
Andi dan anak buahnya berhasil mengusir semua preman bayaran lawan bisnis Tuan Matteo.
" Lapor tuan, semua sudah Kami selesai kan." Lapor seorang anak buah Andi yang mendekati nya
" Bagus. Sisanya tolong dibereskan!" Perintah Andi kepada anak buahnya.
" Baik Tuan." Kata anak buahnya sambil pergi dari hadapan Andi. Sedangkan Andi pergi memasuki rumah besar tuan Matteo.
" Terima kasih Nak Andi dan Leo mau menolong saya dan keluarga dari para preman itu." Ucap Tuan Matteo sambil menyambut dan bersalaman pada Andi dan Leo.
" Jangan sungkan Tuan, sudah tugas sesama manusia saling membantu." Sahut Andi dengan senyum ramahnya.
" Pelayan! bawakan mereka minum." perintah Tuan Matteo kepada pelayannya.
" Baik, Tuan." jawab seorang pelayan wanita.
" Nak Andi dan Nak Leo, Perkenalkan ini Noah anak pertama saya. Dia berprofesi sebagai Dokter, tidak tertarik dengan bisnis." Tuan Matteo menyuruh Noah berkenalan dengan Andi dan Leo.
Noah bangkit dari duduknya dan menyalami Andi dan Leo." Sepertinya aku harus belajar ilmu beladiri dari kalian hahaha." kelakar nya noah membuat mereka tertawa.
" Dan dia, putriku yang nakal, Rania." kata Tuan Matteo yang melihat Rania masuk keruangan kerja papanya.
" Hai, Tuan. Kita bertemu kembali." Rania tersenyum nakal melambaikan tangannya ke arah Leo.
Leo menelan salavinanya melihat senyum nakal rania yang ditujukan kepadanya.
" Kalian sudah saling mengenal?" tanya Tuan Matteo pada Leo dan putrinya.
" Ha-hanya berpapasan saja Tuan." jawab Leo terbata-bata salah tingkah.
Tok tok tok
Pintu ruang kerja Tuan Matteo terbuka. Terlihat Nyonya Kemala masuk kedalam dengan menggandeng Safiyah diiringi Elno yang berada di belakang mereka.
" Papa, ingatan Ressa eh maaf, Safiyah sudah kembali." Katanya sambil tersenyum senang dan juga sedih. " Namanya Safiyah, pa" nyonya Kemala berusaha menguatkan hatinya.
Safiyah memberikan usapan lembut pada punggung nyonya Kemala. Dia tahu nyonya Kemala sangat peduli dan sayang padanya seperti anaknya sendiri.
" Nyonya.., jangan bersedih." kata Safiyah sambil memeluk nyonya Kemala. " Aku akan selalu jadi Ressa nya nyonya." Safiyah menghapus air mata nyonya Kemala yang jatuh dengan jarinya.
" issh mama! Aku putrinya mama sudah pulang, jangan sedih lagi." Rania memeluk nyonya Kemala.
__ADS_1
Elno dan Safiyah duduk di sofa bersama dengan Andi dan Leo.
" Tuan, tujuan kami kesini sebenarnya ingin membawa Safiyah pulang ke rumahnya, jika tuan mengizinkan. Kami butuh izin karena tuan dan keluarga yang telah merawatnya selama dia sakit." kata Leo yang membuka pembicaraan.
" Nak Leo, kami memang yang merawatnya, tapi kami tidak hak untuk melarang nya kembali ke keluarga nya sendiri. Kami bahkan senang Safiyah sudah menemukan keluarga nya. Dan ingatan nya sudah kembali." jawab tuan Matteo senang.
" Tuan, nyonya, Dokter Noah dan juga Rania. Safiyah mengucapkan terimakasih sudah merawat dan menjaga saya dengan penuh cinta dari kalian. Safiyah sudah berhutang Budi pada kalian." Safiyah mulai berkaca-kaca.
" Safiyah akan selalu mengingat kalian, dengan kebaikan kalian tanpa tau siapa aku bersedia merawat ku sampai sembuh. Safiyah juga akan selalu mengunjungi kalian, karena kalian keluarga Safiyah juga. hiks hiks " bersusah payah menahan akhirnya air matanya mengalir juga
" huhuuuu, Ressa janji ya, akan selalu berkunjung kesini." nyonya Kemala kembali menangis dan memeluk Safiyah.
" i-iya, nyonya." Safiyah membalas pelukan nyonya Kemala.
" Sudah ma, sudah. Enggak usah lebay deh mama!" Dokter Noah gregetan melihat tingkah mamanya.
