
Mery melihat ada vas bunga kecil dilemari dekat pintu keluar. Langsung dia ambil dan di lemparkan ke arah Elno.
“Praank”
Vas bunga kecil itu itu pecah mengenai kepala bagian belakang Elno. Karena pada saat Mery dibawa paksa keluar Elno berbalik badan menghadap kearah lain.
“ Elno!” teriak ibu Endang.
Elno meraba kepalanya, seketika Elno pun tersungkur ke lantai dan tidak sadarkan diri.
......................
Dirumah Safiyah gelisah memikirkan Elno yang tidak memberikan kabar. Biasanya Elno tidak pernah absen menanyakan kabar beritanya. Hari ini sudah empat jam belum juga Elno menghubunginya.
“ Mungkin dia sedang sibuk. Atau dia sedang ada rapat.” gumamnya dalam hati
“ akh, kenapa aku gelisah sekali. Apa aku coba telpon saja? Akh tidak! Nanti kalau dia sedang rapat berarti aku sudah mengganggunya. Tunggulah satu jam lagi.”
Sambil menunggu telepon dari Elno Safiyah membuka perban tangannya dan mengganti dengan yang baru.
Sudah jenuh Safiyah menunggu, Elno tidak juga menghubunginya.
Safiyah memutuskan untuk menghubunginya terlebih dahulu.
“ tuuut tuuut.”
“ Halo? Ini Safiyah ya?”
Duk Duk jantung Safiyah mendengar suara perempuan di handphone Elno.
“ i iya, saya Safiyah. Bukankah ini nomor ponselnya mas Elno?” Tanya Safiyah tenang dengan dada yang berdebar-debar.
“ Benar ini ponselnya Elno, saya mamanya Elno. Nak Safiyah bisa ke rumah sakit harapan sekarang juga?”
“ i iya nyonya.”
“ panggil saja Tante”
“ i iya Tante, Safiyah sekarang kesana”
Safiyah langsung menyambar switer dan tasnya.
“ Sonia, kakak keluar dulu.”
“ jangan lama!” Teriak Sonia.
“ Iya.”
Safiyah memesan taksi online. Selama dalam perjalanan Safiyah bingung kenapa mamanya Elno memintanya datang ke rumah sakit.
“ mengapa Tante meminta ku datang kerumah sakit? Kalau dia tidak setuju dengan hubungan kami kan bisa datang kerumahnya saja? Atau bisa bertemu di resto-resto, seperti di drama-drama cinta. Hehe!”
......................
Di kantor polisi Mery ditanya banyak pertanyaan tapi tidak satupun dia menjawabnya.
" Hei Nona! kau ini bisu ya? apa kau tuli? pertanyaan kami tidak satupun yang kau jawab!." inspektur polisi itu mulai emosi melihat tingkah Mery yang bersikap sombong disana.
" kau lihat ini? ini kejahatanmu yang dilaporkan oleh korban! semuanya sudah ada buktinya! kau mau mengelak apa lagi?"
Inspektur polisi ini, turun langsung menginterogasi Mery , karena Mery tidak bersikap kooperatif. Jadi menurutnya Mery punya orang yang berkuasa dibelakang nya.
tidak berapa lama datang seorang polisi membisikkan sesuatu ketelinga inspektur polisi itu.
" Benar dugaanku, kau punya orang yang berkuasa dibelakangmu". polisi itu tersenyum ala joker.
" Kau dibebaskan! Pengacaramu telah mengurus semuanya!."kata polisi sambil bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
Seorang pengacara memasuki ruangan itu dan memberi hormat pada Mery.
" kenapa lama sekali!" Mery meneriakkan pengacara itu"
" Maaf nona banyak yang mau diurus dulu tentang jaminan kebebasan anda". Jawa si pengacara.
......................
Safiyah sampai di rumah sakit. Saat sampai dilobi dia dijemput oleh Romi asisten Elno. Dan menuju ke ruang rawat Elno. Tidak ada percakapan diantara mereka. Hingga tiba di sebuah ruangan Romi mempersilahkan Safiyah masuk.
Betapa terkejutnya Safiyah saat pintu terbuka dia melihat Elno terbaring di ranjang rumah sakit. Safiyah berlari kearahnya.
“ Mas Elno. Kenyada disini? Tadi pagi mas baik-baik saja.”
Safiyah meneteskan air mata, lalu menangis disamping Elno sambil menggenggam tangannya.
“ Mas bangun, mas kenapa? Bangun mas jangan diam saja!”
Safiyah tidak menyadari kalau di sofa kamar itu ada ibu Endang yang terbangun karena mendengar suara Safiyah. Dia memperhatikan dan membiarkan Safiyah mengeluarkan isi hatinya sambil sesekali tersenyum mendengar ocehan Safiyah.
“ Mas bangun! Lihat aku mas! Katanya mas mau mendengarkan jawaban Safiyah. Mas bangun! Mas, Safiyah mau jadi istrinya mas Elno. Tapi mas harus bangun. Kalau mas ngajak nikah sekarang juga, Safiyah mau kok mas. Asalkan mas bangun...” Safiyah menangis tersedu-sedu dibahunya Elno.
