Derita Sigadis Bungsu

Derita Sigadis Bungsu
Murung


__ADS_3

Dewita menjalani harinya dengan murung, bahkan sampai dirumah dia hanya mengurung diri di kamar. Mbok Asih dan Titi mengira mungkin Dewita masih belum terlalu sehat.


Sampai di waktu makan malam selesai Dewita tetap dikamarnya. Bahkan sepulang sekolah dia juga tidak makan.


Mbok Asih menghampiri Dewita dengan membawa nampan berisi makanan dan air juga susu.


Tok..


Tok..


Tok..


Tak biasanya Dewita mengabaikan ketukan pintu kamarnya juga mengabaikan panggilan mbok Asih.


Karna khawatir mbok Asih mencoba membuka pintu kamar Dewita yang ternyata tidak terkunci.


Dilihatnya Dewita yang tertidur meringkuk bahkan masih memakai baju sekolahnya.


Mbok Asih khawatir kalau Dewita sakit lagi. Dia pun meletakkan nampan di lantai dan berkasud membangungkan Dewita, tapi niatnya itu dia urungkan kala melihat Dewita yang tidur dengan mata sembab sembari memeluk erat foto sang nenek dan sesekali mengigau.


" Aku rindu nenek ",


Melihat itu mbok Asih merasa iba. Tapi demi kesehatan Dewita dia terpaksa membangunkannya untuk makan.


" neeeng ",


" neng Dewita bangun yah, makan dulu. kan belum makan dari siang ",


Dewita yang merasakan sentuhan mbok Asih dikepalanya perlahan membuka mata.


" mbook, maaf yah mbok Dewita gak bantu mbok Asih hari ini. Dewita ketiduran ", ucap Dewita


" iyya neng, gak papa. udah ayo bangun yah makan, pulang sekolah tadi juga neng gak keluar makan ",


" iya mbok ",


Dewita bangun dari tempatnya dan duduk didekat mbok Asih.


" eh, sebelum makan ganti baju dulu neng,itu bajunya belum di ganti loh ",


Dewita melihat pakaiannya dan tertawa


" hahahaha iyya mbok ternyata aku masih pake baju sekolah😁 , bentar yah mbok aku ganti baju dulu ",

__ADS_1


" ya sudah ganti baju baru makan yah, mbok mau keluar dulu masih ada kerjaan ",


" biasanya kan mbok kalau sudah makan malam gak kerja lagi ",


" iya, besok kakaknya neng Dewita, non Anita ulang tahun dan mau bikin acara sama teman-temannya. Mbok diminta bikin kue yang banyak katanya ",


" Waaah bikin kue mbok, aku ikut bantu bikin yah mbok. boleh yah boleh yah ",


" iya boleh tapi makan dulu yah, nanti susul mbok ke dapur saja ",


" oke mbok ",


Mbok asih meninggalkan Dewita sendiri dan kembali kedapur. Dewita yang sudah mengganti pakaiannya segera menghabiskan makanannya agar dia bisa ikut membuat kue bersama mbok dan mbak Titi.


Sejenak dia melupakan kesedihan dan kerinduannya pada sang nenek.


Setelah selesia makan, Dewita membawa nampan itu dan isinya kembali kedapur.


Disana terlihat Mbok Asih dan mbak Titi telah memasak beberapa agar-agar.


" Mbak Dewita bantu yah ",


" eh Dewita sudah makan? ",


Kedua ART ibunya itu merasa senang melihat Dewita yang kembali ceria.


" nih, Dewita bantu potong-potong kecil agar-agarnya yah ",


" siap mbok ", seraya mengambil pisau kecil dan mulai memotong agar-agar.


Dewita mengerjakan itu dengan terus bertanya dan berceloteh. Dia selalu merasa senang jika bersama mbok Asih dan Mbak Titi. Dia sudah menganggap mereka berdua seperti keluarga. Tak sama dengan ibu dan kakak-kakaknya yang entah kapan bisa menyayanginya. begitulah yang selalu ada di pikirkan Dewita.


Tak lama Dewita menyelesaikan potonga agar-agarnya.


" mbak sudah nih ",


" wah cepat juga yah ", puji mbak Titi


" iya lah cepat orang tinggal dua loyang yang mbak sisakan ", ucap Dewita cemberut


Mbak Titi tertawa melihat Dewita manyun.


" Ya sudah, sini bantu mbak cetak puding tapi hati-hati yah jangan sampai kena tangan karna masih panas ",

__ADS_1


" oke siap mbak ",


Dewita melakukannya dengan hati-hati sambil memperhatikan mbok Asih yang membuat bolu.


" waah mbok kayaknya enak yah ",


" neng mau coba? ",


" mau sih tapi jangan deh mbok, nanti ketahuan kak Anita bisa-bisa Dewita disemprot lagi sama suara cemprengnya ", ucapnya dengan memanyunkan mulutnya.


" Kenapa yah mbok Kak Asmita gak pernah bicara sama aku, kak Anita juga sukanya nyuruh-nyuruh sama marah-marah sama Dewita ",


Mbom Asih dan mbak Titi hanya saling pandang tak menjawab.


Sejenak mereka terdiam dan juga Dewita kembali murung setelah membahas kedua kakaknya. Mbak Titi yang melihat itu mencoba mengalihkan pembicaraan.


" eh iya, kalau Dewita kapan sih ulang tahunnya? kalau belum lewat, nanti mbak akan ajak Dewita kemana saja yang Dewita mau ",


" waaah beneran mbak, gak boong kan ",


Benar saja Dewita kembali ceria.


" iyya mbak gak bohong tapi yang penting dikasi izin sama ibu ",


" eemm kapan yah, tunggu yah mbak,tunggu yah ",


Dewita kemudian berlari kekamarnya. Menarik mengambil koper kecilnya dan mencari sesuatu disana. Setelah dapat dia langsung berlari kembali kedapur.


" mbak nih, Dewita ulang tahunnya Tujuh juli mbak, nih lihat ", sembari menyerahkan akta kelahirannya.


Mbak Titi dan mbok Asih tertawa melihatnya.


" ya ampun, cukup kasi tahu mbak aja kapannya, gak usah sampe bawa akta kelahiran segala ", ucap mbak Titi dengan tawanya


Dewita yang mendengar itu tersipu malu dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Sudah-sudah ayo lanjutin kerjanya nanti gak selesai-selesai loh ",


" siap mbok ", ucap Dewita dan mbak Titi bersamaan.


Mereka melanjutkan membuat bolu dan puding sambil sesekali bercanda.


Pekerjaan itu selesai saat hampir jam 11 malam. Dewita pun di minta istirahat sedangkan mbok Asih dan mbak Titi membersihkan bekas pekerjaan mereka sebelum istirahat.

__ADS_1


***


__ADS_2