Dendam Cinta Tuan Muda

Dendam Cinta Tuan Muda
Bab 2


__ADS_3

Pagi pun datang, Ana menggeliatkan tubuhnya sambil mengerjapkan mata, badannya terasa sakit semua di tambah lagi pergelangan tangan dan kakinya yang terasa perih karena lecet.


"argh!" lenguh Ana saat hendak bangkit dari tidurnya, Ana memegangi kepalanya yang terasa pening.


"argh, kepalaku!" lenguh Ana sambil memijat keningnya sendiri.


Ana menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, dirinya baru sadar jika ruangan ini bukan lah kamarnya.


Lalu Ana mulai mengingat bahwa dirinya telah menjadi korban penculikan oleh orang tak di kenal, lalu kenapa dia bisa ada di kamar ini? bukan kah semalam dia masih terikat di kamar gelap dan pengap itu.


Suara pintu di buka telah membuyarkan lamunannya,


"apa tidurmu berkualitas? dasar penipu!" ujar Regan yang telah membuka pintu tersebut dengan nada sinis nya.


"penipu? apa maksudmu?" tanya Ana tak mengerti.


"berani beraninya kau menipuku hah!!!" bentak Regan kesal.


"aku menipumu?? haha.. apa kau sedang bermimpi?? dan siapa kau? aku tidak mengenalmu!" sahut Ana sambil tergelak meremehkan.


"kau mungkin tidak mengenalku tapi aku mengenalmu dengan baik!" ujar Regan sambil menatap nakal ke arah Ana.


Ana merasa risih dengan tatapan Regan, dia segera menutupi tubuhnya kembali dengan selimut dan disitu lah dia baru sadar bahwa pakaiannya sudah berganti dengan pakaian pria.


Ana menatap shock ke arah tubuhnya sendiri dan berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya, dia menggeser tubuhnya berusaha mencari bercak darah di sprei, seperti pada novel yang biasa dibacanya, setelah di perkosa maka akan ada bercak darah di sprei tersebut.


"heh bodoh!!! apa yang kau pikirkan hah?" suara Regan terdengar menggelegar mengisi penuh seluruh sudut ruangan tersebut.


"apa kau sudah memperkosaku?" tanya Ana kemudian dengan wajah pucat pasi.


"haha.. apa?? aku memperkosa mu? haha...!" Regan terbahak mendengar tuduhan Ana kepadanya.


"biadab!!" umpat Ana karena geram dengan gelak tawa Regan yang terdengar sangat merendahkan dirinya.


Regan tiba tiba menghentikan tawanya karena mendengar umpatan Ana,


Regan melangkah maju mendekati Ana dan menjambak rambut Ana dengan kasar,


"Argh!" ringis Ana karena merasakan sakit di kepalanya, Regan menjambak kuat rambut panjang milik Ana.


"apa katamu barusan? biadab?? berani beraninya kau memaki ku hah!!!" bentak Regan dengan emosi yang berapi api, bahkan Regan semakin menarik rambut Ana sampai tubuh Ana terangkat.

__ADS_1


"lalu apa nama yang pantas untuk pria kejam sepertimu hah??" teriak Ana berusaha menelan rasa takutnya.


"sekali lagi kau berani mengumpat, akan ku robek mulutmu itu!!!" ancam Regan dengan wajah menakutkan.


"robek saja bila perlu bunuh saja aku sekalian!!!" tantang Ana.


"punya nyali juga kau ya!" sahut Regan yang mulai terpancing,


Regan membuka sepatu mahalnya dan menggunakan sepatu berbahan baja tersebut untuk menampar mulut Ana,


Ana meringis kesakitan karena akibat tamparan tersebut bibirnya robek dan mengeluarkan banyak darah.


"coba ulangi lagi kata katamu tadi!!!" seru Regan yang melihat Ana yang memegangi bibirnya yang berdarah dan kesakitan.


"biadab!! pemerkosa tak punya hati!" ucap Ana dengan segenap keberaniannya yang tersisa.


Regan semakin emosi, dia menjambak rambut Ana lagi sampai wajah Ana menghadap ke wajahnya,


"berani sekali kau? memangnya kau punya nyawa berapa hah???" sungut Regan dengan seringai menyeramkan.


"buat apa aku takut pada orang sepertimu!!" Ana masih sanggup menyahuti Regan.


luar biasa sekali keberanian mu gadis bodoh!!! apa kau kucing? yang nyawa lebih dari satu? berani sekali kau melawanku!


