Desain Cinta Safiyah

Desain Cinta Safiyah
Bisa dan mandiri


__ADS_3

GUBRAK!!


Pak Danu terpelanting sejauh dua meter, setelah sebuah mobil box menabrak tubuhnya. Bukannya berhenti, mobil box itu pergi begitu saja meninggalkan tubuh pak Danu yang tergeletak tidak sadarkan diri di tengah jalan. Terlihat ada darah yang keluar dari kepalanya.


Warga yang melihat ada orang yang tertabrak langsung mengerubungi tubuh pak Danu yang tidak sadarkan diri itu. Dan segera menghubungi layanan gawat darurat.


......................


Di halaman rumah yang megah dan mewah itu, Meri didorong hampir terjatuh oleh seorang pelayan wanita rumah itu.


" Maaf Nona. silahkan anda pergi dari rumah ini! karena rumah ini bukan rumah anda lagi!" kata pelayan itu sambil mendorong Meri keluar dari rumah.


" Dan ini barang-barang Anda dan ayah anda. Anda hanya boleh membawa satu koper saja. Maafkan kami hanya menjalankan tugas kami, Nona." Kata pelayan wanita itu sambil memberikan dua buah koper. Satu koper berisi barang-barang Meri. satunya lagi berisi barang-barang pak Danu.


Dia mengusir Meri dari rumah besar nan megah tempat dia tinggal dari dia kecil. Dia merupakan kepala pelayan yang baru. Ternyata semua pelayan dirumah sudah diganti semuanya tanpa kecuali oleh Leo dan mengusir pak Danu dan Meri dari sana atas perintah tuan Subroto.


Meri pergi melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Dengan membawa dua buah koper yang besar miliknya dan pak Danu.


Dengan langkah pelan, sambil sesekali dia melihat kebelakang, dengan wajah yang sedih menatap rumah yang selama ini tempat dia dan papanya bernaung.


Dia teringat saat pertama kali datang kerumah ini saat dia berumur sepuluh tahun. Dia dibawa oleh pak Danu kesini untuk mengobati hati tuan Subroto yang merindukan anak dan cucunya. Sedangkan istri pak Danu menetap  dikampung. Dia tidak mau mengikuti pak Danu untuk tinggal di kota.


Drttrttt drttrttt


Ponselnya Meri berdering. Dia menatap ponselnya untuk melihat siapa yang menghubungi nya. Ternyata itu dari nomor asing, dan ia abaikan saja.


Drttrttt drttrttt


Ponselnya kembali berdering. Dia merasa terganggu dengan suara ponselnya, terpaksa dia menerimanya.


“ Halo!” Meri menjawab dengan suara kesalnya.


“ Maaf nona, apakah nona mengenal tuan Danu?”


“ I-iya. Saya putrinya. Anda siapa, ya?


“Kami dari rumah sakit, ingin mengabarkan kalau Tuan Danu mengalami kecelakaan.”


“ Apa?! Papa kecelakaan?!” Meri kaget mendengar perkataan orang diseberang telpon.


“ Sekarang dia ada di rumah sakit xx. Diharapkan kehadiran keluarganya segera. Kami tunggu ya nona.”


“ Ba-baik. Saya segera kesana.” Jawab Meri. Dia terduduk dijalan. Dia merasakan kakinya melemah seketika.


“ Papa..”gumamnya lirih.


......................


Di sebuah ruang kerja yang bertuliskan CEO , terlihat Safiyah yang sangat fokus membaca dan mempelajari berkas-berkas yang diberikan oleh Leo padanya.


Karena Safiyah masih perlu banyak belajar tentang bisnis dan perusahaannya, semua keputusan dan kebijakan perusahaan dipegang oleh Leo.


Safiyah mengetahui siapa Leo bagi kakeknya dari tuan Alek. Jadi dia sangat mempercayai dan menghormati Leo. Dan menganggap nya sebagai kakak lelakinya.


“ Abang Leo. Jadi, perusahaan kita juga punya restoran?” tanyanya pada Leo.

__ADS_1


“ iya itu..., Apa? Nona memanggilku Abang?” Leo menaikkan sebelah alisnya, merasa aneh dengan panggilan Safiyah padanya.


“ Iya, Abang. Boleh kan, Safiyah memanggil mu Abang? Sebagai kakak laki-laki ku?” tanyanya


“ Boleh, nona. Tapi, bagaimana jika Tuan Subroto tidak suka?”


“ Tenang saja, bang Leo. Safiyah yang akan bicara sama kakek. Dia tidak akan marah. Satu lagi!”


“?? Apa nona?”


“ Jangan memanggilku dengan sebutan nona, tapi Safiyah.”


“ Tapi, no.., Safiyah, nanti Tuan Subroto marah besar kepadaku.”


“ Tidak, Abang..., Ayo kita lanjutkan kuliah privatnya.” Ajak Safiyah untuk fokus ke perkuliahan singkatnya.


Leo hanya mengangguk-angguk saja.


......................


Meri berlari kerumah sakit. Dia mendekati bagian informasi rumah sakit.


“ Permisi mbak, dimana ruangannya Danu cahyono?” tanyanya sambil panik


Petugas itu langsung melihat dikomputer nya mencari nama Danu cahyono.


