan Ana dengan buruk.
"apa?? di obras???" seru Ana sambil melotot ke arah Regan.
"hem!" Regan hanya berdeham.
"ini semua gara gara kau!" Ana ingat betul kalau dia terjatuh karena tersenggol oleh Regan.
"kenapa gara gara aku??" Regan tidak terima dengan tuduhan Ana.
"kau mendorong ku terlalu kuat!" kata Ana lagi.
"salahmu sendiri terlalu lemah!!" Regan tidak mau kalah.
"argh!" Ana meringis karena kepalanya sakit akibat berbicara terlalu keras barusan.
Regan hampir saja lepas kendali, Regan khawatir karena sudah dua kali Ana meringis kesakitan.
"sebaiknya kau tidur saja, berdebat nya besok besok saja kalau kau sudah sembuh!" kata Regan cuek.
"siapa yang mau berdebat?? kau saja yang menyebalkan!" sahut Ana dengan wajah manyun.
Ana terpaksa berbaring kembali karena terlalu banyak bergerak membuatnya kesakitan.
Setelah memastikan Ana sudah tertidur, Regan langsung menghampiri dokter yang berjaga.
"obat macam apa yang kau berikan pada istriku hah??" sentak Regan sambil menggebrak meja dengan kasar membuat semua orang yang ada di sana terkejut dan Regan langsung menjadi pusat perhatian.
"ma..maaf Tuan... siapa istri anda??" tanya Dokter agak tergagap, maklum saja Dokter yang menangani Ana sudah berganti shift dengan dokter yang sekarang sedang di bentak oleh Regan.
__ADS_1
"kau masih berani bertanya?? apa kau tidak kenal siapa aku??" Regan emosi dan menarik kerah pakaian dokter di hadapannya.
"maaf.. permisi Tuan Regan!! beliau dokter baru disini jadi tidak mengenal siapa anda! jika Tuan ada keluhan, bisa di sampaikan kepada saya!" datanglah Dokter Arya menengahi mereka.
Dokter Arya adalah kepala rumah sakit tempat kakak ipar Regan di rawat, Regan juga termasuk salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit ini dan hampir seluruh karyawan rumah sakit mengenal sosok Regan.
Dan kebetulan saja, Dokter yang berjaga kali ini adalah Dokter magang yang baru beberapa hari pindah kemari.
"coba kau periksa, obat apa yang dokter itu berikan pada istriku??" kata Regan mulai menurunkan nada suaranya setelah melihat sosok Dokter Arya.
"memangnya kenapa Tuan??" tanya Dokter Arya dengan ramah.
"istriku sudah dua kali mengeluh sakit!! apa kalian tidak memberi nya obat terbaik??" sahut Regan.
astaga Tuan... hanya karena istri mengeluh sakit anda sampai membuat keributan seperti ini?? bagaimana jika istri anda sampai meninggal?? bisa jadi kami semua yang ada disini hanya tinggal kenangan saja.
"jadi begini Tuan.. kami sudah memberikan obat terbaik dan pelayanan yang luar biasa untuk istri anda, jika istri anda masih mengeluhkan sakit itu wajar karena baru beberapa jam lalu Nyonya mendapat tindakan medis berupa jahitan, kemungkinan karena pengaruh biusnya mulai menghilang jadi sakitnya mulai terasa!" jelas Dokter Arya dengan sangat detail agar Regan tidak lagi naik pitam sembarangan.
"lalu bagaimana agar dia tidak kesakitan lagi?? aku tidak tega mendengarnya mengeluh sakit!" Regan bertanya karena memang dia tidak tahu harus berbuat apa agar Ana tidak kesakitan lagi.
Keluhan Ana membuat rasa bersalah Regan bertambah dua kali lipat, memang karena ulahnya lah Ana sampai berakhir di ruang UGD seperti ini.
"kami akan berusaha semaksimal mungkin membuatnya merasa nyaman, mungkin dengan menambah dosis obat penghilang nyeri!" sahut Dokter Arya.
"lakukan yang terbaik!! aku akan memberikan apapun untuk keselamatan istriku!!" sungut Regan.
Regan pun akhirnya mulai tenang dan kembali ke ruang UGD untuk melihat keadaan Ana.
Ana masih tertidur dengan lelapnya, sepertinya Dokter Arya cukup kompeten dengan ucapannya.
"semoga mimpi indah!" bisik Regan sambil mengusap lembut kepala Ana.
"mimpi indah dari hongkong!!" sahut Ana yang ternyata tidak tidur.
Regan langsung speechless dan salah tingkah karena tertangkap basah bersikap manis pada Ana.
"ka..kau tidak tidur??" Regan bertanya dengan suara tergagap.
"bagaimana mau tidur kalau kau membuat keributan di luar sana??" sahut Ana dengan santainya, Ana bahkan berusaha untuk duduk.
Ketika melihat Ana agak kesusahan untuk duduk, reflek saja Regan langsung membantunya.
"terimakasih!" kata Ana.
Dan Regan langsung menjauh kembali.
__ADS_1
"kau mendengar keributan di luar??" tanya Regan waswas.
Mati kutu dia kalau Ana sampai mendengar semua perkataan Regan tadi kepada Dokter.
"telinga ku masih berfungsi dengan normal, tentu saja aku mendengar semuanya!" jawab Ana yang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"benar kah?? semuanya???" Regan masih tidak percaya.
"iya.. semuanya! tapi sayang terdengar tidak jelas, hehe..!!!" sahut Ana lalu terkekeh.
Regan langsung menghela nafas panjang, lega sekali rasanya karena Ana tidak mendengar semuanya dengan jelas.
syukur lah kau tidak mendengarnya!
"kenapa dengan wajah mu??" tanya Ana sambil memperhatikan ekspresi wajah Regan yang dari tegang berubah menjadi pias dan manyun.
"bukan urusan mu!!" sungut Regan agak ketus agar Ana tidak bertanya tanya lagi.
"ish.. siapa juga yang ngurus?? aku kan cuma nanya!?!" gerutu Ana dengan wajah cemberut.
"selamat siang...bagaimana keadaan anda Nyonya?? apa lebih baik??" tanya Dokter Arya yang tiba tiba muncul di tengah tengah mereka.
"eh.. Dokter...alhamdulillah Dok.. udah enakan!?" sahut Ana dengan ramah dan tersenyum manis.
Regan merasa geram karena Ana bisa tersenyum manis untuk orang lain sementara untuk suaminya sendiri tidak.
menyebalkan.
Regan memberi kode pada Dokter Arya agar pergi dari hadapan mereka dan untungnya Dokter Arya langsung paham dengan maksud Regan.
"kalau begitu saya permisi dulu!! semoga Nyonya lekas sembuh!" kata Dokter Arya mohon undur diri.
"aamiin..terimakasih banyak Dokter!" lagi lagi Ana tersenyum manis untuk Dokter Arya.
Regan semakin kesal.
Dokter Arya seolah mengerti dengan gelagat Regan pun langsung mengambil langkah seribu jika tidak ingin di kirim ke papua oleh Regan.
gila.. istrinya senyum untuk orang lain saja dia sudah marah!!! padahal kan hanya perbincangan formal antara Dokter dan pasiennya.
"jangan senyum senyum genit seperti tadi!!" sentak Regan.
"karena itu hanya akan merusak reputasi ku saja!!" imbuhnya.
Ana bingung karena dia tidak merasa sudah genit seperti yang di tuduhkan oleh Regan.
__ADS_1
"aku genit?? kapan?? pada siapa??" Ana bertanya karena kepo.
🎣🎣🎣🎣🎣🎣🎣🎣🎣🎣🎣