Derita Sigadis Bungsu

Derita Sigadis Bungsu
Kesedihan Dewita


__ADS_3

Bu Eti beranjak dari duduknya menghampiri Dewita yang masih mematung dengan air mata yang bercucuran dipipinya.


" Dewita sabar yah nak, Nenek sudah tenang disana neneknya sudah tidak sakit lagi, doakan nenek terus yah nak agar disana ditempatkan disisi yang baik oleh Allah ", ucap bu Eti


" Neneeek, aku mau nenek bu Eti, aku mau ketemu nenek huaaaaa..... ",


Dewita bangkit dari tempatnya dan berlari keluar menuju pemakaman tempat nenek Ida di makamkan.


Bu Eti dan beberapa warga mengikuti dari belakang. Mereka khawatir melihat keadaan Dewita seperti itu.


Berbeda dengan bu Eti dan warga yang merasa iba , Wati yang merupakan ibu kandungnya justru terlihat santai dan justru melayani para tamu yang hadir dengan senyumnya.


Para tetangga yang melihat itu berbisik satu sama lain karna merasa bahwa Wati belum sepenuhnya menerima Dewita.


Sesampainya Dewita di pemakaman dia hanya menangis tersedu sedu dengan kebingungan mencari yang mana makam sang nenek.

__ADS_1


Bu Eti dan warga yang juga telah sampai di pemakaman langsung menghampiri Dewita.


" Nak, sini ibu antar ke makam nenek ", ucap bu Eti


Sampai dimakam sang nenek, Dewita langsung bersimpuh memeluk makam dan nisan sang nenek. Dewita menangis sejadi jadinya tak mengikhlaskan kepergian sang nenek.


pak Bahrul sang penjaga makam yang rumahnya tak jauh dari area pemakaman mendengar tangisan Dewita langsung menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi. setelah mendengar penjelasan dari bu Eti beliau langsung duduk di samping Dewita berusaha menenangkannya.


" Nak, bapak dengar tangisanmu sangat memilukan. Bapak tau kamu sedih, bapak tau kamu sangat sayang sama nenek. Bapak tidak melarang mu menangis nak tapi jangan meraung seperti itu, Tangisanmu yang meraung raung itu kalau didengar nenek nanti pasti neneknya sedih dan tidak tenang di alam sana ",


" Dewita sayang nenek, Dewita tidak mau bikin nenek gelisah, Dewita mau nenek bahagia terus tapi Dewita masih mau nenek huuuu huuu..",


" Nak, hidup dan mati itu ditangan Allah, dan sudah takdir nenek untuk pergi sekarang. Dewita harusnya senang sekarang nenek tidak akan pernah sakit lagi karna nanti ada Allah yang jaga. sekarang tugas Dewita hanya mengikhlaskan nenek dan terus mendoakan nenek agar tenang disana nak ",


" Sekarang Dewita pulang yah nak ,jangan nangis lagi, pulang istirahat dan jangan lupa doakan neneknya yah, kalau Dewita sedih terus nanti neneknya juga sedih di alam sana ", tutur sang penjaga makam.

__ADS_1


Setelah mendengar penuturan penjaga makam Dewita pun mulai tenang dari tangisnya.


" Nek Dewita pulang dulu yah, Maafin Dewita karna nangis terus Dewita sayang nenek ",


Mereka pun meninggalkan pemakaman untuk kembali kerumah Nenek Ida untuk melanjutkan pengajian.


Sampai di rumah Dewita langsung dibawa oleh bu Eti untuk mengisi perutnya dengan makanan karna dari pagi dia belum makan.


Selesai makan Dewita ikut ibu Eti untuk berkumpul dengan yang lain diruang Tamu.


Wati yang melihat kedatangan Dewita langsung menghampirinya.


" Dewita akhirnya kamu pulang nak, maaf yah ibu tadi tidak ikut mengejar kamu karna tidak enak sama tamu nak. Dewita jangan sedih yah meskipun nenek sudah tidak ada tapi sekarang kan ada ibu, kakak Asmita dan kakak Anita ", ucap wati


" Iya bu,Dewita juga minta maaf sama ibu karna tadi Dewita main pergi dan bikin semua jadi khawatir ",

__ADS_1


Pembicaraan pun terhenti dilanjutkan dengan pengajian untuk nenek Ida sampai selesai.


__ADS_2