Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 33


__ADS_3

Regan mengobati luka Ana dengan telaten, sesekali Ana mengaduh karena rasa perih yang di timbulkan oleh obat.


"auw!" keluh Ana sambil meringis menahan perih.


"maaf!" kata Regan sambil memperlembut gerakan tangannya.


"lain kali jangan melawan lagi karena aku tidak bisa mengendalikan emosi ku saat seseorang berani melawan ku!" kata Regan lagi sambil terus mengobati luka Ana.


Ana hanya diam tanpa mau menjawab sepatah kata pun.


Sebenarnya Ana juga sadar kalau dirinya sudah keterlaluan pada Regan tadi namun rasa gengsi membuatnya enggan mengakui kesalahannya apalagi sekedar untuk meminta maaf pada suaminya itu.


"sebaiknya kau istirahat!" kata Regan sambil membantu Ana untuk merebahkan dirinya.


Ana patuh dan mulai memejamkan matanya, perdebatan tadi cukup menguras tenaganya sampai dia merasa lelah.


"jika kau sudah merasa lebih baik, aku akan mengantar mu ke rumah sakit! sekarang aku ke kantor dulu!" kata Regan seraya berpamitan pada Ana.


Lagi lagi Ana hanya terdiam, hatinya masih terlalu kesal untuk bisa menyahuti Regan dan Regan pun memaklumi sikap Ana tersebut.


"Jay.. ke kantor sekarang!" titah Regan setelah keluar dari kamar.


"siap Tuan!" sahut Jay.


Dan Jay pun dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Tuan Mudanya.


Di kantor, Regan tidak bisa fokus pada pekerjaannya karena kepikiran pada Ana, apa dia baik baik saja?? apa bibirnya masih sakit?? pertanyaan pertanyaan itu seolah berputar putar di kepalanya.


"Jay!" panggil Regan.


"iya Tuan!" sahut Jay sambil menghampiri Regan.


"coba kau tanyakan bagaimana kabar Ana di rumah!" kata Regan dengan agak canggung pada Jay.


Jay nampak terkejut dengan apa yang di suruh kan oleh Tuannya tersebut.


"kenapa harus saya yang menanyakannya Tuan??" sahut Jay agak bingung.


"ya karena aku tidak bisa bertanya sendiri!" sahut Regan berusaha menahan rasa geramnya terhadap Jay.


"tapi kenapa Tuan??" tanya Jay lagi.


"ya Tuhan Jay!!! apa perlu aku mencari pengganti mu supaya bisa ku suruh untuk menelpon Ana??" sindir Regan dengan sinis.


"eh.. ti..tidak Tuan!! jangan!" sahut Jay dengan cepat.


"baik.. saya akan menelpon Nona Muda sekarang juga!" kata Jay sambil merogoh ponselnya dengan cepat.


Jay langsung menelpon Nona Mudanya dengan cepat.


"Nona Muda baik baik saja Tuan dan sekarang sedang memasak makan siang untuk anda!" kata Jay setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Ana barusan.

__ADS_1


"ah.. syukur lah!! tapi kenapa dia harus memasak kalau masih sakit?" sahut Regan yang sepertinya masih belum puas dengan jawaban Jay.


hadeh.. kenapa kau tidak telepon sendiri saja sih Tuan?? supaya tidak penasaran lagi!! batin Jay mengeluh.


"sepertinya lukanya tidak terlalu parah Tuan!" sahut Jay sekenanya.


"darimana kau tahu??" sungut Regan.


"ya.. ya... buktinya Nona Muda masih sanggup untuk memasak!" jawab Jay setelah berhasil berpikir cepat.


"ah kau memang sok tahu!" gerutu Regan.


"oya.. ngomong ngomong sejak kapan kau menyimpan nomor ponsel istriku?? lancang sekali!" hardik Regan kemudian.


Ya Tuhan..apa aku salah lagi?? Jay kembali mengeluh di dalam hatinya.


"bukannya anda sendiri yang menyuruh saya untuk menyimpannya!" sahut Jay.


"kapan??" tanya Regan tidak percaya.


Ya Tuhan!! kenapa kau tiba tiba jadi lambat berpikir dan amnesia sih?? bisa gawat ini!!


"untuk kapannya.. saya lupa kapan tepatnya Tuan, tapi memang anda sendiri lah yang memberikan nomor ponsel Nona Muda kepada saya!" jawab Jay sejujur jujurnya pada Regan.


