Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 32


__ADS_3

Pagi harinya setelah Regan selesai sarapan,


"cepat lah bersiap!" kata Regan tanpa menoleh pada Ana yang sedang asik makan di bawah kakinya.


"bersiap?? memangnya mau kemana??" tanya Ana yang juga sudah hampir selesai dengan sarapannya.


Meski sikapnya tidak sekasar dulu, Regan tetap lah Regan, dia tetap membiarkan Ana makan di bawah kakinya layaknya seekor anjing.


"mengantar mu ke rumah sakit! bukannya semalam kau merengek minta ke sana??" sahut Regan dengan santainya.


Wajah Ana langsung berbinar karena senang.


"benar kah?? sekarang juga??" seru Ana saking senangnya.


"hem!" sahut Regan singkat.


Ana langsung berdiri dan memanggil Mimin untuk membereskan sisa sarapan mereka termasuk dengan piring piring kotornya.


"Min.. ayo bereskan secepatnya!" kata Ana pada Mimin.


"waktumu bersiap hanya 10 menit dari sekarang!" kata Regan dengan tegas.


"tapi aku...masih harus membantu Mimin!" sahut Ana sambil melirik ke arah Mimin.


"Nona.. anda bersiap saja, saya akan membereskannya sendiri!" kata Mimin dengan sopan.


"tapi...!" Ana masih tampak ragu.


"bersiap sekarang atau tidak jadi ke rumah sakit??" tegas Regan lagi.


"aku bersiap sekarang!" sahut Ana yang langsung melesat kabur ke kamar.


Tak lebih dari 10 menit, Ana sudah siap, untung saja tadi dia sudah mandi jadi hanya perlu ganti baju dan sedikit memoles wajahnya agar tidak terlihat pucat.


Ana cepat cepat menghampiri Regan yang sudah menunggunya di depan mobil sambil melirik jam tangan mahalnya.


"ayo!" ajak Ana yang sudah ada di hadapannya.


Regan langsung menoleh dan terpana melihat kecantikan wanita yang sudah di nikahi nya secara paksa tersebut.



Regan masih tertegun menatap wajah Ana.


"ayooooo!" ajak Ana lagi sambil menarik narik tangan Regan.


Regan pun akhirnya tersadar dari lamunannya.


"iya.. iya!" sahut Regan agak salah tingkah.


Ana pun langsung melesat masuk ke dalam mobil tanpa di suruh.

__ADS_1


"semangat sekali!" cibir Regan.


"aku sudah terlalu merindukan kakakku!" Ana menyahuti cibiran Regan padanya.


"padahal baru beberapa hari yang lalu kau sudah ke sana menjenguknya!" cibir Regan lagi.


"sebelum kau menculik ku, aku bahkan bisa setiap hari datang untuk menjenguknya!" balas Ana sambil melirik tajam ke arah Regan.


"jadi kau menyalahkan aku?" sungut Regan naik pitam.


"kalau bukan menyalahkan mu lalu aku harus menyalahkan siapa?? Jay?" balas Ana tidak mau kalah.


Jay yang ada di depan pun pura pura tidak mendengar perdebatan antara suami istri tersebut.


"lama lama kau melunjak juga ya! sudah untung aku beri izin untuk bertemu kakak mu itu!" omel Regan yang terlihat mulai kesal pada Ana.


"dasar pria aneh!! untuk apa juga kau melarang ku untuk bertemu dengan kakakku sendiri?? apa untungnya bagimu hah??" sungut Ana ikut ikutan naik pitam.


"heh.. apa kau lupa kenapa aku sampai menculik dan terpaksa menikahi mu??" sinis Regan yang tak mau kalah.


"lupa?? aku bahkan tidak tahu apa masalahmu dengan kakakku sampai kau harus menculik dan berakhir menikahi ku!" ketus Ana.


"kau tidak perlu tahu banyak karena tidak ada gunanya bagimu!! kau hanya perlu diam tanpa melawan karena kau hanya sebagai tumbal atas dosa yang telah kakakmu perbuat padaku!" sahut Regan.


"tumbal?? bagaimana bisa orang yang tidak tahu apa apa kau jadikan tumbal seenak jidatmu!" hardik Ana yang sudah lupa pada rasa takutnya pada Regan, Tuan Muda yang terkenal kejam tersebut.


"tutup mulutmu atau aku akan mengurung mu selama lamanya di mansion!" ancam Regan yang semakin geram karena Ana terus saja melawannya.


"berangkat sekarang Tuan?" sela Jay dengan mengumpulkan banyak keberanian.