“ beneran mau nikah sekarang juga?” tanya Elno pada Safiyah. Membuat Safiyah terkejut dan menangis sejadinya.
“ huahaha Safiyah pikir mas Elno mau pergi untuk selamanya...”
“ Sudah, Jangan menangis! Berisik ! Kasihan sama pasien lain.”
“ Iya mas. Kepala mas kenapa? Habis dikeroyok berapa orang? Seperti waktu mas nolongin Safiyah, mas jago sekali ilmu beladiri nya. Hingga Safiyah terpesona sama mas."
“ Jadi ini gadis yang ingin kamu nikahi El?” tanya ibu Endang membuat Safiyah terdiam membisu. Dia jadi salah tingkah.
Dia membalikkan badannya menghadap ibu Endang.
“ ha?? Ibu??" ibu Endang dan Safiyah sama-sama melotot terkejut.
" ini saya buk.. yang nolongin ibu waktu itu...?" Safiyah memeluk ibu Endang yang di balas oleh ibu Endang.
Mata Elno terbelalak melihat adegan dua wanita yang dicintainya itu.
“ Lo, ternyata kamu ya yang sering diceritakan oleh Elno?” terlihat kegembiraan Dimata ibu Endang.
“ Masa iya Bu? Cerita bagus apa jelek ya Bu..? Safiyah penasaran.
“ Cerita yang bagus lah.., apa kabar adik kamu?
“ Alhamdulillah baik, ibu gimana?
Elno merasa diabaikan oleh kedua wanita itu.
“ bukankah aku yang sakit? Kenapa jadi aku yang diabaikan? Dasar wanita kalau ketemu yang satu frekuensi ya beginilah, lupa pada anak dan suami.!
“ ehkem, ehkem.” Elno berdehem.
Lalu Safiyah mendekat tapi hanya memberikan segelas air kepadanya, kemudian lanjut lagi ngobrol dengan ibu Endang.
Tak lama kemudian masuklah Romi dan mendekati Elno.
“ Tuan, nona Mery dibebaskan atas jaminan.”
“ Apa? Siapa yang menjamin nya?”
“ Tuan Subroto.” Jawab Romi.
“ Kenapa bisa dia? Kamu cari tau apa hubungannya dengan Mery.”
“ baik tuan”.
__ADS_1
Selepas kepergian Romi , ibu Endang dan Safiyah mendekat.
“ Ada apa El? Kenapa mukamu kesal? Tanya ibu Endang.
“ Mery dibebaskan ma, dan penjamin nya Subroto.”
“ Apa?? Jangan-jangan selama ini.., Mery mata-matanya??" Seru ibu Endang
“ itu lagi diselidiki ma.”
Ibu Endang terduduk dikursi nya. Sambil punggung nya diusap-usap oleh Safiyah.
Safiyah memang tidak tahu apa permasalahan yang mereka bicarakan.
" Tenang ya Tante, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya." Safiyah menenangkan ibu Endang.
......................
" Kamu kenapa ceroboh sekali Mery?!
untuk apa kamu ingin membunuh wanita itu?
Untung tuan Subroto mau menjaminmu dan membebaskanmu?"
Mery hanya diam mendengarkan ocehan papanya. Papanya Mery bernama pak Danu asisten pribadi tuan Subroto pemilik perusahaan Subroto jaya group yang merupakan saingan Sanjaya grup.
" Papa mengirim kamu kesana untuk memata-matai mereka untuk menghancurkan perusahaan mereka, bukannya untuk jatuh cinta pada cucunya Sanjaya itu!"
pak Danu semakin emosi melihat kelakuan Mery yang acuh tak acuh pada penjelasannya.
" Mery! kamu tidak mendengarkan perkataan papa ?" teriak pak Danu.
" Mery dengar pa! Mery mau ke kamar, hari sudah malam Mery capek seharian di kantor polisi!" Meri bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
" Merry!! teriak pak Danu semakin keras. seketika membuat pak Danu tersungkur ke lantai.
" Bruuk"
......................
" Sayang, kamu pulang saja. tidak usah menungguku disini, jika kamu disini kasihan Sonia sendiri dirumah."
" Mas tidak mau Safiyah temani?"
" Bukan, mas sangat senang kalau kamu menemani mas disini, bagaimana dengan Sonia?"
" tidak usah khawatir mas, ada Neni yang menemani Sonia dirumah. Neni sudah seperti adik keduaku dan kakak kedua Sonia."
" kalau begitu mas pesankan makanan ringan untukmu ya..,"
Safiyah menganggukkan kepalanya. sementara Elno menelpon seseorang.
......................
" pa, papa. bangun pa! ini Mery. Papa Mery mohon pa."
" Maaf nona, cukup sampai disini, biarkan kami mengambil tindakan untuk Tuan. Nona dan Nyonya silahkan tunggu disini."
" tolong papa saya ya suster.!
" Papa?! Berarti Mery anaknya pak Danu asisten tuan Subroto??! Romi bergumam dalam hati
bersambung.......,..........
terima kasih sudah membaca karya author,
jangan lupa like komen disetiap chapter hadiah dan vote ya .... terima kasih.
salam author
__ADS_1