"awas saja kalau kau berani macam macam pada istriku!! tamat riwayatmu Jay!" ancam Regan.


"tidak akan ada yang berani mengusik milik anda Tuan Muda apalagi saya!" sahut Jay.


Regan mendengus kasar mendengar jawaban Jay.


*********


"Nona.. apa anda baik baik saja?? kalau masih sakit jangan masak dulu!" kata Mimin yang khawatir melihat wajah Ana masih sembab.


"kalau aku tidak masak, lalu Tuan mu mau makan apa?" sahut Ana dengan nada agak bercanda.


"Tuan Muda pasti mengerti dengan keadaan anda saat ini Nona!" sahut Mimin.


"orang seperti dia, tidak akan pernah mengerti tentang orang lain!" kata Ana.


"saya tidak berani berkomentar lagi Nona.. takutnya salah!! saya tidak ingin di pecat lagi karena salah bicara!" sahut Mimin sambil celingukan memastikan kalau keadaan di sana aman.


"kau tenang saja, hanya ada kita berdua disini!" ujar Ana sambil terkekeh geli melihat ekspresi wajah Mimin yang ketakutan.


"tapi tembok tembok di rumah ini bisa mendengar kita Nona.. Tuan pasti tahu apa yang kita bicarakan sekarang!" bisik Mimin pada Ana.


"heh.. mana ada tembok bisa mendengar?? kau ini terlalu berlebihan!!" sahut Ana yang masih terkekeh.


"pokoknya sudah Nona.. jangan membicarakan tentang Tuan Muda lagi dengan saya, saya benar benar takut!" kata Mimin dengan wajah memohon.


"iya..iya..!" sahut Ana sambil merampungkan kegiatan memasaknya.

__ADS_1


"oya Min.. sebentar lagi aku mau mengantar makan siang Tuan ke kantornya!" pamit Ana pada Mimin.


"baik Nona!" sahut Mimin.


"tidak usah!" tiba tiba terdengar suara khas yang begitu menggelegar di seluruh sudut ruangan itu.


Ana dan Mimin langsung menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara,


"Tu..Tuan Muda??" sahut Mimin agak tergagap karena terkejut dengan kehadiran Tuan Muda nya yang begitu tiba tiba.


Karena tidak biasanya Tuan Mudanya pulang di saat jam makan siang,


Ana yang tadinya terkekeh kini kembali manyun setelah melihat kehadiran Regan.


Regan jadi tidak enak hati karenanya.


Kenapa dia jadi manyun lagi?? padahal barusan ketawa ketawa tidak jelas dengan Mimin?? apa dia tidak suka melihat ku??


"duduk lah.. aku akan menyiapkan makan siang mu!" kata Ana dengan wajah datar.


Regan langsung duduk dengan patuh sementara Ana langsung menyiapkan semua makanan yang sudah di masaknya barusan.


"sudah selesai, silahkan makan!" kata Ana mempersilahkan Regan setelah semuanya beres.


"kau tidak mau menyuapi ku??" tanya Regan.


"masih mau di suapi??" sahut Ana agak jengah.


"biasanya bagaimana??" balas Regan dengan wajah sok imutnya.


Ana yang tadinya kesal sekarang jadi sedikit agak terhibur dengan sikap manja suaminya itu.


Mimin yang diam diam mengintip pun jadi ikutan baper melihat Tuannya bermanja pada Ana padahal jika dengan orang lain, wajah Tuannya itu kaku dan sangat garang, hampir semua karyawannya tidak berani menatap wajah Regan secara langsung.


Padahal jika di perhatikan dengan seksama, wajah Tuan Regan sangat lah tampan dan menghibur mata orang yang melihatnya.


Mau tidak mau, Ana harus menyuapi suaminya meski enggan mengobrol lebih banyak.


"bagaimana luka mu?? apa masih sakit??" tanya Regan di sela makan siangnya.


"kalau makan jangan banyak ngomong!" tegur Ana yang masih malas banyak bicara dengan Regan.


"aku kan hanya mengkhawatirkan mu makanya aku bertanya!" sahut Regan.


"kau kan bisa lihat sendiri, kenapa masih bertanya??" sungut Ana.


"di lihat dari cara bicaramu, sepertinya kau sudah baik baik saja!" sindir Regan.


Regan menghela nafas beratnya, Ana sepertinya masih sangat kesal padanya.


"maaf!" kata Regan kemudian.

__ADS_1


Ana langsung menoleh menatap wajah Regan.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2