" Tuan, kami permisi. Tuan Subroto sudah menunggu kedatangan kami." Kata Andi sambil bangkit dari duduknya.
" O iya taun, kalau butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungi saya." Andi menjabat tangan tuan Matteo begitu pula tuan Matteo sambil menganggukkan kepalanya.
Kepergian Safiyah membuat Nyonya Kemala sangat sedih. Dia memperhatikan mobil yang membawa Safiyah hingga hilang dari pandangannya. kesedihan masih terlihat dimatanya.
Rania masih setia menemani nyonya Kemala berdiri di depan pintu rumah, sambil mengelus punggung nya.
" Mama sedih, mama tidak punya teman untuk diajak ngobrol lagi." katanya lirih.
" Kan sudah ada Rania." sahut Noah.
" Mama mau menantu yang seperti dia, Noah." Gumamnya pelan tapi bisa didengar oleh Noah dan Rania.
Rania tertawa kecil menggoda kakaknya. sedangkan Noah hanya bisa terdiam tak bisa berkata lagi.
Perlahan nyonya Kemala masuk kedalam rumah dengan dipapah oleh Rania.
......................
Di dalam mobil Safiyah melihat keluar jendela mobil. Dia merasa seperti baru bangun dari mimpi. Sedangkan Elno masih setia menggenggam tangannya.
" Safiyah, bagaimana kepalamu? masih sakit? Nanti sampai dirumah sakit langsung periksa ya." tanya Leo yang melihat wajah Safiyah masih pucat dari kaca spion dalam.
" ya, Abang. Kepalaku memang sedikit sakit." jawabnya pelan, matanya masih menatap keluar jendela mobil.
__ADS_1
Elno memperhatikan Safiyah yang menatap keluar jendela mobil.
" Ada apa, sayang? Mas perhatikan matamu selalu melihat keluar jendela?" tanyanya.
" hmm. Tidak apa-apa, Mas. Hanya saja semua yang telah terjadi seperti mimpi." Jawabnya pelan.
" Sini, tidurlah di dada Mas. Nanti kalau sudah sampai, Akan Mas bangunkan." Elno menarik bahu Safiyah dan meletakkan kepala Safiyah di dada bidangnya.
Safiyah menurut saja. Dia memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh Elno yang ia rindukan. Begitu tenang dan nyaman.
Leo memperhatikan dari kaca spion dalam tersenyum melihat kemesraan mereka. Walaupun dia merasa seperti menjadi seorang sopir untuk tuan nya, karena dia sendiri duduk di bagian depan mobil sedangkan Andi mengemudikan mobilnya sendiri.
Tiga puluh menit berlalu, mereka telah sampai di depan gedung Rumah sakit. Safiyah dan Elno turun lebih dulu karena Leo akan memarkir mobilnya.
" Kalian duluan ya, Aku mau memarkir mobil dan membeli makanan di kantin terlebih dahulu." kata Leo setelah itu dia berlalu.
Safiyah dan Elno berjalan menuju ruang rawat Tuan Subroto.
deg deg deg
Jantung Safiyah seperti dipompa dengan kencangnya. Tangannya dingin dan lutut seperti melemas.
Elno merasakan kegugupan yang dialami kekasihnya. Dia menghentikan langkahnya untuk menenangkan Safiyah lebih terlebih dahulu.
" Safiyah." Dia menatap matanya kemudian menghapus keringat yang mengalir dari dahinya dengan sapu tangannya.
" Tenangkan dulu dirimu. Duduk dulu disini. Atur napas, setelah tenang barulah kita masuk. Mas beli air minum dulu."
Safiyah melakukan apa yang diperintahkan oleh Elno. Dia merasa sudah bisa mengontrol emosinya. Tinggal beberapa langkah lagi dia akan tiba di depan pintu ruang rawat tuan Subroto.
Elno sudah terlihat mendekatinya.
" Mas, ayo kita masuk. Fiyah sudah siap." Kata Safiyah dengan menatap Elno.
Elno memegang tangannya memastikan kalau dia tidak gugup lagi. Dan memberikan minuman yang baru dia beli dari kantin.
" Minum dulu."
Safiyah minum beberapa teguk air, Tapi reaksi berbeda dari Elno. Dia melihat lehernya Safiyah membuatnya menelan salavinanya.
" Ayo, Mas." Ajak Safiyah. Elno hanya menurut tangannya ditarik oleh Safiyah.
__ADS_1
Cikleek
bersambung.....