Derita Sigadis Bungsu

Derita Sigadis Bungsu
Harus pergi


__ADS_3

Setelah mengemasi barang-barang Dewita, Wati membawa semua nya ke teras rumah lalu memberi tahu pada mbok Asih dan semua pekerjanya agar melarang Dewita untuk masuk.


Menjelang sore Dewita pulang dan melihat semua barang miliknya ada di teras rumah. Dewita yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Asmita pun tidak terkejut hanya saja dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Sebenci ini kah orang yang telah melahirkannya.


Ada sedikit rasa kecewa yang menusuk hatinya. Dia tidak keberatan jika harus pergi karna selama ini juga dia tak pernah merasakan kasih sayang tulus mamahnya. hanya saja dia ingin tahu apa alasan hingga dia harus pergi secepat ini padahal yang dia dengar sebelumnya dia baru akan pergi setelah lulus nanti.


" Assalamu alaikum.. Maaah, mamaah, Dewi ya tahu mamah ada didalam. tolong mah beri aku alasan kenapa harus pergi maah? ",


" Maaaaaaah, bicara sama Dewita maah, apa salah Dewita maah ", ucap Dewita dengan linangan air mata. sungguh saat ini hatinya terasa sangat hancur.


Dari kecil dia hidup hanya dengan neneknya, dan selama itu pun sampai sekarang hidupnya seakan tidak jelas. tidak jelas kenapa dia tidak di inginkan dan sekarang pun diusir tanpa tahu apa alasannya.


Mbok Asih yang mendengar Dewita di luar bergegas menemuinya.

__ADS_1


" Neeeeng, sabar neng. nanti saja temuin ibu nya kalau ibu sudah tenang ",


" Tapi kenapa mbok, kenapa aku harus pergi sekarang ? , apa salahku mbok?",


" Neng Dewita gak salah kok neng. Ibu hanya sedang ada masalah saja mungkin. tadi ibu pulang nangis sambil marah marah terus ngamuk gitu ",


" Sekarang mending Neng Dewita ketempat Non Asmita dulu, udah dikasi tahukan tempatnya dimana ?",


Dewita hanya mengangguk sembari menghapus air matanya. Saat akan menarik barang-barang nya Dewita teringat akan sesuatu.


" Mbok, boleh Dewita minta tolong liatin di kamar dibawah kasur bagian atas. disitu ada map biru tolong diambilkan yah mbok ",


" iya boleh neng, tunggu yah mbok cariin ",


Tak lama Mbok Asih kembali dengan membawa map biru.

__ADS_1


" Ini neng mapnya ",


" iya mbok, tunggu yah mbok bentar ",


Dewita mengeluarkan kertas dan pulpen dari tasnya lalu menulis sepucuk surat dan diselipkan ke map itu.


" Mbok tolong map ini kasi ke mamah yah mbok, cuma ini yang bisa Dewita kasih ke mamah ", ucap Dewita sembari menyerahkan map itu pada mbok Asih.


" Makasih juga selama ini mbok Asih sama mbak Titi dan lainnya udah sayang sama Dewita. maaf kalau selama sama kalian Dewita ada salah ", ucap Dewita dengan tergugu.


" enggak neng, neng mah baik anak baik, mbok udah nganggap neng cucu mbok sendiri ", ucap mbok Asih lalu menarik Dewita dalam pelukannya.


" Makasih mbok, salam sama yang lainnya ya mbok, Dewita pamit. mungkin dengan tidak adanya Dewita dirumah ini bisa membuat mamah dan kak Anita lebih baik ", ucap Dewita dengan tatapan nanar ke arah rumah Wati.


Mbok Asih yang melihat Dewita perlahan menjauh dari rumah merasa sangat sedih. Selama dirumah ini dia lah yang merawat Dewita. Entah perasaan apa yang dimiliki oleh majikannya itu hingga tega menelantarkan seorang anak yang baik seperti Dewita. itulah yang selalu menjadi. pertanyaan dalam hati mbok Asih.

__ADS_1


__ADS_2