Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 4


__ADS_3

Ana yang sibuk membuka pintu untuk bisa kabur, tidak memperhatikan Regan yang sudah terlelap, lilin di tangannya lun mulai meleleh merembes di karpet,


Dalam sekejap saja karpet berbahan bulu tersebut hangus terbakar menciptakan kobaran api yang besar dengan begitu cepat.


Hawa panas mulai menyapa tubuh Ana dan seketika itu pula Ana tersadar bahwa telah terjadi kebakaran di ruangan tersebut.


Ana menghampiri Regan yang terlelap karena mabuk berat, gadis itu berusaha membangunkannya.


"hei kau iblis!!! bangun lah!! berikan kuncinya atau kita akan hangus terbakar jika tetap berada disini!" teriak Ana sambil mengguncang tubuh Regan.


"bangun lah!! bagaimana bisa kau tertidur di saat seperti ini hah??" Ana lebih berteriak lagi bahkan dia mulai berani menampar pipi Regan namun Regan tetap tidak bergeming.


"sialan!! iblis yang menyusahkan!" gerutu Ana.


Ana kembali ke pintu, dia mulai mengangkat kursi untuk mendobrak pintu kokoh tersebut, Ana terus saja berusaha sampai pintu itu akhirnya bergerak walau sedikit.


Kobaran api mulai membesar dan hampir menjilat tubuh Regan, dengan cepat Ana menyeret tubuh pria iblis tersebut.


"setidaknya aku bukan iblis seperti dirimu! meski kau jahat, aku tetap harus menolong mu!" gumam Ana sambil terus menarik tubuh Regan menjauh dari kobaran api.


Kobaran api semakin mendekat ke arah mereka berdua, Ana terus berusaha melindungi Regan agar tidak terbakar oleh api.


"tolong...tolong...." akhirnya Ana berteriak putus asa, tangan dan punggungnya mulai terbakar.


Dengan sisa kekuatan yang ada, Ana terus mendobrak pintu sambil memegangi tubuh Regan.


Pintu akhirnya terbuka, Ana langsung berteriak meminta pertolongan, Ana menyeret tubuh Regan keluar kamar lalu para anak buah Regan berdatangan dan langsung membantu Ana menyeret tubuh Regan.


Ana yang sudah kehabisan tenaga, akhirnya jatuh pingsan, sebagian dari mereka berusaha memadamkan api dan yang lainnya memberi pertolongan pada Ana dan Regan.


Regan mulai sadar meski belum sepenuhnya,


"Tuan...Tuan.. apa anda baik baik saja?" tanya Jay, asisten kepercayaannya.


Regan berusaha mengerjapkan matanya dan memegangi kepalanya yang terasa berat.


"ish... dimana aku?? apa yang terjadi?" tanya Regan sambil berusaha untuk bangun.


"telah terjadi kebakaran Tuan di villa anda!" sahut Jay dengan cepat.


"kebakaran?? bagaimana bisa??" tanya Regan mulai mengingat ingat kejadian sebelum dia terpejam.


"tadinya listrik sempat padam Tuan! anda sedang berada di dalam kamar bersama wanita itu!" sahut Jay lagi.

__ADS_1


"wanita?? Ana?? dimana sekarang wanita itu? apa dia selamat?" tanya Regan yang mulai mengingat semuanya.


"dia selamat Tuan dan dia juga yang telah menyelamatkan anda dari kebakaran itu!" sahut Jay menjelaskan.


"mana mungkin dia menyelamatkan ku!!" sahut Regan dengan ketus.


"tapi itulah kenyataannya Tuan! jika saja dia tidak menyeret anda keluar, mungkin anda sudah hangus terbakar!" kata Jay lagi.


"ah tidak mungkin!!!" ujar Regan tidak menerima penjelasan yang Jay berikan.


"dan sekarang wanita itu sedang sekarat Tuan!" lanjut Jay memberitahu pada Regan.


"apa? sekarat?? kenapa kau tidak membawanya ke rumah sakit hah?" bentak Regan langsung bangkit mencari keberadaan Ana.


"kami menunggu Anda siuman Tuan!" sahut Jay dengan takut.


Regan melihat kondisi Ana yang terluka parah di bagian tangan dan punggungnya, luka yang di sebabkan oleh api.


