
Dengan Was-was Dewita masuk ke dalam rumah. Melihat mobil Wati dan Anita yang sudah terparkir diluar menandakan sang pemiliknya juga sudah ada dirumah. Dewita berdoa dalam hati agar kali ini dia tidak di marahi seperti dulu. Pernah beberapa kali Dewita pulang terlambat dan hasilnya dia akan mendengar omelan dan cacian dari mamah dan kakaknya itu. yah, Sudah beberapa tahun ini Dewita diizinkan memanggil Wati dengan sebutan Mamah karna pengacara sang nenek pernah mempertanyakan kenapa Dewita panggilannya berbeda. meskipun Dewita sudah memberikan Alasan tapi wati tetap memaksanya untuk memanggil mamah agar pak Ardan tak lagi curiga jika dia diperlakukan tak baik oleh Wati.
Dewita tak berani melihat sekitar. Dia terus berjalan menunduk. Saat pintu belakang sudah didepan mata suara sang mamah dengan nada marah menggema dibelakangnya.
" Dari mana saja kamu? ", ucap Wati yang sedabg berdiri di samping meja makan.
" Aku dari rumah Anggi mah ",
" Aah bohong tu mah palingan juga dari nongkrong ",
" enggak mah, Dewita benar dari rumahnya Anggi mah ",
" Saya gak perduli kamu dari mana yang jelas saya sudah tegaskan kekamu. meskipun kamu anak kandung saya tapi kamu disini sama dengan Asih dan yang lainnya. harusnya pulang sekolah kamu langsung pulang dan mengerjakan pekerjaan kamu bukan malah keluyuran. Kamu saya biarkan tinggal disini bukan untuk menjadi seorang puteri ",
Dewita mulai sesak, matanya pun sudah berembun.
" saya gak pernah nganggap kamu anak. Dari kamu hadir kamu selalu bikin saya susah. bahkan sampai kamu besar begini kenapa masih tetap membuat saya susah haah ",
Dewita memberanikan diri melihat mata Wati yang tampak memerah karna emosi.
__ADS_1
" Ma-maaf mah ", ucap Dewita
" Maaf kamu bilang?, apa maafmu itu bisa mengembalikan suamiku? apa maaf mu itu bisa mengembalikan kebahagiaan ku?, ciih, seandainya bukan ibuku yang selalu menggagalkan rencanaku untuk menggugurkan kamu dulu mungkin aku tak perlu kehilangan suamiku dan mungkin aku tak perlu melihat wajahmu itu sekarang ",
Air mata yang sedari tadi Dewita tahan tak mampu dia bendung lagi. kini yang berusaha dia bendung hanya suaranya. meski setiap dia melakukan kesalahan kata itu yang ibunya lontarkan tetap saja Dewita merasakan sakit yang sama. 7 tahun iya tinggal dan berusaha memenangkan hati mamahnya tapi entah kenapa tak pernah berhasil.
" usir aja kenapa sih mah, dari pada nanti buat malu. pasti dia itu habis keluar sama teman-temannya, atau mungkin dia keluar pacaran ",
Kata-kata dari Anita Sontak membuat amarah Wati bertambah.
" apa? pacaran?, hah apa kamu punya kekasih diluar sana? ",
" nggak mah, itu gak benar, aku gak ada pacar mah sumpah ", jawab Dewita dengan deraian air mata.
Setelah mengatakan itu Wati meninggalkan Dewita yang masih menangis tersedu-sedu. Sedangkan Anita masih disana dengan tatapan meremehkan.
" air mata buaya. udah deh gak usah nangis lagi. gak guna tau ",
" Dari pada loe nangis, nih mending kerjain tugas tugas gue lagi. untung loe pintar kalau nggak gue pastikan loe diusir keluar dari sini ",
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal itu Anita juga kembali kekamarnya. Dewita yang masih menangis dengan terpaksa meraih buku dan laptop yang ada di meja.
Berulangkali Dewita harus mendengar cacian mamahnya jika marah. mau itu masalah dari luar ataupun dari rumah pastilah dia yang jadi sasarannya. Hanya Asmita yang kadang menghiburnya jika berada dirumah. Tapi akhir-akhir ini Asmita jarang dirumah karna kesibukannya diluar. Bahkan sudah hafal rasanya akan kata-kata mamahnya.
Setelah cukup Tenang Dewita melangkah dengan gontai ke arah kamarnya. Tapi belum dia membuka pintu kamarnya Mbok Asih mendekat dan memanggilnya. bukan hanya mbok Asih, bahkan mbak Titi dan mas Adi ada disana. Pasti mereka mendengar pertengkaran tadi.
" Neeeng ",
" mbooook.. hiks hiks hiks ", Dewita terisak memeluk mbok Asih.
" Tenang neng, ada mbok yang nemenin ",
" iya Dew, ada mbak sama mas juga ",
" makasih mbok, mbak, mas. Dewita masuk kamar yah. Dewita butuh Sendiri ",
Setelah mengucapkan itu Dewita masuk kekamarnya. Setelah meletakkan buku dan laptop Anita, Dewita langsung meraih foto sang Nenek, memeluknya dan mencurahkan segala keluh kesahnya. Terdengar suara Mbok Asih dari luar mengingat kan Dewita agar nanfi keluar makan malam.
" Neng, jangan sedih lagi yah neng, jangan lupa ntra keluar yah ikut makan ",
__ADS_1
Dewita tak mampu menjawab lagi. Dia sudah menangis sesenggukan hingga sesak rasa didadanya.
Diluar mbok Asih, mbak Titi dan suaminya menatap pintu kamar Dewita dengan iba. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh mereka untuk menghibur Dewita.