Desain Cinta Safiyah

Desain Cinta Safiyah
tongkat golf


__ADS_3

Elno dan Andi tiba lebih dulu didepan kediaman Tuan Matteo. Mereka melihat dari depan Gerbang seperti ada yang aneh.


Mereka berdua keluar dari mobil. Bersamaan dengan itu, Leo pun sampai dan keluar dari mobil menghampiri Elno dan Andi


" Ada apa?" tanya Leo penasaran.


" Ada yang aneh, gerbang terbuka dan terlihat pos penjagaan yang berantakan." jawab Elno.


" Coba kau lihat kedalam, El?" Andi meminta Elno untuk memeriksa keadaan gerbang.


Kemudian Elno perlahan memasuki gerbang. Dia mendengar suara orang berkelahi.


Rumah tun Matteo mempunyai halaman yang sangat luas yang ditanami pohon-pohon kecil dan bunga-bunga. Sehingga untuk berteriak pun orang luar mendengarnya samar-samar.


Elno melambaikan tangannya kepada Leo dan Andi. Meminta mereka mendekat padanya.


" Andi, kita butuh bantuan anak buah-mu, karena sepertinya di sini ada penyerang." jelas Elno saat memeriksa petugas keamanan sudah pingsan.


......................


Didalam rumah keluarga Matteo sangat menegangkan. Begitu jelas ketakutan diraut wajah seluruh penghuni rumah. Termasuk Nyonya Kemala sangat ketakutan. Kakinya gemetaran dan lemas. Dia memegangi tangan suaminya dengan eratnya.


Kecemasannya bertambah saat dia tahu Rania putrinya sedang menuju ke rumah. Dia menelepon Rania berkali kali tapi ponselnya tidak terhubung.


" Rania..., dimana kamu nak?! Papa, Rania pa...?" rengek nyonya Kemala.


" Sabar, ma. Papa dan Noah sedang mencari cara untuk menemukan Rania!" tegas tuan Matteo.


Tuan Matteo tidak bisa melihat istrinya menangis. Kalau melihatnya menangis taun Matteo menjadi kelabakan tidak tahu harus berbuat apa.


" Mama masuk saja ke kamar dan kunci pintu!" pinta tuan Matteo agar dia tidak melihat istrinya menangis lagi.


" Tidak mau! Mama mau disini menemani kalian!" rengek nyonya Kemala.


Tuan Matteo tidak menyangka saingan bisnisnya akan benar-benar menyerang dia dan keluarganya.


Sebelumnya Tuan Matteo memang mendapatkan telpon yang berisi ancaman dari rekan bisnisnya. Jika dia tidak mundur dari tender yang sedang dia ikuti, mereka akan menyerangnya dan keluarganya.


Tuan Matteo menganggap remeh ancaman itu. Bukannya mundur, dia malah memenangkan tender itu.


" Noah, cepat telpon polisi!" perintah nyonya Kemala yang sangat ketakutan.


" Sudah dari tadi Noah telpon, mama!" jawab Noah sambil menenangkan mamanya.


" Bik Sumi, tolong temani mama." Pinta Noah yang melihat bik Sumi datang juga ketakutan.


" I-iya tuan." Bik Sumi mendekati nyonya Kemala dan mereka saling merangkul.


" Bagaimana ini, pa? Jumlah mereka banyak sekali. Sepertinya kita kalah jumlah." Kata Noah yang menghampiri Tuan Matteo.

__ADS_1


" Papa juga bingung, Noah. Apa yang harus papa lakukan? Papa sudah menghubungi teman-teman papa, tapi mereka tidak mau menolong papa. Mereka takut. Sepertinya mereka tahu siapa yang sedang menyerang kita." jelas tuan Matteo.


" hoaam." disaat genting tiba-tiba Safiyah masuk ke ruang keluarga dengan mulut yang menguap.


Dia terkejut melihat ruang itu ramai dengan para pelayan dan tuan rumah yang berkumpul.


" Ng?? ada apa? Apakah aku melewatkan sesuatu?" tanyanya sambil merentangkan kedua tangannya.


" Nyonya kenapa menangis?" tanya Safiyah yang hendak mendekati nyonya Kemala namun tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuk dua orang preman yang akan memukul kepala Safiyah.


Safiyah dengan bekal ilmu beladiri yang lumayan jago langsung saja melawan kedua preman itu dengan tangan kosong.


buk


buk


buk


Safiyah meninju dan menendang kedua preman dengan lincahnya. Walaupun dia hilang ingatan, akan tetapi insting menyerang nya masih kuat.


Semua yang ada di ruangan itu melongok melihat Safiyah berkelahi dengan dua preman sekaligus. Dan dapat dengan mudah mengalahkannya.