“ Tidak pasien yang bernama Danu cahyono, Nona.”


“ Dia korban kecelakaan “ kata Meri sedikit gelisah.


“ Terima kasih, mbak.” Meri berlari menuju rumah sakit. Dia panik takut papanya kenapa-kenapa. Mau sebangsat apapun, dia tetaplah papanya.


Meri memasuki UGD tergesa-gesa. Dia mencari keberadaan papanya. Tiba-tiba dia berhenti didepan pintu ruang UGD khusus.


“ Permisi suster, saya putrinya tuan Danu. Bagaimana keadaan papa saya, suster?” kata Meri yang berdiri diluar ruangan khusus tersebut.


“ Dia akan segera dioperasi, jadi perlu persetujuan keluarga nya.” Jawab suster pelan.


" Apakah, nona keluarganya?


" i-iya.


"kalau begitu silahkan ikut saya, Nona." suster itu mengarahkan Meri masuk keruangan lain untuk menandatangani berkas agar pak Danu bisa ditangani dengan segera.


Meri melihat angka nominal di berkas itu.


" Ha? Dua puluh juta? untunglah aku masih memiliki sedikit tabungan." Gumamnya dalam hati dan menandatangani berkas itu.


......................


Hari-hari telah berlalu. Sudah satu Bulan Safiyah menjabat sebagai CEO Subroto Grup. Tiada hari yang dilaluinya tanpa kesibukan. Sehingga kualitas waktu untuk bertemu Elno sang pujaan hati sangatlah sedikit.


 


Sama halnya pagi ini, Safiyah hanya sarapan pagi sedikit sekali. tuan Subroto yang duduk dikursi rodanya memperhatikannya.

__ADS_1


" Safiyah, kurang kesibukanmu. Seminggu lagi kau akan menikah. Nanti kau sakit." Kata tuan Subroto yang mengingatkannya. Dan memandang kearah Leo yang sedang makan duduk di sebelah kirinya.


" Leo akan mengurangi pekerjaan Safiyah, kek. Kakek tenang saja!" kata Leo sambil tersenyum pada tuan Subroto.


Sekarang Leo memanggil Tuan Subroto dengan panggilan kakek. Sama seperti Safiyah dan Sonia.


" Hari ini saja, kek. Safiyah ada klien yang harus ditemui pagi ini segera." Safiyah berdiri dan mencium pipi kanan Sonia. dan menyalami tangan kakeknya.


" Bang Leo. Safiyah duluan ya. Pagi ini, Safiyah punya janji akan menemui klien" ucapnya pada Leo kakak angkat dan cucu angkat kakeknya.


" Apa tidak perlu Abang temani?"


" Tidak usah, kalau terus-terusan ditemani, kapan fiyah akan bisa dan mandiri, Abang." jawabnya tersenyum penuh semangat.


" Baiklah." jawabnya.


" Abang akan memperhatikanmu dari jauh saja, Fiyah. Abang khawatir dengan dengan klien ini, dari kemarin dia tidak bisa menjaga matanya." Gumamnya dalam hati.


" Kakek, Leo berangkat juga ya." kemudian Leo menyalami tangan kakeknya.


" Adikku Sonia..., apakah mau berangkat kuliah sama Abang?! tawar Leo pada sonia. Karena Sonia memang sering meminta berangkat bersama saat Sonia malas membawa mobilnya ke kampus." tawar Leo kepada Sonia


"Tidak usah, Bang. Hari ini Sonia agak sibuk, jadi harus bawa kendaraan sendiri." jawab fiyah


Leo tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar dan meninggalkan Sonia dan tuan Subroto dimeja makan.


......................


"Mas! Mas Elno! " Safiyah menangis dan meringis kesakitan. Dia bergantungan dipinggir sebuah jurang. kedua tangannya dipegang erat oleh Elno yang ingin menyelamatkannya.


" Sayang. pegang erat tangan Mas! Mas akan menarik kamu keatas!" Elno dengan semua kekuatannya. mencoba menarik tubuh Safiyah keatas.


Dengan segala kekuatan dan upaya Elno menarik tubuh Safiyah keatas. Belum sampai di atas, pinggiran jurang itu tiba-tiba longsor sedikit. sehingga membuat Safiyah kembali bergantung dipinggir jurang dengan satu tangannya berpegangan dengan tangan Elno.


" Mas!! Safiyah takut mas....! hiks hiks hiks" Safiyah menangis. Dia melihat jurang itu akan kembali longsor


" Safiyah, sayang.., ayo ulurkan tanganmu lagi. sini sayang!" pinta Elno


" Tidak Mas!" Safiyah menangis dan menggelengkan kepalanya.


" Mas pergilah!! teriak Safiyah


" ti-tidak! Mas tidak akan melepaskan tanganmu!" Elno juga menangis dan menggelengkan kepalanya.


Elno semakin berusaha menarik tangan Safiyah keatas, akan tetapi pegangan tangan mereka mulai terasa licin.


" Pergilah, Mas! pergi!" teriak Safiyah


Elno melihat mata Safiyah yang sendu dan tersenyum kecil padanya


" ti-tidak sayang! jangan! jangan lepaskan Safiyah! tidak! tidak-tidak!


Safiyaaaaah!!


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2