
Dua hari berlalu sejak kejadian itu. Beruntungnya Wati tak mempermasalahkan apa yang terjadi.
Pagi menjelang siang, Wati yang awalnya telah pergi ke restauran untuk mengecek keadaan disana tiba-tiba saja pulang.
Dia terlihat kesal bahkan sampai membanting pintu saat masuk. Yang dijinjingnya dilemparkan begitu saja ke atas sofa ruang keluarga yang dilewatinya.
Mbok Asih dan yang lainnya merasa penasaran apa yang membuat majikannya itu emosi.
Wati terus berjalan kebelakang menuju kamar Dewita. Dia masuk dan mulai mengobrak abrik barang didalam kamar itu.
Mbok Asih hanya mmengintip di balik pintu tanpa berani menyahut. Melihat majikannya itu mengemasi barang barang Dewita membuat mbok Asih berlari kekamar Asmita.
Tok
Tok
Tok
"Non, Non Asmita tolong non, tolong " ucapnya dengan sedikit terengah engah.
" Kenapa mbok ? ada apa kok panik gitu ? ",
__ADS_1
" Itu non, Ibu , ibu ngamuk dibawah. barang-barang neng Dewita dikemasi semua ".
Mendengar penuturan Mbok Asih ,Asmita langsung berlari menuju kamar Dewita.
Sampainya disana terlihat Wati masih belum selesai mengemasi barang Dewita.
" Ma, ini ada apa ?, kenapa semua barang Dewita di kemasi ". Tanya Asmita
Wati terus mengemasi barang ,memeriksa setiap celah yang menyimpan barang Dewita. Dia tak menghiraukan Asmita dibelakangnya.
Asmita mencoba terus bertanya tapi tak dihiraukan sampai akhirnya dia berteriak membentak Wati.
Wati yang akhirnya sadar akan keberadaan Asmita langsung berbalik dan memeluk Asmita. Wati meluapkan tangis dipelukan anak pertamanya itu.
Asmita yang melihat Mamahnya menangis pun hanya ikut terdiam. Menunggu hingga mamahnya selesai meluapkan perasaannya.
Setelah beberapa saat, Wati yang sudah agak tenang tiba-tiba bangkit dan mengemasi barang Dewita lagi. Asmita yang melihatnya hendak bertanya tapi tidak jadi karna Wati berbicara lebih dulu.
" Dia itu nggak punya perasaan, Dia hanya mementingkan dirinya sendiri, Dia hanya peduli pada dirinya dan anak yang tidak pernah dilihatnya itu. bahkan kamu dan Anita tak diungkitnya sedikit pun ",
" Aku benci anak itu wajahnya sangat mirip dengan si brengsek itu bahkan kebiasaan, hobby, makanan bahkan warna kesukaannya pun sama, dia memang bukan anakku, dia anak pria brengsek itu ",
__ADS_1
" aaaaaaaaaaaaaa........ aku benci kalian ", ucap Wati dengan menghamburkan semua barang diatas meja belajar Dewita.
" Maaah, tenang ya maah, tenang. mending sekarang mamah istirahat dulu, jangan kayak gini maaah ", ucap Asmita.
Dia khawatir kesehatan mamahnya akan terganggu karna terlalu emosi. entah apa yang di lalui nya pagi ini hingga mamahnya sangat marah.
" Enggak, enggak.. mamah nggak bisa. anak itu harus pergi hari ini juga. mamah gak mau lihat wajahnya lagi ", ucap Wati lalu berdiri melanjutkan apa yang iya lakukan tadi.
Asmita hanya terdiam karna ia tahu jika disaat emosi seperti ini maka tidak ada gunanya mengajak mamahnya bicara yang ada masalah akan tambah runyam.
" gimana ini sama neng Dewita nanti? ", ucap mbok Asih.
" untuk sekarang kita gak bisa apa-apa mbok, kita turuti maunya mamah aja dulu. mbok paham kan gimana mamah kalau lagi emosi kayak gitu ", ucap Asmita.
" iya sih non tapi terus nanti neng Dewita tinggal dimana kalau beneran diusir ", ucap mbok Asih.
" Udah, urusan itu biar aku aja mbok, aku ada tempat kok. udah mending mbok masak aja gih tapi entar sisihin di rantang yah mbok untuk aku bawah nanti buat Dewita ",
Mbok Asih hanya mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan Asmita.
Sedang Asmita pun berlalu kembali ke kamarnya. Dia akan berbicara saat mamahnya mulai tenang nanti.
__ADS_1