Derita Sigadis Bungsu

Derita Sigadis Bungsu
Ikut Ibu ke kota


__ADS_3

Satu minggu sudah setelah kepergian Nek Ida. Wati pun memutuskan untuk kembali ke kota K. Walau tidak mau wati terpaksa harus membawa Dewita ikut bersamanya. Surat kepindahan sekolahnya pun sudah dia urus satu hari setelah pengacara Nek Ida datang.


Ibu Eti yang mendengar bahwa Wati akan kembali ke kota dan membawa Dewita juga datang berkunjung untuk melihat Dewita karna mungkin lama baginya untuk bisa bertemu lagi.


" Assalamu alaikum, Waati ",


Wati yang mendengarnya pun keluar dan membukakan pintu.


" Eh bu Eti, ada apa ibu kemari ? ",


" em saya ingin bertemu Dewita kalau boleh wati karna pasti akan lama kami bertemu lagi ",


" oh ya sudah masuk gih ,anaknya ada dikamarnya lagi beres-beres ",


Setelah mempersilahkan bu Eti masuk Wati pun juga masuk kembali ke dalam kamarnya.


" Mah, kenapa sih mama harus membawa Dewita juga?, mama kan selalu bilang gak suka sama dia ", ucap Asmita begitu Wati masuk.


" Asmita sayang kalau bukan karna warisan Dewita mama juga tidak akan mau membawanya. mama tidak akan pernah lupa bagaimana kehadirannya menghancurkan kebahagiaan kita sayang ",


" Tapi mah kami juga gak suka sama dia baru melihatnya beberapa hari ini saja rasanya Anita mau bejek bejek mukanya karna dia kalau bukan mama ada foto papah mungkin sekarang aku gak tahu bagaimana wajah Papah gimana ", ucap Anita dengan kesal.


Wati duduk dan merangkul kedua anaknya.


" Hanya 8 tahun nak, begitu dia berumur 18 tahun mama akan membuatnya menyerahkan semua harta warisan nenek setelah itu terserah kalian mau usir pun mama tidak masalah ",


" Tapi gak papa juga sih dia ada, hitung hitung nanti kita dapat pelayan gratis, bolehkan mah? ", kata Asmita


" Terserah kalian sayang yang penting kalian senang, sudah mending lanjutkan kemas kemasnya setelah itu kita berangkat ",


Ibu Eti yang memang sengaja mau menguping apa yang dilakukan Wati terperangah. Sesak rasanya dia mendengar bahwa Wati belum menerima Dewita. Andaikan tak ingin dituduh menginginkan harta Nek Ida pasti sekarang dia akan memaksa Dewita dirawat olehnya saja.

__ADS_1


Tak ingin ketahuan menguping ,ibu Eti pun melangkah menuju kamar Dewita. Disana Dewita sudah selesai berkemas dan tengah duduk di lantai sambil memeluk foto Nek Ida.


Isakan kecil terdengar oleh bu Eti.


" Dewita, apa ibu boleh masuk ?",


" Eh bu Eti masuk bu ", ucap Dewita tersenyum sembari menghapus air matanya.


" Bu Dewita harus yah ikut sama ibunya Dewita, apa gak boleh Dewita tinggal disini saja. Dewita bisa kok hidup sendiri ",


" Kenapa Dewita tidak mau ikut sama ibunya Dewita, selama ini kan Dewita sellalu menanyakan ibu dan selalu bilang kalau Dewita ingin sekali hidup sama ibunya Dewita ",


" Dewita hanya sedih bu Eti , Dewita gak mau jauh dari nenek ", ucap Dewita yang mulai menangis lagi.


Tiba-tiba bu Eti berdiri dan mengintip di pintu, melihat tidak ada siapapun dia pun menutup dan mengunci pintu kemudian mendekat pada bu Eti.


" husss nak, jangan nangis lagi. Ibu juga ikut sedih liat Dewita sedih ",


" Beberapa hari sebelum Nek Ida pergi, Nek Ida berpesan sama ibu tentang hal ini. Ini kamu simpan baik-baik di tas yah nak. nanti kamu buka saat sudah disana. tapi kamu ingat satu hal ini. Nek Ida berpesan agar Barang ini hanya kamu yang boleh tahu. ibu dan saudara mu tidak boleh tahu yah nak. ingat hal itu ", jelas Bu Eti sambil menyelipkan barang itu di bagian tengah tas Dewita.


" Bu Eti terima kasih yah sudah sayang sama Dewita, Dewita pasti akan sangat merindukan ibu, semoga saja ibunya Dewita bisa sayang sama Dewita juga seperti ibu Eti ", ucap Dewita sambil memeluk ibu Eti.


Tok..


Tok..


Tok..


" Dewita sudah selesai belum, ayo kita berangkat biar sampainya tidak kemalaman ", teriak Wati dari luar.


" iyyah Bu, Dewita sudah selesai ",

__ADS_1


Bu Eti pun membuka pintu dan membantu Dewita mengangkat barang barangnya.


" lama amat sih ", nyinyir Anita


Dewita yang mendengarnya hanya menundukkan kepalanya.


" Dewita ibu keruma sebentar yah ibu ada sesuatu untuk mu ", kata bu Eti.


Wati yang sudah selesai mengeluarkan semua barang yang akan di bawanya ke kota pun mengunci pintu lalu menaikka semua barang kedalam mobil.


" ayo buruan naik ke mobil ",


Wati duduk di kursi kemudi dan Asmita disampingnya. Sedangkan Anita duduk dikursi tengah. Tapi sebelum naik dia melipat kursi dan menyuruh Dewita naik dikursi belakang.


" Naik duluan, aku gak sudi duduk di dekat kamu ",


Dewita pun hanya menurut karna takut melihat tatapan kakaknya.


Saat Wati akan menjalankan mobilnya Bu Eti pun datang.


" Wati tungguu.. ",


" Dewita ini ada bingkisan untuk kamu nak, bisa kamu makan selama perjalanan. ingat kata ibu yah nak ", ucap bu Eti sambil mengulurkan bingkisan itu ke Dewita.


Melihat bu Eti telah memberikan bingkisannya Wati pun langsung melajukan mobilnya tanpa mengatakan apapun.


Bu Eti yang melihat Dewita duduk di belakang diantara barang merasa sedih.


" Semoga nanti ibu dan saudaramu bisa menyayangimu dengan ikhlas Dewita ", ucap bu Eti


**

__ADS_1


__ADS_2