Derita Sigadis Bungsu

Derita Sigadis Bungsu
Hak asuh Dewita


__ADS_3

Setelah membacakan surat wasiat Nek Ida, pak Ardan pun memasukkan berkas tersebut ke dalam tas dan mengambil dokumen lainnya.


" Sesuai permintaan Ibu Ida di dalam map ini ada sertifikat dari tanah perkebunan dan juga sawah warisan ibu wati ,Asmita dan Anita ",


" Dan untuk berkas warisan milik Dewita akan tetap saya pegang hingga nanti usia Dewita 18 tahun. Harta warisan ini hanya bisa di ambil oleh Dewita tidak boleh di wakilkan kalaupun terpaksa di wakilkan harus menggunakan surat kuasa dengan stempel sidik jari dan tanda tangan Dewita dan juga harus dengan berkas berkas pendukung milik Dewita lainnya ", terang pak Ardan.


" Tunggu pak., saya tidak mengerti dan saya belum menerima sepenuhnya isi wasiat ibu saya. Bagaimana mungkin warisan Dewita lebih banyak dari pada saya sedang dia hanyalah cucu sedangkan saya ini anaknya ", kata wati dengan kesal.


" Untuk hal itu saya tidak tahu menahu bu. Tugas saya disini hanya menyampaikan dan menjalankan wasiat dari Ibu Ida. Jika sekiranya ibu tidak terima silahkan, tapi yang jelas surat wasiat ini sudah tidak bisa diganggu gugat ", terang pak Ardan


Wati terdiam meski kesal. Dia tidak tahu bagaimana lagi harus menjawabnya. yang dipikirkannya sekarang hanya bagaimana iya bisa mengambil warisan itu dari Dewita.


Wati merasa Dewita tidak pantas menerima warisan dari Nenek Ida.


" Apa masih ada pertanyaan ?",


" Jika sudah tidak ada pertanyaan sekarang kita membahas tentang hak asuh Dewita. Apakah ibu Wati yang akan merawat Dewita atau bagaimana mengingat ibu adalah ibu kandungnya ?",

__ADS_1


Wati yang mendengar perkataan pak Arda terdiam. Dia masih sangat membenci Dewita. Tapi demi harta warisan Dewita dia harus membuat keputusan. Sebelum Wati angkat bicara ibu Eti berbicara lebih dulu.


" Wati apakah kamu mau menerima Dewita dan mau merawatnya? jika memang kamu keberatan maka aku yang akan mengurusnya. aku tak peduli dengan hasil usaha dati warisan Dewita. aku sangat menyayanginya ikhlas dan tulus ",


" Alah ibu Eti bisa saja bilang begitu tapi nanti saat uang itu datang pasti ibu makan juga ", ucap wati dengan kesal.


" Saya masih ada yah, saya ini ibu kandungnya jadi sudah seharusnya Dewita ikut sama saya. saya yang akan merawatnya ", lanjut Wati


" Baiklah wati karna kamu sudah mengakui bahwa Dewita ini anak kandungmu maka baik lah aku tidak akan mencampurinya ", kata bu Eti


" Baiklah jadi keputusannya Dewita akan ikut dan di rawat oleh bu wati yah. saya harap anda bisa benar- benar merawat Dewita dengan baik ",


" Maaf bu sedikit cerita saya tahu dari Ibu Ida mengenai masa kecil Dewita. disini saya hanya ingin menegaskan bahwa setiap 6 bulan saya akan berkunjung menemui Dewita dan melihat perkembangannya itu sudah menjadi bagian tugas saya dari mendiang Ibu Ida ",


" Jika nantinya kalian tidak akan tinggal disini Ibu Wati harus memberi tahu saya kemana dan dimana kalian akan tinggal ",


" saya kira cukup sampai di sini dulu. Ini kartu nama saya untuk ibu Wati mempermudah ibu menghubungi saya. saya permisi dulu Assalamu alaikum ", pamit pak Ardan

__ADS_1


" Waalaikum salam ",


Saat akan keluar pak Ardan tiba- tiba berbalik dan memanggil Dewita.


" Dewita kemari nak.. ",


" Dewita paham tidak didalam kami sedang mebicarakan apa? ",


" iyya pak saya paham sedikit, saya hanya paham kalau sekarang Dewita tinggalnya sama Ibu sama Kakak karna Nenek sudha tidak ada ", jawab Dewita.


" Baiklah nak bagus kalau kamu mengerti itu. bapak akan berkunjung sesekali untuk menengokmu kelak karna bapak di perintah oleh nek ida untuk itu",


" Baik pak ", jawab Dewita tersenyum.


Setelah berbicara dengan Dewita ,Pak Ardan pun menuju mobilnya dan meninggalkan rumah Nek ida.


Ibu Eti dan suaminya pun ikut pulang karna pekerjaan di rumah nek Ida pun telah selesai.

__ADS_1


***


__ADS_2