"iya!" sahut Ana dengan cepat.


"tidak!" sahut Regan yang hampir bersamaan dengan Ana.


Ana langsung menatap kesal ke arah Regan.


"apa??" Regan menantang Ana dengan tatapannya.


"kenapa tidak?? kau mau ingkar janji lagi?" seru Ana semakin kesal pada Regan.


"ingkar janji?? salahmu sendiri membuat suasana hatiku memburuk!" balas Regan menyalahkan Ana.


"apa?? gara gara aku??" serunya sambil melengos kesal.


"hah!!! kau sendiri yang cari gara gara malah menyalahkan aku!" lanjut Ana mengomel.


"seharusnya kau jaga sikap dan ucapan mu agar aku tidak marah!" tegas Regan.


"hah!! ya.. ya.. sepertinya aku sudah lupa diri, siapa aku ini di mata mu!" Ana membuang nafas dengan kasar berharap emosinya segera menguap begitu saja.


"sekarang turun kau dari mobilku dan masuk ke kamar!! jangan keluar kamar sampai aku datang!' titah Regan tanpa mau dibantah.

__ADS_1


Tapi Ana tetap saja keras kepala dan berusaha membantah ucapan Regan.


"kalau aku tidak mau, bagaimana??" sahut Ana.


"maka aku tidak akan pernah mengizinkan mu keluar dari mansion ini untuk selama lamanya! jika kau ingin menghabiskan sisa hidupmu hanya terkurung di dalam mansion, silahkan saja terus membantah ucapan ku!" ancaman Regan sepertinya tidak main main kali ini.


"kenapa tidak sekalian saja kau bunuh aku agar kau puas hah??" teriak Ana yang emosinya mulai memuncak.


Regan yang terlihat semakin kesal lalu menarik Ana sampai jarak mereka semakin dekat dan tanpa aba aba Regan langsung mencium bibir Ana dengan sangat kasar.


Bibir Ana bahkan sampai berdarah tapi Regan tidak menghentikan ciumannya malah semakin beringas membuat Ana sampai ketakutan sendiri.


Ana berusaha meminta bantuan dari Jay agar bisa menghentikan Tuannya namun Jay sepertinya sudah tidak punya nyali untuk ikut campur lagi melihat betapa marahnya Tuan Regan tadi.


Jay malah keluar dari mobil dan meninggalkan Regan dan Ana.


Ana akhirnya hanya diam dan pasrah mendapat perlakuan kasar dari Regan, Ana hanya bisa menangis menahan perih di bibirnya dan sakit di dalam hatinya.


Ana merasa dirinya hina dan rendah karena Regan memperlakukannya sesuka hati.


Bukan hanya menciumnya, Regan juga mulai menggerayangi tubuh Ana secara membabi buta sampai pakaian Ana sobek di sana sini.


Merasakan wajah Ana yang mulai banjir air mata membuat Regan sadar diri dan segera melepaskan ciumannya.


Regan mendorong Ana agak menjauh darinya, kondisi Ana benar benar mengenaskan dengan pakaian yang berantakan dan wajah yang sembab oleh air mata di tambah lagu dengan bibir yang berdarah dan bengkak.


Ana menangis sambil meringkuk.


Melihat hal itu, Regan langsung merasa bersalah dan menyesal atas apa yang telah dilakukannya pada Ana barusan.


Tanpa banyak bicara, Regan pun keluar dari mobil dan menggendong Ana masuk ke dalam rumah lagi.


Lagi lagi Ana hanya tetap diam dan pasrah dengan apa yang Regan lakukan padanya.


Sampai di kamar mereka, Regan langsung menidurkan Ana di ranjang.


"jangan memancing emosiku lagi!" kata Regan sambil berlalu dari hadapan Ana.


Sepeninggal Regan, tangis Ana semakin menjadi jadi dan tak lama kemudian Regan sudah kembali dengan membawa obat luka di tangannya.


"lihat aku!" titah Regan pada Ana.


Ana tidak patuh, dia tidak bergeming sama sekali.


"lihat aku cepat!" titah Regan lagi.


"jangan membuatku berbuat kasar lagi padamu!" tegas Regan.


Mendengar ucapan Regan yang menakutkan, Ana akhirnya menoleh namun enggan menatap wajah Regan.


Regan pun segera mengobati luka di bibir Ana dengan perlahan tanpa berkata apa apa pada Ana dan Ana pun juga terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


⛽⛽⛽⛽⛽⛽⛽⛽⛽


__ADS_2