
Dewita meniggalkan rumah mamahnya dengan perasaan berat. meskipun dia disana sebagai anak tak kasat mata tapi setidaknya masih ada para pekerja mamahnya yang sangat menyayanginya.
Menjelang siang tadi Dewiita diberi tahu oleh Asmita tentang mamahnya. Asmita pun telah memberi alamat rumah untuk ditempati Dewita. Rumah itu adalah rumah yang dibeli oleh Asmita dari hasil kerjanya selama ini.
Sejujurnya Dewita ingin pergi kesana tapi entah kenapa hatinya merasa enggan. Dewita merasa kecil hati dengan semua yang dialaminya.
Lelah berjalan dengan koper yang diseret raansel dipunggung dan tas yang dijinjing Dewita berhenti sejenak duduk di bangku taman pinggir jalan.
Dewita duduk termenung mengingat dirinya. dari kecil hingga sekarang. seakan semua memori itu beterbangan didepan matanya.
Tak mampu membendung air matanya Dewita menangis tersedu-sedu sendirian. Entah apa salah Dan dosanya hingga dia harus hidup seperti itu.
Nenek yang meninggalkannya kembali ke sang pencipta, sang ibu yang meski mempertaruhkan nyawanya demi melahirkannya tapi tak menginginkan kehadirannya, dan sang ayah yang tak tahu rimbanya.
Terbersit di pikirannya untuk mati saja, tapi juga takut akan Dosa bunuh diri.
" Hah, sudah lah mungkin aku memang di takdirkan hidup sendiri. jika mereka ingin bahagia tanpa aku maka akubakan mencoba hidup tanpa mereka ", ucapnya dengan tangis yang semakin deras.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Dewita yang sudah merasa agak tenang melanjutkan perjalanannya.
Dia tak ingin ketempat Asmita.
" Aku masih ada tabungan, bisa aku pakai untuk sewa tempat tinggal ",
" huuuuuuf, hidup sendiri mungkin memang sulit tapi yakin aku bisa. anak yang jelas-jelas di telantarkan dari kecil dan tak tahu orang tuanya saja bisa bertahan hidup masa aku tidak bisa ", ucap Dewita sedikit menyemangati dirinya.
" Sekolah juga sudah dilunasi sampai dapat ijazah nanti, insyaallah aku bisa tinggal beberapa bulan lagi juga ",
Dewita menghentikan angkot dan menuju ke tempat yang dekat dari sekolahnya. Disana ada beberapa kosan yang bisa dia datangi.
Sebelum masuk dia menitipkan barang-barangnya terlebih dahulu ke warung terdekat agar tidak repot.
kosan pertama yang dia kunjungi tempatnya cukup bagus hanya saja disana lebih banyak anak kos laki-lakinya Jadi Dewita tak jadi memilihnya.
kosan yang kedua didatangi sudah full semua.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Dewita berjalan keluar gang dan duduk diwarung tempatnya menitip tas.
" Adenya lagi cari kosan yah dek? ",
Ucap salah satu ibu-ibu yang sedang duduk mungkin menunggu pesanannya.
" eh iya Bu, lagi cari kosan tapi yang gak ada penghuni laki-lakinya kalau ada ",
" waah kebetulan ibu ada kosan dan juga hanya diperuntukkan untuk perempuan saja, kebetulan tadi ada yang kosong 1 baru aja keluar orang nya ",
" Iyakah Bu, emm boleh saya liat tempatnya dulu ",
" ooh tentu boleh dek, bentar yah ibu bayar pesanan ibu dulu baru kita kesana ",
Dewita pun hanya mengangguk sembari memperhatikan ibu itu yang terlihat menggunakan habis besar dengan hijab besar juga lengkap dengan kaus kakinya. Sepertinya Ibu itu termasuk orang yang agamis.
Tak berapa lama Ibu itu membayar pesanannya lalu mengajak Dewita ke tempat yang dimaksud.
__ADS_1
Ternyata tempat itu ada persis di samping sekolahnya dan hanya saja masuk lorong berjarak sekitar 500 meter dari jalan aspal.