
Mobil Elno memasuki halaman parkir sebuah butik mewah yang baru diresmikan yang bertuliskan Safiyah Butik. Ya kios jahit Safiyah yang dulu tempat dia mengumpulkan pundi-pundi uang dikit demi sedikit untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, kini berubah menjadi butik mewah.
Safiyah dan Elno keluar dari mobil dan berjalan menuju butiknya. Dia akan fitting baju pernikahan untuk terakhir kalinya, karena beberapa hari lagi akan diadakan acara nikahannya.
Semua karyawannya menunduk hormat kepada mereka berdua. Safiyah menyerahkan butiknya kepada Neni untuk dikelola.
“ Selamat siang Nona dan Tuan.” Sapa salah satu pegawai nya.
Safiyah yang langsung duduk di sofa tersenyum. Dan memerintahkan kepada salah seorang pegawai nya untuk membawa gaun pengantinnya.
“ Tolong bawakan gaun pengantinku kemari dan tolong panggil Neni, ya.” Pinta Safiyah kepada pegawainya.
“ Baik Nona.” kata pegawai itu sambil membungkuk dan pergi melaksanakan perintah Safiyah.
Sedangkan Elno tersenyum bangga kepada Safiyah. Karena mendengar kata tolong yang diucapkan Safiyah kepada karyawannya. Safiyah sangat menghargai setiap karyawan nya.
“ wuiiihhh, calon pengantin datang dengan wajah yang berseri-seri nih...” goda Neni yang sedang berjalan menuju ke arah Safiyah dan Elno duduk.
Safiyah berdiri dan menarik tangan sahabatnya agar duduk disampingnya.
“ Tuan Elno, anda sangat tampan hari ini?” kata Neni yang tidak segan-segan memuji calon suami temannya itu.
“ ah ya, saya memang sudah tampan dari lahir kok!” ucap Elno dengan gaya sombongnya membuat Safiyah mencubit perutnya. Dia tidak sangka akan mendengar perkataan seperti ini dari Elno.
“Auw! Sakit sayang!” jawabnya yang sedikit meringis dengan wajah yang ditekuk.
“ Hahaha, Wajah anda lucu, Tuan Elno.” Neni tertawa terbahak melihat kelakuan kedua calon pengantin ini.
Tak berapa lama datanglah karyawannya membawakan gaun pengantin yang Safiyah khusus desain sendiri untuk acara pernikahannya.
“ Neni, bisa tolong bagian yang ini di jahit sedikit lagi ya.” Kata Safiyah yang mencoba baju kebaya putih modern itu.
“ Baiklah.” Neni memberikan tandanya dan meminta agar karyawannya memperhatikan.
Elno yang melihat Safiyah menggunakan gaun pengantin berkali-kali menelan salavinanya. Matanya melotot seakan ingin keluar dari tempatnya. Karena dimata Elno gaun pengantin ini membuat Safiyah terlihat sangat cantik dan seksi. Dia benar-benar terpesona dibuatnya.
“ Bagaimana penampilan pengantin anda, Tuan Elno? Gaun ini, desain cinta Safiyah. didesain sendiri olehnya." kata Neni dengan senyuman.
“ Cantik dan seksi!” jawabnya seketika.
Safiyah yang mendengar senyum-senyum malu.
Setelah beberapa lama fitting baju pernikahannya. Safiyah dan Elno melangkah keluar dari butiknya.
__ADS_1
Saat mobil mereka akan keluar dari halaman parkir butik, mobil mereka berpapasan dengan mobil Andi yang mengarahkan mobilnya masuk ke dalam gedung butik.
“Mas. Bukankah itu mobil mas Andi?” tunjuk Safiyah kearah mobil Andi.
“ Benar. Ada apa dia kemari?” tanya Elno curiga.
“ Mungkin dia ingin bikin baju.” Jawab Safiyah berfikir yang baik-baik saja.
......................
Sonia sangat sibuk mempersiapkan acara pernikahan kakaknya. Dia ingin memberikan acara pernikahan yang meriah untuk kakak tercintanya. Mulai dari gedung, dekorasi, pelaminan, katering semuanya dia yang pilih dan tangani. Kalau masalah undangan dia serahkan kepada Leo.
Begitu pula dengan Romi, selain menangani urusan kantor, dia juga diperintahkan oleh Elno untuk membantu Sonia mempersiapkan segala keperluan pernikahan. Tentu saja ini membuat Romi dan Sonia semakin dekat.