"kau brengsek!!! bisa bisanya kau memperkosaku di saat aku tidak sadar!!!" sungut Ana dengan berani.


"oh jadi kau ingin di perkosa dalam keadaan sadar? agar kau bisa menikmatinya?? dasar j*lang murahan!!!" hina Regan sambil menatap jijik pada Ana.


"lebih baik aku mati daripada harus menikmatinya!" sahut Ana lagi.


"haha.... benarkah?? apa kau tidak takut mati?" kata Regan dengan penuh penekanan.


"buat apa takut??" sahut Ana tak gentar.


Regan menarik kabel lampu dengan kasar sampai terputus dan menyisakan kabel terbuka beraliran listrik dan berusaha menakuti Ana dengan menyentuhkan kabel bertegangan tinggi tersebut ke jari jari tangan Ana.


Ana tampak berkeringat dan ketakutan melihat aliran listrik yang bertabrakan satu sama lain dan menciptakan percikan api.


"ini yang kau bilang tidak takut mati?" kata Regan sambil menyeringai, Regan meletakkan kabel tersebut pada jari kaki Ana dan Ana langsung terlonjak akibat tersetrum.


"argh" lenguh Ana merasakan kakinya yang tersengat kabel listrik.

__ADS_1


"bagaimana rasanya? mau lagi?" tanya Regan sambil tersenyum sinis, Regan kembali menyetrum jari kaki Ana dan tubuh Ana kembali terlonjak hebat.


Tanpa di sadari, air mata mulai mengalir membasahi wajah Ana, Ana sebisa mungkin menepis air mata tersebut, dia tidak ingin terlihat lemah di depan pria kejam tersebut.


"bunuh saja aku sekarang!!! aku tidak takut padamu!!" teriak Ana geram.


"membunuhmu?? oh tidak... aku masih ingin bersenang senang dengan mu wanita j*lang!!!" cibir Regan senang melihat Ana menderita.


"apa mau mu hah?" ketus Ana.


"mau ku? menyiksamu!" sahut Regan lalu tergelak hebat.


"apa salahku padamu sampai kau ingin menyiksaku? aku bahkan tidak mengenalmu!" sungut Ana tak gentar dengan pelototan tajam Regan kepadanya.


"salahmu? hem.. apa ya??" ujar Regan dengan santainya.


"dasar brengsek kau!" maki Ana.


"berhenti memaki atau aku akan menjahit mulutmu itu!" kata Regan mengancam Ana.


Nyali Ana sedikit menciut, karena yang dikatakan Regan bukan hanya sekedar ancaman belaka, dia bisa melakukannya seperti halnya tadi mulut Ana yang di tampar dengan sepatu berbahan baja milik Regan sampai bibir itu robek dan mengeluarkan banyak darah.


"kenapa kau diam?? apa kau sudah tahu bagaimana rasanya takut hah??" ejek Regan yang melihat Ana tidak bergeming sama sekali.


"dasar psikopat gila! entah setan apa yang merasuki jiwamu sampai kau tega melakukan ini padaku!!!" ucap Ana dengan suara bergetar.


Tubuhnya yang masih lemas di tambah lagi dengan luka yang mengeluarkan banyak darah membuat tubuh ringkih Ana semakin lemah tak berdaya, Ana kembali sempoyongan dan hampir saja tersungkur ke lantai namun dia berusaha mempertahankan kesadarannya dengan sekuat tenaga.


"kau pria brengsek yang kejam!" lirih Ana di sela sela kesadarannya yang hanya tinggal beberapa persen saja.


"dalam keadaan lemah begini saja kau masih bisa mengumpat ku!! sepertinya aku harus benar benar menjahit mulutmu!!" ucap Regan berusaha menahan emosinya melihat kondisi Ana yang semakin lemah tak berdaya.


"terserah kau saja, jika masih tidak puas, bunuh saja aku!" ucap Ana dengan suara yang mulai samar terdengar.


"aku tidak akan melepas mu dengan mudah, walau pada akhirnya aku memang akan membunuhmu tapi terlebih dahulu kau harus merasakan sakitnya siksaan dariku!" kata Regan dengan bangganya.


"dan satu lagi, aku tidak sudi menyentuh tubuhmu yang kotor itu dan aku sungguh tidak tertarik memperkosa mu!!!!" lanjut Regan dengan tatapan tidak suka.


Ana berusaha mendongakkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Regan, tak lama Ana langsung tak sadarkan diri.


Tubuhnya roboh di pangkuan Regan.

__ADS_1


👾👾👾👾👾👾👾👾


__ADS_2