Derita Sigadis Bungsu

Derita Sigadis Bungsu
Jalan-jalan kepasar


__ADS_3

Setelah menempuh beberapa menit perjalanan akhirnya Dewita dan Anggi sampai kepasar. Pasar yang mereka datangi memang pasar tradisional tapi penataannya yang rapi membuat tempat itu jauh dari kesan pasar yang sesak dan juga kotor. Semua di pisah menurut jenis jualan mereka, Tidak bercampuran. Bagian Depan pasar khusus stand kuliner ,masuk lebih dalam akan menemukan penjual buah buahan, lalu penjual pakaian, lalu penjual sepatu, kemudian penjual plastik-palstik rumah tangga, lalu semakin kebelakang akan bertemu penjual sayuran, lalu ikan kering, ikan basah, ayam dan yang paling belakang adalah penjual daging. sedangkan di bagian pinggir pasar dikelilingi ruko ruko penjual alat-alat rumah tangga, elektronik dan kosmetik. selain itu parkirannya pun lumayan luas.


Setelah mang Deni memarkirkan mobil mereka pun turun dan langsung ke stand kuliner. Disana ada banyak jajanan-jajanan pasar. Dewita dan Anggi hanya singgah di stand dan memesan yang mereka inginkan, nantinya baru akan dimakan dirumah Anggi saja. Dewita mau tak mau pun ikut karna rengekan Anggi.


" yah yah, kita makannya dirumahku aja. udah lama loh kamu gak kerumah, bundaku juga kangen loh sama kamu ", ucap Anggi.


karna bosan menolak tapi tetap di bujuk akhirnya Dewita mengiyakan untuk mampir ke rumah Anggi.


" Iya deh iya aku mampir, tapi besok-besok kamu juga harus mampir yah d rumah ",


" woke woke, aku juga kangen sama seblak buatan mbak Titi juga masakan mbok Asih, waaah ngebayanginnya aja bikin ngiler ", ucap Anggi dengan mimik wajah yang lucu.


" ckckckck kamu itu kalau makanan semangat banget yah ", ucap Dewita.


Mereka pun kembali mengunjungi satu persatu stand kuliner yang ada disitu. Dewita yang tadinya ingin mentraktir nyatanya Hanya separuh yang dia bayar karna Anggi memaksa untuk separuh dia yang bayar.


Kini tangan mereka sudah penuh dengan jajanan. Dari cilok biasa, cilok telur, siomay, batagor, sate-satean, sop buah, martabak telur, pastel, bakwan, dan masih banyak lagi cemilan lainnya. Dewita yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala. sahabat satu-satunya itu kalau soal makanan memang tidak tanggung-tanggung.


Setelah puas berkeliling dan membeli semua yang menurutnya enak anggi pun mengajak Dewita kembali ke mobil. Sejenak dia sendiri pun tertegun melihat banyaknya kantongan jajanan yang dia beli.


" waah banyak ya ternyata ",


" yah mau gimana lagi kamu kan suka kalap kalau soal makanan ", ucap Dewita.


Anggi pun hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Hehe abis semua kelihatan enak ",


" kamu gak ada mau di beli lagi ", tanya anggi pada Dewita.


" nggak ada kok ",

__ADS_1


" ya udah yuk kita pulang ",


" mang kita langsung pulang yak ",.


" oke non ",


Tak butuk waktu lama mereka pun tiba di rumah Anggi. Setelah memarkirkan mobil mang Deni membantu nonanya itu membawa kantongan jajanan mereka masuk kerumah.


" Assalamu alaikum.. bundaaaaaa, bundaaaaaa ada Dewita nih ", ucap Anggi dengan suara yang cukup keras.


" ih kenapa pake teriak sih ",


" Hehe dah biasa mah ",


Bunda Anggun yang mendengar teriakan putrinya itu datang dari arah taman belakang.


" kalau kakak kamu ada habis kamu di jitaknya. udah suara cempreng malah teriak-teriak gitu kamu gak malu apa sama Dewita. telinga bunda masih bagus loh nak ", ucap bunda Anggu dengan sedikit menjewer telinga anaknya.


" yah biarin, nah nah ini apaan ini, masyaallah anak bunda ini kalau makanan bikin geleng-geleng kepala yah ",


" hehe biasa bunda Anggi kalau liat uang udah biasa tapi kalau liat makan matanya langsung kelap kelip ", ucap Dewita seraya mencum tangan bunda Anggun.


" Udah ngobrolnya mending kita nikmati saja jajanannya, mang Deni ini mang bawa buat makan sama yang lain juga ", ucapnya seraya memberi beberapa kantongan jajanan pada mang Deni.


" wiih makasih banyak non, kalau gitu mang permisi ya non ", ucap mang Deni yang dijawab anggukan oleh Ke 3 perempuan itu.


Anggi kemudian beranjak mengambil piring sedangkan Bunda Anggun membuat minuman. Dewita juga membantu Anggi memindahkan semua jajanan itu ke piring.


" waaah ternyata banyak ya ",


" lah emang kamu pikir tadi dikit ",

__ADS_1


Anggi hanya menyengir kuda..


" udah yuk makanin kayak enak semua ",


Dewita dan Bunda Anggun ikut duduk dan menikmati jajanan itu. Hanya mereka bertiga karna Ayah Anggi masih di kantor dan kakak Anggi sedang kuliah.


Setelah selesai mereka pindah ke ruang tv dan menonton bersama ditemani cemilan dan juga minuman dingin.


Tak terasa sudah hampir jam 5 sore. Dewita yang menyadari itu seketika terkejut. Dia sudah terlambat sekali untuk pulang. Dia pun bergegas dan pamit pada Anggi juga bunda Anggun.


" ya sudah kamu hati-hati yah, mang Deni udah diluar ",


" iya bunda, Dewita pamit yah bunda Assalamu alaikum ",


" Waalaikum salam ",


Sebelum masuk ke mobil Ayah Anggi baru datang dan melihat Dewita yang akan pulang.


" Loh Dew mau pulang? kenapa gak nginep? ",


" eh ayah, iya Dewita mau pulang. Lain kali aja nginenya ayah ",


" oh ya sudah, mang Deni hati-hati yah bawa mobilnya ",


" siap tuan ",


" ya sudah ayah Dewita pamit yah, Assalamu alaikum ",


" Waalaikum salam ",


Setelah beberapa menit Dewita sampai di rumah Wati. Rumah anggi memang hanya berjarak beberapa kilometer. Setelah Dewita turun mang Deni pun pamit pulang.

__ADS_1


__ADS_2