
" Neneek... neneek bangun nek jangan tinggalkan Dewita nek, huuuuu huuuu ",
" Nanti Dewita tinggal sama siapa, ayo bangun nek ajak Dewita juga, Dewita tidak mau tanpa nenek ",
Tangis Dewita kecil menggema didalam rumah duka, Nenek yang sangat disayanginya meninggal karena penyakit jantung yang telah lama di deritanya.
Anak 10 tahun itu terlihat sangat menyedihkan, dia tak ingin beranjak meninggalkan sang nenek.
Sampai seorang perempuan paruh baya dengan 2 orang anak nya memasuki rumah duka, para tetangga pun membujuk dan menarik paksa Dewita dari sisi sang nenek agar jenazahnya dapat di urus dan segera dimakamkam.
Dewita yang kelelahan karna tangisnya pun tertidur di pangkuan Ibu Eti salah satu tetangganya.
" Kasihan kamu nak, Nenek ida sudah pergi, semoga saja Ibumu sudah berubah dan mau untuk merawatmu ",
Ibu Eti bergumam dengan sedihnya mengingat bagaimana Dewita yang masih seorang bayi dan bahkan baru 3 hari dilahirkan dengan kejammya diletakkan di tempat pembuangan sampah oleh ibu kandungnya sendiri. Beruntungnya sang nenek yang mengetahui itu langsung datang dan menemukan si bayi Dewita yang tengah menangis dengan badan penuh bercak merah karena dikerubungi semut dan lalat.
*Flashback on
__ADS_1
" Akhirnya kamu sampai juga nak, loh mana bayimu Wati? ", tanya nenek Ida
" ku buang di tempat sampah , aku tidak butuh anak pembawa sial sepertinya",
" Astagfirullaah , nyebut kamu wati itu anakmu loh ",
Mendengar Anaknya dengan tega membuang bayi yang baru dia lahirkan ketempat sampah membuat Nek Ida Syok.
Teriakannya terdengar oleh beberapa tetangganya. Mereka yang melihat Wati pun mendatanginya dengan maksud ingin melihat si bayi yang baru lahir.
Namun alangkah terkejutnya mereka ketika mendengar Nek ida memarahi Wati karna telah membuang bayinya.
Saat memasuki area TPS terdengar suara bayi menangis dengan kerasnya. Nek Ida dan warga pun bergegas dan betapa kagetnya Nek Ida saat menemukan sang cucu dalam keadaan menyedihkan Tubuhnya dikerubungi lalat dan semut merah, beruntungnya sibayi belum ditemukan oleh tikus.
Mereka pun segera membawa sang bayi ke puskesmas untuk diberikan pertolongan.
Nek Ida yang melihat keadaan cucunya yang menyedihkan menitipkan kepada Tetangganya sejenak. Nek Ida ditemani Ibu Eti dan suaminya pulang untuk menemui Wati.
__ADS_1
Terlihat Wati tengah menyeret koper besar bersama dua anaknya keluar dari rumah Nek Ida.
" Mau kemana kamu Wati ?, sini ikut ibu ke puskesmas lihat putrimu hampur kehilangan nyawanya ", terang Nek Ida
" Wati gak mau, wati kan udah buang anak itu, wati gak butuh anak pembawa sial itu, karna dia hadir Mas Hendri bangkrut dan terpaksa harus merantau, saat akan kulahirkan Mas Hendri mengirimkan aku surat cerai dan mengatakan dia telah menikah dengat anak bosnya di sana, anak apa lagi dia kalau bukan anak sial ", teriak Wati.
plak
satu tamparan mendarat di wajah wati.
" kalau kamu memang tidak menginginkan anak itu seharusnya tidak perlu kamu buang ketempat sampah wati, suka tidak suka ibu akan tetap merawat cucu ibu itu. kalau kamu tidak terima silah keluar dari rumah ibu ".
" Ibu malu punya anak kayak kamu, kamu tidak punya hati wati, pergi kamu dari sini ",
Nek Ida pun kembali ke puskesmas dan memeluk cucunya.
" Maafkan ibumu nak, dia hanya bingung sekarang karna ulah ayahmu, semoga kelak kamu mau memaafkan ibumu nak ", ucap Nek Ida dengan deraian air mata.
__ADS_1
" mulai sekarang kamu nenek yang rawat yah, ",
flashback off*