Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 24


__ADS_3

Ana bergegas ke rumah sakit karena mendapat kabar bahwa kakaknya menunjukkan tanda tanda positif menuju kesadaran.


Ana tidak datang sendiri, dia di temani Regan, suaminya.


"sebaiknya kau ke kantor saja! aku bisa pergi sendiri!" kata Ana.


"aku ikut bukan karena aku mengkhawatirkan mu!! tapi aku mau lihat apa benar dia bisa sadar?!" seru Regan acuh tak acuh.


Ana mendelik, sungguh sangat memalukan sekali.


Sepanjang perjalanan, Ana menangis dalam diam, dia sangat bahagia karena akhirnya kakaknya bisa sadar juga setelah sekian lama tertidur dengan begitu lelapnya.


Sudah lama sekali rasanya Ana tidak mendengar suara Bara, kakaknya. Ana benar benar merindukan sosok kakak sekaligus orang tua baginya tersebut.


"menangis lah sepuasnya jika itu bisa membuat beban di hatimu berkurang!" kata Regan yang tahu bahwa Ana menahan tangisnya agar tidak sampai terdengar oleh Regan.


Akhirnya Ana berani menangis dengan keras, dia menumpahkan segala gundah yang ada di dalam hatinya, Regan benar benar miris melihatnya.


Dengan satu tarikan tangannya yang kokoh, Regan meletakkan kepala Ana di bahunya, seperti kata orang, bahu suami adalah sandaran terbaik dan tempat ternyaman untuk istri dan Regan ingin Ana merasakan hal yang sama.


Ana semakin menangis mendapat perlakuan manis dari suaminya yang kejam dan galak tersebut.


Sampai di rumah sakit, Ana langsung berlari ke ruang VIP, tempat dimana Bara di rawat selama ini, di sana Bara sudah membuka matanya dengan sempurna.


Seulas senyum tersungging di bibirnya tatkala melihat kedatangan Ana, adik semata wayangnya, yang sangat di sayangi dan di cintai nya.


Air mata sukses membasahi pelupuk mata Bara dan Ana langsung menghambur ke pelukan kakaknya.


"kak...!" lirih Ana sambil terus mendekap erat tubuh Bara.


"Ana.. adikku!" lirih Bara tak kalah mirisnya dengan Ana.


Cukup lama mereka berpelukan sambil menangis melepas kerinduan masing masing.


"maafkan kakak ya..!" kata Bara setelah melepas pelukannya.


"maaf karena kakak sudah menyusahkan mu.. seharusnya kakak yang bekerja untuk menghidupi mu tapi kenyataan nya malah kau yang bekerja membanting tulang untuk membiayai pengobatan kakak!" kata Bara sambil menggenggam tangan Ana.


"dan di kamar yang semewah ini.. apa kau naik jabatan?? atau kau punya usaha lain?? karena setahu kakak gaji mu tidak mungkin cukup untuk membayar sewa kamar VIP ini!" kata Bara sambil menatap sekelilingnya, dia merasa takjub dengan interior rumah sakit yang lebih mirip dengan kamar hotel bintang 5.


"em.. itu.. aku...!" Ana tampak ragu untuk memberitahukan yang sebenarnya kepada Bara.


"kenapa An??" tanya Bara yang tahu kalau adiknya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"kenapa kau diam saja?? apa kau tidak mau mengenalkan suamimu ini pada kakak iparnya??" kata Regan yang tiba tiba masuk dan menghampiri kedua kakak beradik tersebut.

__ADS_1


Wajah Ana langsung pucat sementara Bara berusaha mengenali sosok yang sangat familiar di hadapannya tersebut.


"suami??" ulang Bara sambil mengernyitkan keningnya karena bingung.


"iya.. KAKAK IPAR!!" sahut Regan dengan penuh penekanan sambil berjalan mendekat ke arah mereka.


"An.. apa apaan ini??" Bara semakin bingung dan langsung bertanya pada Ana yang terlihat pias.


"sayang.. kenapa kau diam saja?? katakan sesuatu!!" kata Regan sambil mencengkeram bahu Ana agak kuat membuat Ana tidak bisa berkutik.


"Ana...!" panggil Bara lagi.


Ana tidak punya pilihan lain selain mengatakan yang sesungguhnya pada Bara.


"Ana.. apa benar yang dikatakan pria ini barusan???" tanya Bara lagi.


Ana tertunduk sambil menghela nafas.