“ Mas Romi, istirahatlah dulu. Mas tidak lelah bolak-balik dari kantor kesini, terus kekantor lagi?” kata Sonia yang melihat wajah lelahnya.
“ tidak apa-apa, Mas sudah biasa lelah. Hehe. Jawabnya tersenyum.
“ Mas sudah makan siang?” tanya Sonia.
“ Belum.” Jawabnya singkat.
“ Ayo kita makan dulu, Mas.” Ajak Sonia. Yang di anggukkan oleh Romi.
Mereka pun pergi makan siang bersama mengendarai mobil Romi menuju restoran terdekat.
......................
" Hei, Elno. Masih ingat aku?" Sapa nya pada elno yang sibuk dengan ponselnya.
"Ng??" Elno mengerutkan keningnya"
" Ini aku, El! yang dulu sering bergelayut di tanganmu...? " katanya lagi.
" Hissh! siapa nih cewek, bergelayut apaan!" Gumamnya dalam hati.
" Ng?? siapa ya, aku lupa. hehehe." jawabnya sambil buang muka kearah lain.
" Ini aku Ratih. Saat dirumah nenek dulu kita suka main bersama. Saat aku nangis dijailin oleh sepupu yang lain, kamu yang selalu menjagaku, El. Masa sih lupa?" Ratih mengingatkan kembali masa kecil mereka saat di kampung neneknya.
" oh jadi kamu Ratih, gadis yang ingusan dan juga cengeng itu?" jawabnya tersenyum sinis sedikit menegaskan.
" ya tidak perlu ditegaskan ingusan dan cengengnya kali!" kata Ratih sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
" Maaf, maaf. Bukan maksud begitu. Hanya sedikit tidak percaya saja, kalau akhirnya gadis kecil yang cengeng itu bisa menjadi gadis dewasa juga. hahaha." Elno terbahak-bahak melihat ekspresi wajah manja dan cengeng Ratih yang sudah tidak pantas untuk usianya.
" Sudah cukup, El! Aku kesini untuk datang dihari pernikahanmu! Bukan untuk meledekku!" Ratih cemberut sambil melipat kedua tangannya keatas perutnya.
" Iya, Maafkan aku. Apa kabarmu?" tanya Elno sambil membenarkan duduknya.
" Alhamdulillah baik." jawabnya singkat.
" Sepertinya kau masih sendiri. Kenapa kau belum menikah? di usiamu ini seharusnya sudah punya dua anak?" tanya Elno sedikit mengejeknya.
" ya karena kau tidak kunjung datang untuk menikahi ku, El!" jawabnya membuat Elno yang sedang minum tersedak.
" ukhuk ukhuk." Elno batuk untuk menstabilkan suasana hatinya yang terkejut dengan perkataan sepupunya itu.
" hahahaha" Ratih tertawa terbahak bahak melihat Elno salah tingkah.
" Ada apa dengan wajah mu, El?" Ratih tertawa sampai mengeluarkan air mata.
Ibu murni yang melihat dan mendengar sedikit obrolan mereka, melangkah mendekati mereka.
" Sudah Ratih, jangan diganggu calon pengantin pria ini. Biarkan dia istirahat."
" iya, buk. Ratih hanya menggodanya saja."
jawab Ratih sambil tersenyum.
" Tante Murni, apa kabar? sudah lama tidak bertemu." Elno mencium punggung tangan ibu murni dan duduk kembali.
" Tante baik. Bagaimana denganmu sendiri? apakah benar-benar sudah siap untuk berumah tangga?" tanyanya
" Insya Allah, siap Tante." jawab Elno singkat.
" Alhamdulillah." Kata ibu Murni. " Ayo Ratih kita kedalam. Ibu mau istirahat." Ajak ibu Murni kepada Ratih.
" Ratih belum mau istirahat, buk. Ratih masih ingin mengobrol dengan Elno. Ibu duluan saja ya, nanti Ratih nyusul kok." kata Ratih sedikit manja kepada ibunya.
" Tapi Ratih, badan ibu terasa sakit semua. Ibu mau minta kamu pijit dulu ya." pinta ibu Murni pada anaknya.
" iiiihhhhh, bagaimana sih ibu ini! Ratih masih mau ngobrol sama Elno, buk!" katanya sambil tangannya ditarik oleh ibu Murni menjauh dari Elno.
ibu Murni tau kalau anaknya, menyukai Elno dari dulu. Tapi sayangnya, cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
" Elno, Aku sangat merindukan mu!"
__ADS_1
bersambung.......
like like like