Derita Sigadis Bungsu

Derita Sigadis Bungsu
ingin sendiri


__ADS_3

Setelah berjalan beberapa menit mereka akhirnya sampai di kosan itu.


Kosan yang lebih mirip dengan pesantren karna di tengah tengah ada mushola, dikiri kanan Musholah ada masing- masih 5 kamar.


Di depan kamar kos yang sebelah kiri Musholah ada sedikit pekarangan lalu rumah yang tak terlalu besar tapi tak juga kecil. sedang yang didepan kamar sebelah kanan Musholah ada parkiran yang tidak terlalu luas juga ada beberapa Gasebo kecil berjejer sekitar 5 gazebo.


" naah, ini dek tempatnya semoga suka yaah, eh iya lupa dari tadi kita belum kenalan yah. kenalin saya Fatimah, panggil mbak Fatimah aja yah seperti yang lain ",


" ah iya mbak, saya Dewita mbak ",


" mari saya tunjukkan kamarnya juga peraturan ditempat ini yah ", ucap mbak Fatimah.


" Rumah itu rumah saya. saya tinggal Sama anak angkat saya namanya Fisya ",


" Disana yang gazebo itu diperuntukkan untuk santai- santai juga untuk tamu llawan jenis. jadi yang lawan jenis gak boleh masuk kamar yah kecuali ayah kandung, saudara laki- laki kandung atau suami tapi harus ada bukti nya juga biar saya percaya ",


" di Musholah itu bisa untuk solat berjamaah yang mau, juga disini setiap malam Jumat wajib berjamaah teru pengajian yah ",

__ADS_1


" Nah ini kamar kamu yah kalau suka, disini sudah lengkap itu dapur dan perlengkapannya dijaga baik-baik juga kebbersihannya. itu lemari dan tempat tidur semua fasilitas disini jadi silahkan dipakai yah ", ucap Mbak Fatimah menjelaskan.


" emm kalau sewanya gimana mbak?", ucap Dewita.


" Disini perbulannya 400 ribu sudah ditanggung semua kecuali kebersihannya, jadi bersih-bersih sendiri yah dek , ingat jagan kebersihan ",


" ah iya mbak, kalau gitu saya ambil kamarnya, dan insyaallah saya akan ingat dan patuhi aturan disini ",


" ya sudah ,ini kuncinya. mbak tinggal dulu yah. kalau ada apa-apa kedepan saja ",


Mbak Fatimah berlalu meninggalkan Dewita di depan kamarnya. Dewita yang kelelahan langsung masuk kekamar dan istirahat.


Hampir 2 jam Dewita tertidur di kamar itu. sampai akhirnya terbangun karna suara adzan ashar.


Dewita bergegas membersihkan diri lalu ke mushola untuk sholat berjamaah dengan yang lainnya.


Setelah selesai Dewita kembali ke kamarnya. Disana dia teringat kembali akan apa yang telah terjadi.

__ADS_1


Dia membuka ponsel yanng sedari tadi dia nonaktifkan. Terlihat beberapa panggilaan tak terjawab dari Asmita juga Mbok Asih. Dewita lupa untuk mengabari mereka.


Tak ingin membuat mereka khawatir terlalu lama Dewita pun mengirimkan pesan untuk Asmita dan Mbok Asih.


" Kak, maaf baru kasi kabar. aku baik-baik saja. kakak jangan khawatir. dan maaf kali ini aku ingin sendiri dulu. aku juga sudah menemukan tempat tinggal dan insyaallah aman ",


Setelah mengirimkan pesan pada Asmita dan mbok Asih, Dewita kembali menonaktifkan ponselnya.


Dia sedang ingin sendiri dan tak ingin diganggu. sejenak ia termenung lalu bangkit dan memilih merapikan pakaiannya dan barang bawaannya.


Setelah selesai dia merasa lapar apalagi sedari siang dia belum makan.


Diambilnya dompet juga tas Selempangnya serta jaket. Dewita berjalan keluar bermaksud untuk mencari waruung terdekat.


Terlihat suasana luar masih terlihat sepi. Rumah yang ditinggali mbak Fatimah pun sepi. mungkin mereka masih bekerja, entahlah.


Dewita yang seperti Mati rasa untuk keadaan sekitarnya terus berjalan menyusuri lorong hingga akhirnya sampai dijalan poros. untungnya tidak jauh dari situ ada warteg yang menjadi tujuan Dewita.

__ADS_1


__ADS_2