Derita Sigadis Bungsu

Derita Sigadis Bungsu
Rumah Ibu


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya mereka sampai. Rumah berlantai dua yang minimalis namun memiliki pekarangan yang cukup luas.


Mereka di sambut oleh Satpam dan 2 orang Art yang merupakan ibu dan anak. Wati, Asmita dan Anita langsung masuk kerumah. sedang barang barangnya di bawakan oleh ke dua Art nya.


Dewita yang masih terpesona dengan rumah ibu kandungnya itu tidak sadar jika ibu dan kakaknya sudah masuk dan meninggalkan dirinya.


Kedua Art itu, mbok Asih dan anaknya mbak Titi menegur Dewita.


" Non, kok masih di situ?, mari masuk ke dalam biar tasnya mbok sama mbak yang bawa ",


" ah i iya mbok, tas nya Dewita biar Dewita sendiri saja ", ucap Dewita sungkan.


Setelah memasuki rumah, Wati yang ada duduk diruang tamu langsung memanggil para Art nya.


" Mbook , mbaak sini saya ingin bicara sama kalian ",


Mbok Asih dan anaknya meletakkan tas dan koper bawaannya lalu menghampiri sang majikan.


" iya bu ,ada apa ? ",


" mbok sama mbak liat anak itu ", sambil menunjuk Dewita


" Namanya Dewita, Dia putri bungsu saya tapi ingat satu hal saya tidak menyukai anak itu kalau bukan ibu saya saya tidak akan membawanya kemari. saya mau kalian jangan memperlakukan dia sebagai majikan. bawa dia ke kamar belakang. mulai sekarang dia akan ikut membantu pekerjaan kalian. saya tidak mau di bantah. lupakan jika kalian ingin bertanya kenapa ", jelas Wati

__ADS_1


Kedua Art yang mendengar itu merasa terkejut dengan apa yang didengarnya. Kok bisa ada seorang ibu yang begitu tega dengan menjadikan anak kandungnya sendiri seperti pembantu. Tapi mau tidak mau mereka hanya bisa menuruti perintah majikannya.


Sedangkan Dewita dia sedang fokus melihat rumah ibunya yang membuatnya tidak mendengar dengan baik apa yang dikatakan ibunya.


Setelah mbok asih mengantar barang majikannya kedalam kamar masing-masing, dia pun menegur Dewita.


" Neng ayo mbok bawa ke kamarnya neng ",


Dewita mengangguk dan berjalan mengikuti mbok Asih. Kamar Dewita ada di belakang bagian kamar khusus Art, kamarnya berdampingan dengan gudang dan kamar mbak titi dan mbok Asih.


Kamar yang berukuran 2,5x3 meter tanpa perabot apapun didalamnya, disinilah hidup Dewita akan dilanjutkan.


" Neng, ini kamarnya yah, sebelah kiri ini gudang sebelah kanan kamar mbak titi dan yang pinggir sana kamar mbok, untuk kamar mandinya pas didalam ya neng samping pintu masuk dapur ",


" iya mbok terima kasih, tapi kamar ibu sama kakak kakakku dimana kok gak disini ?", ucap Dewita.


Dewita yang masih kurang paham dengan artian kamar majikan dan kamar pembantu pun hanya menganggukkan kepalanya. Mbok Asih yang melihatnya merasa iba, meskipun dia tidak tahu kenapa majikannya membenci putrinya sendiri.


" Neng simpan barangnya di luar dulu biar kamarnya mbok sapu dulu biar debunya hilang ",


" sini mbok biar Dewita saja yang sapu, Dewita waktu sama nenek dari usia 7 tahun sudah pintar nyapu kok mbok bhkan Dewita sudah bisa masak loh bisa mencuci juga", ucapnya sambil tersenyum.


" ya sudah ,nih neng sapu kamarnya mbok ambilin kasur digudang dulu yah ",

__ADS_1


Dewita mengangguk dan mulai membersihkan. Sejenak dia melupakan kerinduannya pada sang nenek karna sikap mbok asih yang hangat padanya.


Tak lama mbak Titi Yang sudah selesai melayani ke tiga majikannya datang. Melihat gudang yang terbuka dia pun menghampirinya. Dia melihat mbok Asih mencari cari sesuatu.


" Mbok lagi cari apa? ",


" Eh titi, ini lagi liat kasur yang masih bagus untuk neng Dewita, kebanyakan udah lepek ada juga yang masih tebal tapi udang di bolongi sama tikus ", jelas mbok Asih.


" Oh kasur yah, emmmm kayaknya disini masih ada yg bagus mbok yang sekitar dua bulan lalu dimasukin karna non Asmita ganti. ",


" Aah ini dia ini mbok, tapi yaah udah ada bolongnya juga ", kata mbak titik


mbok Asih mendekat dan melihatnya


" ngak apa ini mah bisa ditambal robrkannya juga masih sedikit, sana ambil mbok jarum sama benang ", pinta mbok asih.


Mbak Titi pun ke kamar mbok asih untuk mengambil jarum dan benang. Dewita yang sudah selesai menyapu dan mengepel kamarnya pun ikut kegudang menemui mbok Asih.


" mbok mau bikin apa?",


" eh neng Dewita, ini kasurnya bolong digigit tikus jadi mau mbok tambal tadi juga sudah mbak pukul pukul kasurnya takut tikusnya udah masuk tapi untungnya gak ada",


Tak lama Mbak Titi masuk dan memberikan jarum dan benang ke mbok Asih lalu beralih ke lemari untuk mencari seprai dan selimut yang masih layak pakai.

__ADS_1


Setelah selesai menambal kasurnya mereka bertiga pun mengangkat dan memasukkan kasurnya kedalam kamar lanjut memasang seprei dan memasukkan sebuah rak plastik kecil untuk menyimpan pakaian juga meja kecil yang didapatkan digudang. Setelah merasa cukup Dewita pun berterima kasih pada mbok Asih dan Mbak Titi


**


__ADS_2