
Safiyah mulai memata-matai rumah besar milik kakeknya. Rumah besar bergaya Eropa klasik berkonsep megah teatrikal serta dihiasi hiasan-hiasan tinggi. Safiyah berdiri tak jauh dari gerbang masuk. Dia mengamati situasi disekitar rumah. Dia melihat begitu banyak pengawal berdiri didepan rumah itu
Tak lama kemudian pintu gerbang terbuka sedikit. Ada seorang lelaki yang merupakan salah satu pengawal rumah menempelkan selembar kertas di pintu gerbang masuk.
Safiyah dengan pelan melangkahkan kakinya menuju gerbang untuk melihat apa yang tertulis disana.
“ Mencari seorang pelayan! Ini kesempatanku” gumamnya dalam hati. Kemudian dia ambil kertas yang tertempel dipintu gerbang. beranjak pergi.
Safiyah menyamarkan penampilannya menjadi gadis cupu berwajah tompel disebagian wajahnya.dan menggunakan kacamata. Dengan rambut pendek sedagu. Agar tidak dikenali oleh pak Danu dan Mery.
Dia berjalan menuju gerbang dan mengetuk pintu pelan. Tidak ada raut takut sedikitpun diwajahnya. Dia penuh percaya diri.
Pintu gerbang terbuka dan keluar seorang pengawal laki-laki.
“ Ada apa, Nona?”
“ Maaf tuan.” Kata Safiyah sambil mengambil selembar kertas dari dalam tasnya.
“ saya melihat ini tuan” kata Safiyah sambil memperlihatkan kertas yang dia ambil tadi.
“ Masuk!” pengawal itu membawa Safiyah menemui pak yuda kepala pelayan rumah.
“ Pak yuda, ini ada seorang wanita ingin menjadi pelayan rumah.”
Pak Yuda menoleh dan memperhatikan Safiyah dari atas kebawah. Pikirannya tak apa bila memberikan kesempatan kepada gadis ini. Karena semua pelayan dirumah ini ditolak oleh tuan Subroto.
“ Kemari!” panggil pak Yuda kepada Safiyah.
Safiyah mendekatinya sambil menundukkan kepala. “ iya Tuan.”
“ Siapa nama kamu?”
“ Dijah tuan.” Sahutnya.
“ Kamu benar mau kerj?
“ iya tuan. Saya perlu uang untuk membiayai sekolah adik saya, tuan.”
“ Baiklah, tugas kamu untuk merawat dan mengurus semua kebutuhan dan keperluan Tuan Subroto. Dia tidak bisa melihat jadi kamu yang mengerjakan semuanya.”
__ADS_1
“ Kakek tidak bisa melihat?.” Gumamnya.
“ Baik Tuan”
Kemudian pak Yuda bangkit dan memerintahkan agar Safiyah mengikutnya. Menaiki tangga menuju lantai dua.
Safiyah berjalan sambil memperhatikan sekelilingnya. Disebelah kanannya begitu banyak pintu. Sedangkan sebelah kirinya terlihat dibawah merupakan ruang tamu yang begitu luasnya.
Langkah kaki Safiyah terhenti didepan salah satu kamar yang dibuka oleh pak Yuda.
“ ayo masuk!” perintahnya.
Baru beberapa langkah masuk terlihat lelaki tua sedang duduk bersandar diatas tempat tidurnya, dengan mata yang terpejam. Badan nya terlihat kurus dan tak terawat. Mata Safiyah berkaca-kaca melihat kakeknya. Seperti ingin menangis tapi dia tahan.
“ sabar, sabar Safiyah nanti ketahuan. Kakek, ini cucu Kakek.” Gumamnya dalam hati
Pak Yuda menundukkan kepala didepan tuan Subroto. Dan diikuti oleh Safiyah.
“ Tuan, saya membawakan pelayan baru untuk melayani semua keperluan tuan.”
Tuan Subroto hanya diam.
“ tugas kamu merawatnya. Kamu harus memastikan semua kebutuhannya. Dan juga obat ini jangan lupa diberikan sesuai aturan yang tertulis disana. Mengerti?” perintah pak Yuda sambil memperlihatkan sekantong obat.
“ I-iya tuan saya mengerti.” Safiyah mengambil obat yang diberikan oleh pak Yuda.
Sepeninggal pak Yuda Safiyah memperhatikan sekitaran luar kamar. Merasa aman, dia menutup dan mengunci kamar kakeknya.
“ Pergi! Pergi kamu dari sini! Aku tidak butuh kamu! Kamu orang bayarannya Danu! Pergi sana!” Teriak pak Danu.
Safiyah tersentak melihat kakeknya seperti itu. Dia berfikir apa yang telah dilakukan oleh pak Danu kepadanya?