Matanya terpejam dengan nafas tersengal, sepertinya dia terlalu banyak menghirup asap.


"cepat bawa dia ke rumah sakit terdekat!" titah Regan pada semua anak buahnya.


Regan pun mengikutinya dari belakang, di dalam mobil Regan terpaksa memangku kepala Ana karena tidak ada sandaran lagi selain pahanya sendiri.


"baik Tuan!" sahut sopir yang langsung menambah kecepatan mobilnya.


kau memang gadis bodoh yang menyusahkan!!!


Mereka telah sampai di sebuah klinik, maklumlah posisi mereka kini berada di sebuah desa terpencil jadi hanya ada klinik saja, itupun sudah tutup.


Regan mendobrak pintu klinik dengan kakinya karena kedua tangannya sedang membopong tubuh Ana.


"hei kau!! cepat tangani wanita ini!!" ujar Regan dengan nada marah kepada salah seorang perawat yang baru terbangun dari tidurnya.


"ba..baik Tuan! letakkan pasien di atas brankar!" sahut orang itu dengan takut takut.


Setelah tubuh Ana di letakkan di atas brankar, dua orang yang di panggil perawat itu segera memberi pertolongan pada Ana.


"maaf Tuan.. pompa oksigennya rusak sehingga tidak bisa membantu pasien!" kata salah satu perawat itu kepada Regan.


"brengsek!! kenapa kau mengatakan hal itu padaku?? lalu bagaimana??" sergah Regan gusar.


"kami harus memberinya nafas buatan!" ujar mereka secara bersamaan.

__ADS_1


"ya sudah lakukan saja!! apa yang kalian tunggu??" bentak Regan tidak sabaran.


"ba..baik Tuan!! sekali lagi saya minta maaf Tuan karena harus menyentuhnya!" jawab perawat yang sudah berkeringat karena takut pada bentakan Regan.


"cepat lakukan apapun yang bisa membantunya bertahan hidup!!!" bentak Regan lagi dengan suara yang semakin menggelegar.


Salah satu perawat tersebut langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Ana hendak memberinya nafas buatan, Regan langsung membelalakkan mata melihat apa yang akan dilakukan pria tersebut pada Ana.


"stop!!! apa yang akan kau lakukan hah???" teriak Regan sambil mencengkeram kerah baju perawat tersebut.


"kami tidak punya cara lain lagi Tuan untuk membantunya!!" sahut perawat itu dengan kepala tertunduk.


"sialan kau!! siapa yang menyuruhmu untuk menyentuhnya hah!!!" bentak Regan marah dan menampar pipi sang perawat.


"lalu bagaimana caranya jika tidak menyentuhnya?? apa anda yang akan memberinya nafas bantuan Tuan?" tantang perawat yang satunya lagi.


"aku? cuih!! aku tidak sudi menyentuhnya!" sahut Regan merasa jijik.


"jadi tolong biarkan kami yang membantunya!! sebaiknya anda tunggu di luar agar kami bisa bekerja dengan tenang!" ujar perawat itu berusaha untuk tenang.


"sebaiknya kita tunggu di luar saja Tuan!" bisik Jay pada Tuannya.


"baiklah!" sahut Regan sambil menatap sekilas pada Ana yang terbaring lemah tak berdaya.


Baru saja beberapa langkah, Regan sudah kembali lagi ke dalam ruangan dan berkata,


"biar aku saja yang memberinya nafas buatan!" ucap Regan sambil mendekati Ana.


Jay tampak sangat terkejut dengan keputusan yang di ambil oleh Tuannya tapi dia tidak berani membantahnya.


Regan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Ana lalu mencium bibir gadis itu untuk memberinya nafas buatan


Tak lama, Ana mulai terbatuk batuk dan nafasnya mulai longgar dan tidak tersengal lagi.


Regan langsung keluar dari ruangan sambil mengusap kasar bibirnya,


"kau jangan salah sangka Jay!! aku hanya tidak ingin berhutang nyawa padanya dan sekarang kita impas!!!" ujar Regan menjelaskan pada Jay.


*Padahal aku tidak berkata apapun, kenapa kau menjelaskannya padaku Tuan?? bahkan meskipun kau menciumnya sekalipun, kami tidak bisa membantah nya.


Setidaknya kau sudah pernah mencium seorang wanita Tuan*!


💋💋💋💋💋💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2