Derita Sigadis Bungsu

Derita Sigadis Bungsu
akan diusir


__ADS_3

Dewita yang sudah pulang kerumahnya langsung masuk kekamar. Rasanya sangat lelah hingga tanpa sadar dia tertidur tanpa mengganti seragamnya.


Tak sampai 1 jam dia tertidur terdengar ketukan dipintu kamarnya. Dengan berat Dewita mencoba membuka matanya dan beranjak membuka pintu.


" Dew, ibu cari kamu ",


" oh iya mbak, aku ganti baju dulu yah mbak ",


Dewita bergegas mengganti pakaiannya lalu bergegas menemui sang mamah. Tak biasanya sang mamah mau memanggilnya biasanya hanya akan bertemu saat jam makan itu pun kadang saling menyapa.


" Mbak, mamah dimana? ",


" Oh, tadi katanya kamu langsung kekamarnya saja ",


" oh iya mbak makasih aku keatas dulu yah ",


Dewita melangkah menuju kamar sang mamah dengan jantung yang berdebar.


" apa aku ada salah yah, tapi apa?, ", ucap Dewita dengan sedikit takut.


Saat akan mengetuk pintu, samar-samar dia mendengar percakapan sang mamah yang sepertinya sedang berbicara dengan kedua kakaknya. Dewita pun mengurungkannya dan ingin mendengarkan dulu apa yang mereka bicarakan.


" Mah, kalau Dewita mama usir setelah dia menanda tangani perpindahan harta itu dia mau tinggal dimana ", ucap Asmita dengan nada kesal.

__ADS_1


" ih apa sih kak, kenapa kamu peduli sama dia ", ucap Anita.


" mau tidak mau, terima tidak terima kamu tidak bisa menyangkal kalau kita sedarah dengan Dewita dia itu adik kita nita ",


" ya adik kita, yang karna kehadirannya membuat kita tak bisa merasakan kasih sayang seirang ayah lagi, yang karna dia juga kita harus hidup menderita ",


" kita masih beruntung nita, kita masih bisa merasakan kasih sayang mamah, tapi Dewita jangankan dari ayah bahkan mama melihat dirinya pun enggan dia hanya bisa mendapat kasih sayang dari nenek dan para tetangga ",


Wati yang mendengar anaknya berdebat hanya bisa memijit kepalanya.


" Sudah-sudah kalian jangan bertengkar lagi. Asmita kalau kamu ingin menyayangi anak itu terserah kamu. tapi mama gak bisa, setiap kali melihat wajahnya mama selalu bisa melihat wajah papah kalian dan itu memmbuat mama merasa sakit hati. tolong nak jangan paksa mamah ", ucap wati


" ya tapi gak harus diusir juga kan mah darij rumah, Dewita cuma punya kita sekarang mah ", ucap Asmita.


" gak boleh, pokoknya Dewita gak boleh tetap ada disini. kalau mamah tetap mengizinkan Dewita disini maka aku yang akan pergi ", ucap Anita marah.


" Anita nak, jangan begitu sayang. mamah sayang sama kalian berdua. baiklah mamah gak akan biarkan dia tinggal disini terus dan untuk kamu Asmita tenang saja mama akan mencarikan rumah sendiri untuk Dewita. dan jika kamu takut mama bohongi maka mama akan membiarkan Mbok Asih ikut tinggal dirumah itu ",


Asmita yang mendengarnya merasa tak percaya. hampir 8 tahun mereka seatap dengan Dewita tapi tak mampu mengurangi rasa benci sang mamah. Asmita ingin protes tapi terhenti karna mendengar ketukan pintu.


" mah, ini Dewita ", ucap Dewita dengan mata merah menahan tangisnya di depan kamar sang mamah.


klek..

__ADS_1


Anita berjalan keluar dengan tatapan sinisnya. Asmita juga keluar dan memeluk Dewita.


" loh kenapa kak, kok tiba-tiba peluk ", ucap Dewita pura-pura tidak tahu.


" Ah gak apa dek, kangen aja karna jarang ketemu ", ucap Asmita tersenyum.


" Sudah sana masuk, mama ingin bicara katanya ",


" oh iya kak ",


" Assalamu alaikum mamah ",


" Mamah ingin kamu menandatangani ini ",


Dewita meraih kertas yang diberikan Wati dan membacanya dengan seksama. Setelah selesai membacanya Dewita pun angkat bicara.


" Mah, apa boleh ini aku ambil kekamar besok akan Dewita berikan jawabannya ",


" tak perlu terburu-buru, lagi pula itu juga baru akan berlaku saat umur kamu 18 tahun ",


" Mah, apa boleh Dewita peluk mamah sebentar saja ",


Wati memejamkan matanya dan menghela nafas panjang.

__ADS_1


" maaf, mamah buru-buru ",


ucap wati lalu beranjak keluar dan pergi entah kemana. Dewita yang mendapat jawaban seperti itu akhirnya tak dapat membendung aur matanya. Dia pun duduk menangis tersedu-sedu dalam kamar itu.


__ADS_2