Derita Sigadis Bungsu

Derita Sigadis Bungsu
membaca surat ayah2


__ADS_3

Dewita menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan. Dewita bingung terhadap surat ayahnya.


" ah tapi ini kan baru surat pertama berarti masih ada lanjutannya ",


Pelan tapi pasti Dewita membaca surat-surat dari ayah satu persatu. sesekali terlihat matanya berkaca-kaca.


sudah 6 surat dari ayahnya yang dia baca dan semua hanya menjurus kepada perasaan sang ayah kepadanya, perasaan rindu, permintaan maaf juga sekedar menanyakan bagaimana kabarnya.


Dewita menangis membaca semuanya. Sejenak dia berhenti membaca surat itu dan melirik jam dinding yang ada dikamarnya dan ternyata sudah lewat jam 1 siang. Dia pun beranjak dan keluar dari kamar. Dewita berjalan menuju dapur dan mengambil makanan juga minuman lalu berlalu ke gazebo belakang.


Dewita memakan makanannya tanpa gangguan. entah kemana semua orang. Rumah terasa sepi apalagi tanpa Cia yang sudah beberapa hari ini berkunjung ke rumah nenek dari ayahnya.


Tak lama Dewita selesai dengan acara makannya. Dia pun beranjak membawa piring dan gelasnya kedapur. Setelah mencucinya Dewita kembali kekamar ingin melanjutkan membaca surat dari ayahnya.

__ADS_1


Setelah masuk kekamar Dewita tak lupa untuk mengunci pintunya, takut kalau-kalau ada yang masuk.


Ditariknya kotak yang berisi surat itu lagi. Dilihatnya dalam surat itu tinggal 4 surat. 3 surat dari ayah, 1 surat dari bu Eti,


Sebelum membaca surat ibu Eti Dewita ingin menyelesaikan surat ayahnya dulu.


Diraihnya surat dengan angka 7 pada sampulnya. perlahan Dewita membuka dan membacanya.


Maaf jika ayah terlalu banyak basa basi. tapi disini ayah akan menjelaskan kenapa ayah harus meninggalkan kalian.


waktu itu ibumu dengan bahagiannya mengatakan kehadiranmu dalam rahimnya. ayah sangat bahagia nak sangat bahagia. akan tetapi dihari itu juga ayah mendengar kabar kalau ayah telah ditipu habis-habisan oleh teman ayah. Ayah bangkrut tak bersisa. bahkan rumah yang yah ayah siapkan untuk kita semua terpaksa ayah jual untuk menutupi kerugian itu, ayah, ibu, dan kedua kakakmu terpaksa pulang kerumah nenekmu untuk tinggal sementara waktu. Akan tetapi berbulan-bulan berlalu ayah tak bisa mendapatkan pekerjaan, sedangkan waktu itu tinggal 3 bulan lagi kamu akan dilahirkan.


Ibumu seting uring-uringan, selalu marah-marah bahkan kadang kasar kepada kakakmu hanya karna uang yang ayah berikan jauh lebih kecil dari yang dia inginkan.

__ADS_1


Ayah pusing nak, bahkan Ibumu selalu mengancam ingin menggugurkan dirimu saja jika ayah tidak bisa memenuhi keinginannya. Dia selalu mengatakan bahwa seandainya kamu tidak hadir mungkin ayah tak akan bangkrut.


sungguh nak, ayah tak pernah sedikitpun berpikir seperti ibumu. ayah sangat menyayangi kalian bagaimanapun keadaannya.


Hingga sekitar 2 bulan sebelum kelahiran kamu, ayah mendapatkan tawaran kerja oleh teman ayah di provinsi K, kota S. awalnya ayah tak ingin pergi karna terlalu jauh dari kalian. Tapi ibumu terus memaksa karna mendengar gaji disana cukup besar. dan karna itu juga meski berat akhirnya ayah menyetujui dan berangkat kesana untuk mencari rezeki untuk kalian.


Dan ternyata itu memang benar, gaji disini cukup besar bahkan 1 bulan gaji sudah cukup untuk biaya kelahiranmu.


Nak, sambungannya ada disurat selanjutnya. maaf karna untuk menulis suratpun ayah harus curi-curi waktu.


" salam sayang dari ayahmu* "


Dewita menangis membaca surat itu. ternyata kebencian mamah padanya telah ada dari sejak dia dalam kandungan.

__ADS_1


__ADS_2