
Meskipun semalam begadang tapi itu tak membuat Dewita bangun kesiangan. dia tetap bangun tepat jam 4 subuh.
Sama dengan mbok Asih dan mbak Titi yang juga sudah bangun. Hari ini adalah hari yang cukup sibuk untuk mereka berdua. Pasalnya setiap Anita ulang tahun pasti di rayakan dengan meriah. Berbeda dengan Asmita yang hanya mengadakan makan bersama dengan teman sekelasnya biasa juga hanya dengan mentraktir mereka.
Hari ini seperti biasa Dewita berangkat kesekolah dengan naik ojek online yang di pesankan oleh mbak Titi.
Dewita hari ini cukup ceria, tak seperti kemarin yang lesu dan murung. Meski begitu sikapnya tetap sama seperti kemarin yang hanya diam saat belajar.
Dewita tak terlalu memiliki banyak teman dekat. Kebanyakan mereka takut pada zea yang selalu mengancam siapa saja yang dekat dengan Dewita. Entah kenapa zea sangat tidak menyukainya.
Hanya Anggi yang berani melawan Zea, dan Zea pun tak berani melakukan apapun pada Anggi karna ayah Anggi cukup berpengaruh di kota itu.
***
Dirumah mbok Asih dan mbak Titi mulai menghias pekarangan rumah majikan mereka bersama tim dekor yang di bayar oleh Wati untuk itu.
Tak seperti tahun-tahun yang lalu, hiasan kali ini cukup sederhana dengan kesan anak remaja.
Mungkin karna usianya juga yang bukan lagi anak-anak jadi malu jika hiasannya terlalu heboh dan meriah. Begitulah yang ada dipikiran mbok Asih dan mbak Titi.
Setelah menghias taman, mereka pun menata hidangan yang sudah datang dari restoran majikan mereka juga kue-kue yang semalam mereka buat sambil menunggu datang kue ulang tahun nonanya. Apalah jadinya jika semua hidangan mereka yang masak.
Sekitar jam 1 siang si empunya acara sudah pulang, dengan hebohnya berlari kesana kemari mencari kakanya.
" kak mitaaaa ",
" kak mitaaaa ",
" kak mitaaaa ",
" eh mbak kak mita udah dirumah belum? ",
" belum non, dari tadi mbak belum lihat non asmita ", kata mbak Titi
" Aduuuh, mana si tuh orang ", ucap Anita yang mulai kesal.
" kenapa gak ditelfon aja non? ",
__ADS_1
" eh iya yah, makasih yah bi ", ucapnya tersenyum lalu berlari keatas menuju kamarnya.
semua yang melihat hanya menggelengkan kepala.
Didalam kamar Anita segera mencari ponsel miliknya. Setelah ketemu dia langsung menelfon sang kakak.
panggilan pertama tersambung tapi tidak dijawab. Tak menyerah, Anita kembali menelfon tapi panggilan keduanya pun sama tak diangkat.
Kesal..
Anita sangat kesal. Dia pun memutuskan untuk membersihkan badan terlebih dahulu baru kembali menghubungi sang kakak.
Setelah bebersih, diapun turun dan melihat kakaknya baru datang.
" iiih, kenapa baru datang sih? , entar lambat lagi makeupnya ",
" nita, kakak tu juga dari sekolah tadi ada ulangan dadakan dijam terakhir makanya lama ",
" ya udah cepat ayo nanti teman-temanku keburu datang ",
" iya bentar tunggu dikamar aja aku mau mandi dulu, makan juga lapar tauu ",
" eh iya deh maaf, udah sana cepat biar makeupnya juga cepat ",
Asmita berlalu untuk bebersih diri juga makan. Dia memang lumayan terampil dalam hal merias, mendekor bahkan kadang tanpa sepengetahuan wati dia sering menerima tawaran rias dan dekor dari teman-temannya.
Anita sudah dikamarnya sambil memilah gaun yang akan dipakainya nanti sambil menunggu sang kakak selesai dengan urusannya.
Belum mendapat gaun yang pas pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
" masuk aja gak dikunci ",
" Kak ini sepatu yang kakak minta bersihkan kemarin ",
" eh kamu, his bikin tambah badmood aja. udah taro disana aja. keluar sana ", ucap Anita dengan keras
Meski sudah biasa tapi Dewita masih suka sedih mendengar kakaknya yang satu itu masih belum bisa menerima dirinya. Dewita keluar dengan mata berkaca-kaca dan hampir menabrak Asmita, beruntung bawaan Asmita tidak jatuh.
__ADS_1
Dewita menatap takut dan terus meminta maaf. yang tak dia Sangka Asmita ternyata berbeda dengan Anita.
" Sudah gak papa, gak usah takut kakak gak marah ", ucap Asmita dengan senyum manisnya.
Dewita mendongak menatap kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca.
" mau ikut masuk gak? ",
" ehm enggak kak, kak Anita gak suka sama Dewita. Dewita mau bantu mbok aja dibawah "
" oh ya sudah,kakak masuk dulu yah ",
Dewita melihat Asmita masuk, dia sedikit senang karna kakak yang satu ini ramah padanya. Dia berharap Ibunya dan Anita juga bisa menerimanya.
***
Tamu mulai berdatangan, Anita masih dikamar. Dia sudah selesai dengan Dandanannya tapi dia kesal karna tak menemukan baju yang cocok padahal koleksi gaunnya sangat banyak.
Asmita yang kesal karna Anita terus mengomel soal baju mau tidak mau dia mengajak adiknya itu kekamarnya.
Mata Anita terbelalak melihat isi lemari kakaknya.
" Kak, kapan shopingnya?",
" udah pilih aja tapi cuma satu yah awas aja kalo ngelunjak mau banyak ",
" waaah gaunnya bagus-bagus semua lagi, dan ini bahkan masih ada label harganya ",
" udah sih kalau mau itu ambil aja tapi cuma kali ini aku kasih kamu baju dan ingat jangan bilang-bilang sama mama, kalau kamu bilang awas aja aku juga akan bilang kalau kamu ada pacar ",
" yah jangan dong kak bisa di gantung aku, iya aku gak akan ngomong yang penting kalau aku butuh boleh pinjam yak ", ucap Anita menaik turunkan Alisnya.
Asmita mencebik kesal melihat Adiknya itu mulai ngelunjak, selalu begitu. Anita memang dari kecil semenjak mereka meninggalkan rumah Nek ida waktu itu selalu dimanja hanya agar dia tidak rewel dan mengganggu jika Wati bekerja. Tapi beginilah hasilnya dia tunbuh dengan sifat yang cukup membuat repot.
Setelah memilih gaun Anita pun turun menemui teman-temannya. Diujung tangga dia bertemu Dewita yang mengangkat nampan berisi kue.
" Heh sini kamu, panggil mbak Titi aja. kamu jangan pernah nongol dipesta aku . Awas kalau teman-temanku sampai melihatmu ", ucapnya lalu meninggalkan Dewita yang sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Dewita pun kembali kedapur dan menjelaskan itu pada semuanya lalu melangkah masuk kekamarnya dengan wajah murung.