Safiyah membuka pintu ruang keluarga dan melihat keluar ada banyak preman yang berkelahi dan menyerang rumah tuan Matteo.


" Ada apa sebenarnya, Tuan! Kenapa rumah anda diserang orang?" tanya Safiyah.


" ka-kau bisa berkelahi?" tuan Matteo balik bertanya.


" Kiriman rekan bisnis saya. Karena dia kalah tender." jawab tuan Matteo.


Kemudian Safiyah mengarah kepada dokter Noah. " Dokter Noah, anda bisa berkelahi?" tanyanya kepada Noah.


" Tidak bisa, Ressa. hehehe." jawabnya sambil tersenyum malu.


Safiyah melihat nyonya Kemala yang sangat ketakutan dipeluk oleh bik Sumi. lalu dia mendekatinya.


" Nyonya, anda jangan takut. Ressa akan melindungi nyonya dan keluarga nyonya." Safiyah mengelus punggung nyonya Kemala.


" Tapi Ressa, Rania masih diluar. Dia menuju kesini. Takutnya dia diapa-apakan oleh mereka. hiks hiks" nyonya Kemala menangis terisak-isak, dia memegang erat tangan Safiyah.


Safiyah memegang tangan nyonya Kemala dan tersenyum padanya.


" Nyonya, anda dan keluarga sudah menolong hidup Ressa. Kini giliran Ressa menolong keluarga nyonya dan Tuan Matteo. Nyonya tenang ya, Ressa akan menolong Rania." jelas Safiyah dengan sungguh-sungguh membuat Nyonya Kemala sedikit tenang.


Kemudian Safiyah keluar dari dalam rumah ikut berkelahi melumpuhkan preman-preman bayaran itu.


Buk


buk

__ADS_1


buk


Safiyah kembali menendang dan meninju para preman itu. satu persatu preman itu tumbang ditangan nya.


Noah dan seluruh penghuni rumah kagum melihatnya. Dengan sangat lincah kaki dan tangannya bergerak kekiri dan kekanan.


Di kejauhan Elno, Andi dan Leo juga ikut berkelahi untuk melumpuhkan preman-preman bayaran itu.


" Elno! cepat kau ke dalam rumah. Cari tahu keadaan di dalam!" pinta Andi kepada Elno. Dia memberikan jalan kepada Elno agar bisa masuk ke dalam rumah tuan Matteo.


buk


buk


buk


Elno melihat ada celah, Dia dengan cepat berlari kearah rumah.


......................


Safiyah terus saja berkelahi. Saat ini dia di kelilingi oleh enam preman sekaligus. Tenaganya mulai berkurang. Dia memasang ancang-ancang untuk memulai perkelahian.


Buk! Tiba-tiba kepalanya di hantam dengan benda keras. Dia sedikit oleng, kakinya mundur beberapa langkah sambil memegang kepalanya.


Noah yang melihat langsung masuk kembali kedalam dan mencari tongkat golfnya untuk dijadikan senjata.


" Noah! Noah! Kamu mau kemana nak?" tanya nyonya Kemala yang menghadang Noah keluar dari rumah.


" Noah mau menolong Ressa, ma..?" jawab Noah sambil menghindari nyonya Kemala.


" Jangan Noah! kamu tidak bisa ilmu beladiri nak! teriak nyonya Kemala. Namun Noah tetap pada pendiriannya.


Noah datang dengan memegang tongkat golf di tangannya.


" Hei! kau! Beraninya sama wanita! Lawan kamu itu aku!" Kata Noah dengan beraninya menunjuk ke dadanya.


Melihat aksi Noah, para preman hanya menyunggingkan senyum remeh kepada Noah. Dan maju perlahan.


Noah mulai merasakan lutut nya gemetaran dan sedikit mundur. sesekali dia mengayunkan tongkat golf itu kearah preman. Tapi preman-preman itu tidak berkutik sedikit pun. Malah membuat preman-preman tertawa geli.


Disaat bersamaan kepala Safiyah terasa sangat sakit akibat hantaman benda keras sehingga kakinya sedikit mundur sambil memegang kepalanya.


Satu persatu bayangan masa lalunya mulai ia ingat kembali. Terngiang di telinga semua orang memanggil namanya Safiyah.


Kemudian dia melihat cincin yang ada di jarinya. Ia ingat seseorang memasangkan cincin itu. Dan dia melihat wajahnya. Saat Bersamaan pula Elno berlari ke arah Safiyah.


" Mas Elno." Gumamnya pelan.


bersambung....

__ADS_1


jangan lupa like like like, terima kasih ya...


__ADS_2