Disaat tuan Subroto masih meneriakinya, Safiyah langsung memeluk kakeknya.“ Kakek, tenang lah...!
Seketika tuan Subroto terdiam mendengar kata kakek, baru pertama kali dia mendengar ada yang memanggilnya kakek.
“ kakek? Siapa kamu?” Tanya Subroto yang mulai berkaca-kaca.
“ Saya Safiyah, kakek ...” jawabnya pelan.
“ Safiyah calon menantu Endang?” tanyanya lagi.
“ Iya kakek. Safiyah calon istri Mas Elno.” Jawabnya
Didorongnya tubuh Safiyah oleh kakek, karena teringat kalau dia pernah memerintahkan anak buahnya untuk merusak kiosnya.
__ADS_1
“ Berarti kamu suruhan Endang! Pergi sana! Aku tidak butuh kamu! “ tuan Subroto mengusir Safiyah.
Safiyah mendekati kakeknya, memeluknya erat sampai meneteskan air mata.
" kakek...., ini Safiyah cucu Kakek yang sudah lama kakek cari.
seketika tuan Subroto menangis mendengarkan kata Safiyah. dia meraba wajah Safiyah dan dia mengingat wajah Sabrina. tuan Subroto benar-benar dalam kesedihan yang mendalam kalau mengingat wajah anak tercintanya. dia menyesali perbuatannya yang dulu, mengusir Sabrina saat pulang dan berkata ingin menikah dengan ayahnya Safiyah.
" kamu benar-benar cucuku?"
" iya kakek. Mama Sabrina anak kakek."
Dipeluk nya erat tubuh Safiyah, " cucuku.., cucuku..., aku menemukanmu!"
Dari balik dinding kamar tuan Subroto ada telinga yang ingin mendengar percakapan mereka.
" cucuku, cucuku? ha! pasti dia sedang mengamuk kepada pelayan baru itu" katanya pelan sambil berlalu pergi, meninggalkan kamar itu
kembali kedalam kamar, cucu dan kakek ini masih larut dalam kebahagiaan. kakek mengusap-usap kepala Safiyah. sedangkan Safiyah mengelus-elus tangan kakeknya yang keriput.
" bukankah kau memiliki seorang adik? dimana dia?" tanya kakek.
" Namanya Sonia kek, dia aman dirumah Safiyah."
" kalian pasti cantik-cantik seperti almarhum mama kalian."
Safiyah baru ingat kakeknya tidak bisa melihat.
" Kakek, ada apa dengan mata kakek? kenapa jadi tidak bisa melihat? "
" kakak tidak tahu, waktu itu kepala kakek benar-benar sakit, lalu kakek pingsan. saat membuka mata, kakek sudah tidak bisa melihat."
" lalu, apa kata dokter kek?" Safiyah penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan kakeknya.
" dokter hanya mengatakan efek dari obat yang sering kakek konsumsi. katanya hanya sementara." jelas kakeknya.
" O ya kakek. Safiyah ingin membawa pergi kakek dari sini. Safiyah takut pak Danu akan berbuat yang lebih dari ini." Safiyah yang mulai mencurigai kebutaan kakeknya pasti ulah pak Danu dan Mery.
" Kita tidak bisa keluar dari sini Safiyah! Danu itu sudah mengepung tempat ini dengan banyak penjaga."
" kakek tidak usah takut, Safiyah akan memperhatikan situasi, baru bisa bertindak."
" iya, tapi hati-hati." tuan subroto begitu mengkhawatirkan keselamatan Safiyah. karena dia tahu bagaimana kejamnya Danu itu.
Safiyah melangkah keluar kamar. menuju ke lantai bawah ingin mengambil air minum kedapur. selama perjalanan dari lantai atas ke lantai bawah, Safiyah memperhatikan tiap-tiap titik dimana saja ada penjaganya.
" eh! kamu pelayan baru ya! celingak-celinguk seperti itu. mau cari apa?! tegur seorang pelayan senior kepadanya."
" Maaf, saya mencari dapur, mau mengambil air minum tuan Subroto." jawab sambil terbata-bata.
" dapur disana!" kata pelayan itu sambil menunjukkan arah dapur.
" ahk, iya maaf. salah jalan!"
Safiyah berjalan menuju dapur. saat sedang berjalan dia terkejut melihat Mery sedang makan di ruang makan. Safiyah berjalan dengan tenang melewati Mery. baru beberapa langkah Mery memanggilnya.
" eh kamu! kesini!" dia menunjuk kepada Safiyah yang sedang berjalan ke arah dapur.
jantung Safiyah berdetak kencang. ia takut penyamarannya terungkap.
" Akh..! apa dia mengenaliku? gumamnya dalam hati
__ADS_1
bersambung...
terima kasih sudah membaca karya author jangan lupa like jempolnya...