Derita Sigadis Bungsu

Derita Sigadis Bungsu
Kotak pemberian Nenek


__ADS_3

Setelah puas menangis Dewita beranjak keluar dan ingin kembali ke kamar nya. Sampai dikamar Dewita kembali menangis mengetahui jika selama ini dia dipertahankan dirumah itu hanya karna harta warisan sang nenek.


Lamunan Dewita terhenti kala ketukan pintu kamarnya terdengar.


Tok.. Tok.. Tok..


Tok.. Tok.. Tok..


klek


" Dewita maaf kakak ada kerjaan lagi, kakak hanya ingin memberikan ini, kakak tahu apa yang terjadi dikamar mamah. lihat dan bacalah isi kotak itu ",


" loh inikan kotak punya Dewita, sudah lama aku cari kak ", ucap Dewita dengan mata berkaca-kaca.


" yah maaf kakak mengambil kotak itu tanpa sepengetahuan kamu, buka dan bacalah isinya. kakak pergi dulu ",


Asmita berlalu tanpa menunggu jawaban dari Dewita. Perlahan Dewita menutup pintu dan membuka kotak itu. Didalam kotaknya terdapat beberapa foto lawas Wati bersama seorang pria dengan mengenakan pakaian adat pernikahan.


" Apakah ini Ayah? wajar saja mamah tak pernah mau melihatku ternyata benar wajahku sangat mirip dengannya ", ujar Dewita tersenyum tapi dengan air mata.


dikotak itu ada beberapa Foto ayahnya juga foto dirinya waktu bayi. Ada beberapa surat didalamnya. Ada yang dari nenek, ada juga dari sang ayah dan ada juga satu dari Bu Eti. Tetangga Dewita dulu.


" Bu Eti apa kabarnya bu, lama Dewita tak melihat Ibu, rasanya Dewita Rindu apalagi sama Nenek Dewita rindu sekali ",

__ADS_1


Salah satu surat dari sang nenek dia buka.


" Untuk cucuku Dewita


Nak maafkan Nenek karna tidak bisa terus menemanimu. *Lihatlah nak, nenek menyimpan Foto ayah dan ibumu juga, itu adalah foto ayahmu. pasti sekarang wajahmu begitu mirip dengannya. masih kecil saja garis wajah kalian sudah sama. jangan bersedih jika kamu mengetahui kebohongan dari nenek. nenek melakukan itu karna sayang padamu. nenek tidak ingin kamu bersedih disepanjang masa kecilmu.


Nenek sayang Dewita* "


Kerinduan Dewita pada sang nenek bertambah setelah membaca salah satu suratnya.


Dewita menyurutkan niatnya membaca semua surat itu, dia tak siap membacanya sekaligus. Dewita tertidur dalam tangis karna kerinduannya.


Dewita bahkan melewatkan makan siang juga makan malam. Tapi meski begitu mbok Asih tetap tak lupa pda Dewita dia membawakan makanan juga beberapa buah dan menyimpanya di atas meja belajar Dewita dan berharap anak itu bangun dan memakannya.


Jam 2 malam Dewita terbangun dari tidurnya karna merasa lapar. saat ingin membuka pintu kamar dia sekilas melihat sesuatu diatas meja dan ternyata ada makanan juga beberapa buah dan cemilan. meskipun makanannya sudah dingin tetap Dewita makan karna ia pun malas untuk datang kedapur dan menghangatkannya.


Setelah selesai makan Dewita bermaksud melanjutkan tidurnya. akan tetapi dirinya tidak bisa tertidur. sampai jam 4 subuh barulah Dewita bisa tidur kembali.


Jam 7 pagi pintu mbok Asih masuk dan membangunkan Dewita.


" Neng bangun neng, udah jam 7 itu ",


" mbok Dewita gak mau kesekolah dulu mbok, Dewita kurang enak badan ",

__ADS_1


" Oh ya sudah neng istirahat lagi nanti mbok bawakan sarapannya ",


" eh jangan mbok, nanti Dewita keluar sarapan bareng mbok aja yah ",


" ya sudah nanti mbok panggil yah ",


Mbok Asih beranjak keluar. Dewita bangun dan kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sebenarnya dia sehat-sehat saja akan tetapi dia merasa tak semangat untuk kesekolah. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya Dewita memberitahukan Anggi agar dia dimintakan izin pada guru.


tuuuut...


tuuuut..


" hallo "


" Gi tolong bantuin izin yah nggi, aku lagi gak enak badan ",


" Loh kok bisa dew, kemarin kayaknya baik-baik aja ",


" Ya yang namanya sakit nggi kan bisa datang kapan aja, udah bantuin izin yah. udah dulu kepala aku sakit nih ",


" eh tapi Dew... ",


Belum selesai Anggi bicara Dewita mematikan sambungan telfonnya karna Anggi akan terus mencecarnya dengan pertanyaan pertanyaan yang akan membuatnya sulit untuk menjawab.

__ADS_1


__ADS_2