Derita Sigadis Bungsu

Derita Sigadis Bungsu
Sekolah Baru


__ADS_3

Pagi pertama dirumah Wati pun datang. Dewita yang sudah bangun dari jam 4 subuh juga telah selesai menjalankan ibadah subuh. Dewita sejak umur 5 tahun sudah dibiasakan neneknya untuk bangun dijam itu juga sudah dibiasakan untuk melakukan ibadah solat lima waktu meskipun dewita belum hafal sepenuhnya bacaan solatnya.


Karna bosan didalam kamar Dewita pun keluar yang ternyata Mbok Asih sudah ada didapur untuk menyiapkan sarapan sedangkan Mbak Titi membersihkan rumah.


" Eh neng Dewita sudah bangun? apa tidak kepagian neng ?",


" hehe Dewita sudah tebiasa mbok dibangunkan sama nenek di jam segini ",


Mbok Asih yang mendengarnya tersenyum.


" Mboook , Dewita harus apa?, kalau dirumah nenek Dewita suka nyapu suka cuci baju juga suka bantu nenek masak , disini Dewita kesepian tidak ada teman ", ucap Dewita manyun.


" ih mulutnya awas loh neng nanti kayak bebek haha ", ucap mbak titi yang melihat Dewita manyun.

__ADS_1


" Ya sudah Dewita duduk di sini saja bantu mbok potong sosis sama bakso untuk bikin campuran nasi goreng ",


Dewita yang mendengarnya pun langsung sumringah.


Jam Setengah tujuh Wati, Asmita dan Anita pun turun untuk sarapan sebelum melakukan rutinitas mereka.


Setelah makan Wati memanggil mbok Asih untuk mempersiapkan Dewita. Hari ini dia akan mengajak Dewita untuk mengurus pindahannya ke sekolah yang baru.


Dewita yang sudah bersiap sangat senang mendengar dirinya akan kembali bersekolah. Dewita masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah dasar.


Sekolah mereka adalah sekolah satu atap yang lumayan bergengsi. Siswa di dalamnya kebanyakan siswa yang orang tuanya mempunyai bisnis yang sukses atau bisa juga dibilang yang orangtuanya berdompet tebal. Ada juga siswa dari keluarga menengah yang biasanya masuk karna beasiswa.


Sekolah itu mulai dari pendidikan anak usia dini sampai SMA. Asmita yang paling tua sekarang sudah kelas tiga SMA sedangkan Anita dikelas Tiga SMP.

__ADS_1


Sesampainya disekolah Wati langsung keruangan kepala sekolah. Walau keberatan dia tetap mengakui bahwa Dewita adalah anak bungsunya demi berjaga jaga dari pak Ardan sang pengacara. Dewita berdiri sendiri didalam kartu keluarga dengan alasannya dari kecil Dewita tinggal bersama sang nenek alasan kepindahannya karna sang nenek telah meninggal dan Wati belum sempat mengurus kepindahannya ke dalam kartu keluarganya.


Kepala sekolah yang melihat catatan nilai dan prestasi Dewita di raport sekolah sebelumnya merasa terpukau melihatnya dan tanpa basa basi dia langsung menyetujui kepindahannya.


" Ibu Wati pasti bangga dengan anak bungsu ibu ini selain pintar tenyata dia juga berbakat. nilai nilai pelajarannya tidak ada yang dibawah 90 dan dalam waktu 4 tahun dia sudah banyak mengikuti kompetisi dan selalu meraih juara ", puji sang kepala sekolah.


" Iya pak tentu saya sangat bangga dengan prestasi anak saya, dia memang sangat pintar ", puji Wati dengan senyum palsu.


Dewita pun langsung masuk sekolah hari itu juga meski masih memakai pakaian biasa karna Wati melarangnya memakai seragam lamanya yang warnanya sudah kusam.


Wati akan merawat dengan mencukupi kebutuhan Dewita tapi tidak dengan kasih sayangnya, itu yang selalu diucapkannya.


Hari pertama Dewita sudah banyak yang sudah mengajaknya berkenalan terlebih karna aslinya dia termasuk pribadi yang ceria dan periang.

__ADS_1


**


__ADS_2