
Tiga hari telah berlalu..
Pengajian yang diselenggarakan untuk sang nenek telah selesai. Kini hanya terlihat beberapa tetangga terdekat yang masih datang membantu membereskan sisa acara.
Terdengar suara mobil terparkir di depan rumah sang nenek. Terlihat seorang Lelaki paruh baya berpakaian rapih dengan jas hitamnya keluar dari mobil berjalan masuk ke rumah nenek Ida.
" Assalamu alaikum, permisi apa anak Ibu Ida ada di dalam? ", tanya lelaki itu.
" Iya pak, ada didalam silahkan masuk saja sebentar saya panggilkan ", jawab tetangga Nek Ida.
Wati yang mendengar bahwa ada seseorang yang mencari nya bergegas keluar.
" Maaf, Bapak siapa yah? , saya anaknya Bu Ida ", sapa wati
" Oh iya bu, perkenalkan saya Ardan pengacara Ibu Ida ", jawab lelaki itu yang ternyata bernama Ardan.
" Saya turut berduka atas meninggalnya ibu Ida, kedatangan saya ke sini untuk menyampaikan amanah dan permintaan terakhir dari Ibu Ida ", lanjut Ardan.
" Pengacara? Amanah ? , ini maksudnya apa yah pak. saya tidak mengerti ", ucap wati
__ADS_1
" Sebelum saya menjawab dan membacakan amanah Ibu ida mohon panggil semua anak ibu dulu ",
Wati pun bergegas membangunkan kedua anak sulungnya yang masih tertidur. biasalah anak kesayangan bermalas malasan pun di biarkan oleh wati.
Setelah melihat Wati , Asmita dan Anita telah berada di ruang tamu, Pak Ardan pun mempertanyakan keberadaan Dewita dan mengatakan bahwa semua harus hadir , jika ada satu yang tidak hadir maka surat wasiat itu tidak akan di bacakan.
Dengan berat hati Wati pun beranjak mencari Dewita yg ternyata Dewita sudah berada di ruang mencuci tengah mencuci semua pakaian kotor.
" Baiklah karna semua sudah hadir maka saya akan membacakan surat wasiat mendiang ibu Ida dengan Ibu Eti dan suaminya sebagai saksi sesuai permintaan ibu Ida ",
Pak Ardan pun mengeluarkan sebuah map dan membacakan isinya.
" Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
memberikan kan kuasa kepada
Ardan wiyanto S.H
untuk menyampaikan pembagian harta saya di hari ketiga kematian saya.
__ADS_1
Untuk Anak saya satu satunya
Indarwati saya serahkan kepadanya sebidang tanah dengan luas kurang lebih 3 hektar yang berada di Desa B yang kini masih dalam bentuk perkebunan jagung.
Untuk cucu saya Asmita dan Anita kuserahkan Sawah yang berada di Desa D dengan luasnya sekitar 5 hektar untuknya di bagi dua.
Untuk cucuku Dewita kuserahkan kepadanya Rumah tinggalku beserta tanahnya di Desa B, Panti Asuhan yang berada dikota K Dan sebuah toko Kain yang berada di kota K.
Dikarena kan cucuku Dewita yang kini masih dibawah umur maka tanggung jawab pengelolaan warisannya akan di tanggung oleh orang kepercayaanku yang sampai saat ini masih mengelolanya.
akan secara resmi di terima dan di kelola oleh Dewita saat usianya nanti 18 tahun.
Untuk hasil dari warisan Dewita sebagian akan di simpan untuk tabungan masa depan Dewita yang akan disimpan oleh orang kepercayaanku, sebagian untuk pengelola warisannya, dan sebagian untuk orang yang mau merawat Dewita hingga sampai di usianya yang ke 18 dengan catatan dia menjamin pendidikan Dewita sampai lulus SMA.
Untuk Semua perhiasanku ku serahkan kepada Wati Anakku.
Demikian surat ini saya buat dengan sebenar benarnya tanpa paksaan dan tekanan dari siapa pun.
"
__ADS_1
Wati yang mendengar isi surat wasiat ibunya itu tercengang. Dia tak menyangka jika Ibunya memiliki harta yang tidak dia ketahuinya. Selama ini wati hanya tahu jika ibunya memiliki sawah dan juga perkebunan.
Sesaat dia melamun yang akhirnya di sadarkan karna mendengar warisan yang diterima oleh Dewita lebih banyak dari Asmita dan Anita.