
Saat tiba di depan Gerbang rumah, Rania disuguhi pemandangan yang sangat tidak biasa. Banyak orang yang tergeletak di sepanjang jalan dari gerbang sampai ke teras rumahnya. Mereka ada yang pingsan dan yang meringis kesakitan.
Matanya melotot dan tangan menutupi mulutnya yang menganga karena terkejut. Kemudian berlari ke rumah, karena dia mengkhawatirkan keselamatan orang tuanya. Sampai sampai koper yang dia bawa tinggal begitu saja.
Mama.... papa...," teriak Rania dengan berurai air mata.
Dia membuka pintu dengan tergesa-gesa mencari keberadaan papa dan mama nya.
" Papa! Rania pa?" kata Nyonya Kemala yang mendekati tuan Matteo dia sangat mencemaskan keselamatan putrinya.
Cikleek
Pintu terbuka dan ternyata Rania yang membuka pintu dengan keadaan selamat.
" Mama!" Rania berlari memeluk nyonya Kemala.
" Rania, anakku. Kamu baik-baik saja kan nak?" nyonya Kemala memeluk dan mengusap rambut Rania dengan derai air matanya.
Rania melepaskan pelukannya.
" Apa yang terjadi ma? pa? kenapa rumah kita berantakan sekali? kenapa mereka berkelahi di rumah kita? Lihatlah! Semuanya berantakan diluar sana!" tanya Rania yang sangat tidak rela melihat halaman rumahnya berantakan.
" Nanti minta ganti rugi sama papamu. Ini karena ulah lawan bisnis papa!" jawab nyonya Kemala sambil menunjuk ke arah Tuan Matteo.
Rania melirik kesal kearah Tuan Matteo dengan tangan mengepal, sedangkan yang dilirik hanya nyengir kuda.
......................
Setelah kepergian Dokter Noah keluar, Elno menatap wajah Safiyah dan membelai wajah yang sangat dirindukannya.
Tak terasa air matanya sudah membasahi pipinya. Dia teringat saat detik-detik Safiyah jatuh ke jurang, membuat tangisnya semakin keras. Dia tidak perduli lagi dengan image dan harga diri nya lagi.
Perlahan mata Safiyah terbuka. Dia tersadar dari pingsannya karena ada suara tangis ang mengusiknya. Dan juga tangannya yang terasa sakit karena genggaman Elno yang erat.
__ADS_1
Dengan kepala yang masih terasa sakit, Safiyah memperhatikan Elno yang menangis. Terukir senyum kecil dibibir nya.
Elno masih belum menyadari kalau Safiyah sudah sadar, karena dia menundukkan wajahnya.
“ Laki-laki kok menangis, Mas?” Kata Safiyah pelan sambil tersenyum tipis.
Mendengar perkataan Safiyah, Elno mengangkat wajah nya dan langsung memeluk erat tubuh yang masih lemah itu.
“ Safiyah, Safiyah..., Sayang...” Elno dengan suaranya gemetaran.
Ukhuk ukhuk
" Maaf sayang. Mas begitu bahagianya, bisa melihat mu lagi. Bisa menyentuh mu lagi, Bisa memeluk mu lagi. Mas sangat merindukan mu. Mas tidak mau lagi kehilangan kamu." Elno menatap Safiyah, membelai wajahnya, lalu memeluknya lagi.
kini Safiyah sudah duduk tapi masih diatas tempat tidurnya. Begitu pula Elno duduk disebelahnya sambil menggenggam tangan Safiyah.
" Mas, bagaimana keadaan kakek dan Sonia?" tanyanya kepada Elno.
" Sonia baik-baik saja, tapi tuan Subroto di sedang dirawat dirumah sakit." jawabnya pelan.
" Kakek sakit apa, mas?" tanyanya lagi.
" Sayang, kamu masih lemah, istirahat dulu. Jangan mikir yang lain dulu. Setelah kekacauan di sini selesai, kita akan kesana." Bujuk Elno.
" Baiklah." jawabnya pasrah. " Tapi aku sangat merindukan mereka." Gumamnya sendiri.
......................
__ADS_1
Dirumah sakit Sonia dengan telaten merawat Tuan Subroto. Dia mengelap tangannya dengan handuk kecil yang basah. Begitu pula dengan wajah nya.
" Safiyah, Safiyah." Tuan Subroto mengigau menyebut nama Safiyah.
" Kakek, tunggu sebentar lagi ya, Kak Safiyah sedang dijemput oleh kak Leo dan kak Elno." Bisik Sonia sambil mengelus-elus tangan kakeknya.
"Cikleek" pintu terbuka. Sonia menoleh melihat siapa yang masuk. Ternyata Romi.
" Sonia, ayo makan dulu. Kakak sudah belikan nasi kesukaanmu." kata Romi sambil membuka bungkusan yang dia bawa.
Sonia menggelengkan kepalanya.
" Kamu juga butuh tenaga untuk merawat tuan Subroto." Romi bangkit dan menarik tangan Sonia memaksanya supaya makan.
......................
" Kepalamu masih sakit?" tanya Elno.
" Tidak, Mas." ucapnya pelan.
" Bagaimana dengan Rendi?" tanyanya penasaran.
" Dia sudah ditangkap dan dihukum." jawab Elno. Dia teringat saat dia menghajar Rendi hampir mati karena dia tidak bisa mengontrol kemarahan.
" Mas tahu darimana kalau aku ada disini?" Tanya Safiyah sambil meletakkan kepalanya di dada Elno.
" Leo melihatmu ada dirumah sakit xxxx. Dari sana kami mulai mendapatkan jejak mu." jelas Elno sambil mengelus punggung Safiyah.
" hmm, jadi kalian terus mencari ku. Maafkan aku sudah merepotkan kalian, Mas."
" hei cantik, yang terpenting sekarang kau sudah ditemukan." Elno memegang dagu Safiyah dan mendongak kan kepalanya.
Mata mereka bertemu saling tatap. Elno melihat bibir mungil Safiyah. Begitu menggodanya. Karena sudah lama dia tidak menyentuh bibir ini.
Wajah Elno mendekati wajah Safiyah. Dia menempelkan bibirnya ke bibir mungil Safiyah, perlahan mencium bibir dan me***tnya, Begitu dalam dan menggebu-gebu dan tak ingin berhenti. Hingga ciuman mereka terlepas karena kehabisan napas.
Mereka terengah-engah, ingin mengulang kembali karena kerinduan yang sangat mendalam. Elno mencium puncak kepala Safiyah berkali-kali kemudian memeluknya erat.
__ADS_1
bersambung...