
Disekolah..
Dewita yang baru sampai langsung berlari menuju kelasnya. Beruntung masih tersisa 5 menit sebelum bel tanda jam masuk dibunyikan.
Anggi yang melihatnya langsung bertanya.
" Dew tumben telat ",
" hmm biasa Anggi dapat tugas malam tadi ",
" Dari kak Anita? ",
" Yaa, siapa lagi kalau bukan dia ",
Tak lama guru mata pelajaran pertama masuk dan langsung memerintahkan agar meja dikosongkan. Semua tas di bawa kedepan tepatnya disamping papan tulis hanya alat tulis yang berada do atas meja.
" Assalamu alaikum, selamat pagi anak-anak ",
" Waalaikum salam, Selamat pagi pak ",
" oke, seperti janji saya dipertemuan sebelumnya hari ini kita ulangan. silahkan meja dikosongkan hanya boleh ada alat tulis diatasnya. Untuk Tas silahkan seperti biasa di bawa kemari ",
Semua siswa maju satu persatu meletakkan tas mereka lalu kembali kemeja masing-masing.
Setelah memastikan semua tas sudah didepan lembar ulangan pun dibagikan. Setelah semua mendapat lembaran masing-masing ulangannya pun di mulai.
Di kampus, Anita yang baru saja sampai langsung memarkirkan kendaraannya lalu bergegas masuk ke kelas. Harusnya pagi ini dia tidak ada kelas tapi tiba-tiba saja dosennya menyampaikan bahwa kelas dimajukan pagi ini sebab beliau ada urusan lain di jam kelas yang sebenarnya.
Anita melangkah dengan jengkel sebab dia masih ingin santai-santai dirumah tapi malah harus kekampus. Satu hal yang membuatnya senang karna tugas-tugasnya sudah selesai.
Selama hampir 3 jam akhirnya kelas itu dibubarkan. Anita keluar dengan wajah yang suntuk. lagi-lagi tugas, tugas dan tugas. karna suntuk dia pun memutuskan untuk kekantin bersama teman segengnya. sesampainya dikantin dia langsung memesan bakso super pedas untuk menghilangkan kesuntukannya juga rasa kantuknya. Setelah memesan dia pun mencari tempat dimana teman segengnya duduk.
" heh kenapa tu wajah kek pakaian belum di setrika? ", ucap Dela.
" Huuft siapa yang gak suntuk coba tiap tu dosen ngajar selalu saja ujung-ujungnya tugas rumah mulu ", jawab Anita
__ADS_1
" ya elah ngapain pusing sih kayak tu tugas loe yang ngerjain aja ", ucap Rika
" iya sih tapi ni yah andaikan mama gue gak ngotot gue harus sarjana gue mah malas yang namanya kuliah ",
" kalo gak kuliah emang loe mau kerja gitu? ", ucap Dela.
" Restoran nyokap ada 3, cafe 2 ya kali gue kerja sama orang. tapi ya itu mamah baru akan kasih kalau gue bisa dapat gelar sarjana ",
" waaaah, di kasih semuanya ke loe gitu kalau loe udah sarjana? ", ucap Rika
" yah enggak, nanti bakal dibagi sama kakak gue ",
" Adek loe juga? ", ucap Rika lagi
" ya kali mama gue mau kasih ke anak sial itu. gue mah kalau bukan dia pinter gak akan mau deket-deket ",
Rika dan Dela hanya geleng-geleng kepala mendengar penuturan Anita yang selalu menyebut Dewita anak sial. Rika,Dela dan Anita memang sudah berteman sejak SMA jadi mereka cukup tahu apa yang terjadi dalam keluarga itu. Meski begitu Rika dan Dela sebenarnya tak setuju dengan stigma anak sial itu. Tapi yah mau gimana Anita termasuk tipe yang keras kepala juga bebal.
" sial-sial begitu tapi lo bisa lolos dari tugas-tugas kampus juga berkat dia loh nit, menurut gue sih dia gak bawa sial malah bawa keberuntungan buat loh ", ucap Dela.
Anita hanya menatap jengah. Dia tahu bahwa sahabatnya itu tak sepenuhnya setuju dengannya yang selalu membully Dewita. Tapi jika mengingat cerita mamahnya dan bagaimana dia dulu lebih banyak menghabiskan waktu di penitipan anak lalu dengan mbok Asih hanya karna mamahnya sibuk untuk memperbaiki ekonomi keluarga mereka, itu membuatnya ilfiel, jengah, marah, kesal dan benci melihat Dewita.
Saat akan menjawab kedua sahabatnya itu tiba-tiba pelayan kantin datang membawakan pesanan mereka. Mereka pun menghabiskan makanan mereka dengan sesekali mengobrol sebelum akhirnya menghadapi 1 dosen lagi.
Sedang disekolah, Dewita dan temannya-temannya telah selesai mengerjakan ulangan masing masing. Kini mereka sedang duduk dikantin dengan Anggi yang menikmati cemilannya sedang Dewita dengan bekal dari mbok Asih.
" kamu yah Dew, memang gak bosen yah makan bekal. apa gak pengen gitu makan jajanan yang lain ", ucap Anggi.
" kalau masakan Mbok Asih mah gak akan bosen aku nggi, dan mending uang dari mamah aku tabungin ", ucap Dewita dengan senyum manisnya.
Ya, meski Wati masih belum sepenuhnya menganggap dia anak tapi Wati tetap rutin memberinya uang bulanan walau tak sebesar bulanan Anita dan Asmita dulu.
" iya juga sih ", ucap Anggi.
" emm Dew setelah ini kan kita gak ada kelas karna para guru rapat, temenin aku ke mall yuk ", sambung Anggi.
__ADS_1
" Hah, ke mall ngapain ", tanya Dewita.
" yah jalan-jalan cuci mata gitu ", ucap Anggi dengan senyumnya disertai alis yang dinaik turunkan.
" emmm gimana yah? ",
" Ayolaaah dew, yah yah yah.. ",
" Em ya udah deh, tapi gak lama yah ",
" oke bestieee ",
Setelah selesai urusan kantin mereka pun berjalan menuju gerbang dimana supir Anggi sudah menunggu.
" Cepat pulang nya non ", ucap sang supir sambil membukakan pintu nonanya.
" hehe iya mang deni, gurunya rapat jadi gak ada yang ngajar tadi juga udah dibolehin pulang kok ",
" oh baik non, ini kita langsung pulang atau gimana non? ",
Sebelum Anggi menjawa Dewita menyela..
" bentar pak.. ",
" nggi, gimana kalau kita ke pasar tradisional aja disana banyak jajanannya ",
" emmm kepasar yah? ", ucap Anggi sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.
" kali ini aku yang traktir lah, biasanya kan kamu yang traktir ", ucap Dewita.
" aaah kalau gitu kita kepasar yang biasa yah pak, mumpung di traktir ", ucap Anggi dengan Semangatnya.
" heeeem worang kaya mah juga seneng yah kalau dapat traktiran ", ucap Dewita ditanggapi tawa oleh Anggi dan supirnya.
***
__ADS_1