"Ana... lihat kakak!" kata Bara sambil mendongakkan dagu Ana dengan tangannya.


Regan hampir naik darah ketika melihat Bara menyentuh miliknya, meski Regan tahu kalau Bara adalah kakak kandungnya tapi bagaimana pun jiga Bara tetap lah seorang pria dan Regan tidak rela ada pria lain yang menjamah miliknya.


Ana mendongak dan menatap manik mata hitam legam milik kakaknya.


Ana mengangguk pelan dan air mata kembali membanjiri wajahnya.


Wajah Bara berubah kaku, tersirat kekecewaan yang mendalam di sana dan Ana tidak mampu menatapnya lagi, dia langsung menundukkan kepalanya sambil menangis tersedu.


"ma..maafkan aku kak!' lirih Ana di sela isak tangisnya.


Bara terdiam.


"seharusnya kau senang dan berterima kasih padaku karena aku mau menikahi adikmu, secara sah pula!! dengan begitu adikmu tidak perlu susah susah bekerja untuk membiayai pengobatan mu!!!" celetuk Regan dengan bangganya.


"dan aku tidak memilihkan rumah sakit yang kaleng kaleng untukmu, kau ada di rumah sakit terbaik di kota ini!!!" tambahnya.


Bara masih terdiam.


Sementara Ana hanya bisa pasrah.


"kenapa kau melakukan semua ini?" akhirnya Bara membuka suara.


"kenapa?? apa kau sungguh tidak mengenal ku??" sahut Regan sambil mendelik tepat di depan wajah Bara.


Bara kembali mengamati wajah pria misterius di hadapannya yang sudah menjadi suami dari adik tercintanya tersebut.

__ADS_1


"apa kau masih belum bisa mengenali ku??" tanya Regan lagi.


Bara terus memutar otaknya.


"aku adalah pria yang di tinggalkan oleh pengantin wanitanya beberapa tahun silam dengan alasan si wanita lebih mencintai pria lain!!" Regan mulai bernarasi membuat Bara kembali terkejut.


"dan sangat menyakitkan ketika aku tahu seperti apa pria yang wanita itu cintai!! dia bahkan tidak sebanding dengan ku!!" lanjutnya mulai ada emosi dalam setiap perkataannya.


"ketika semuanya sudah di persiapkan dengan baik, dia malah pergi begitu saja tanpa memikirkan bagaimana hancurnya perasaan ku saat itu!! aku hampir gila karena ulahnya!!" kata Regan lagi.


Nafas Regan terengah menahan emosi yang mulai membuncah di dalam hatinya.


"apa kau sudah mengingat sesuatu??" tanya Regan kepada Bara.


Bara ingin menjawab namun bibirnya terasa kelu.


"Tia.. Sintia Lazuardi!! apa kau ingat nama itu??" sentak Regan semakin kesal karena Bara tak kunjung meresponnya.


"Tia...!" lirih Bara, kini air matanya kembali luruh.


"jangan sebut namanya dengan mulutmu yang kotor itu!!!" bentak Regan dengan nada tinggi.


Suaranya sampai menggelegar ke seluruh sudut ruangan, untung saja kamar ini kedap suara sehingga tidak akan terdengar keluar.


"kau pria yang tidak tahu diri!! brengs*k!!!" umpat Regan sambil menarik kerah baju Bara.


Bara hanya diam menerima segala amarah Regan padanya, seolah semua yang Regan katakan adalah benar adanya.


"jangan sakiti kakakku!!" Ana memohon sambil menarik tangan Regan yang mencengkeram kuat kerah baju kakaknya.


"dia yang menyakitiku!! jadi sudah sepantasnya sekarang aku menyakitinya!!" sungut Regan sambil menepis tangan Ana dengan kasar.


Ana sampai terjatuh dan kepalanya terantuk lantai, alhasil kepalanya langsung berdarah.


"Ana.." teriak Bara khawatir melihat kepala adiknya berdarah karena ulah Regan.


Regan pun ikut ikutan menoleh dan betapa paniknya dia ketika melihat kepala Ana berdarah.


Tanpa berpikir panjang, Regan langsung membopong tubuh Ana dan membawanya ke UGD.


Ana agak limbung dan akhirnya jatuh pingsan dalam dekapan Regan.


"maafkan aku!" lirih Regan dengan penuh penyesalan.


🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗

__ADS_1


__ADS_2