Desain Cinta Safiyah

Desain Cinta Safiyah
cemburu


__ADS_3

Ayo, Mas." Ajak Safiyah. Elno hanya menurut tangannya ditarik oleh Safiyah.


Begitu sampai didepan pintu Safiyah berhenti sejenak dan menarik nafas dalam-dalam. Tangan nya memegang handle pintu. Namun dia belum menekannya, tiba-tiba pintu terbuka.


Cikleek


Mata Safiyah melebar melihat Sonia yang membuka pintu.


" Kakaaaak!" Teriak Sonia. Tubuhnya langsung memeluk tubuh Safiyah.


Sejenak Safiyah mematung. Kemudian dia mendengar tangis Sonia yang menyadarkan nya.


Safiyah membalas pelukan Sonia. Dia sangat merindukan adiknya. Dipeluknya erat tubuh Sonia.


" Kakak. Ini benar-benar kakak kan? Kakak masih hidupkan? huhu" tangisnya semakin keras membuat orang lain memperhatikan mereka.


" Iya ini kakak masih hidup. cup cup cup." Safiyah mencium pipi kanan kiri dan kening Sonia. " Pelankan suara tangis mu, nanti kita diusir satpam karena berisik!" Kata Safiyah sambil mengusap kepala Sonia.


" Kakak, tapi aku kangen kakak...." ucapnya tersedu-sedu.


" Kakak juga kangen adik kakak yang cerewet ini! Ayo kita masuk." Ajak Safiyah yang masih merangkul adiknya.


Tuan Subroto yang mendengar suara tangis Sonia membuka matanya. Dia melihat kearah pintu ternyata Sonia dan Safiyah yang sedang berpelukan. Tak terasa air matanya juga mengalir.


" Kakek, Kak Fiyah masih hidup, kek... huhu huhuuuu" tangisnya kembali pecah setelah melihat tuan Subroto sadar.


Tuan Subroto merentangkan kedua tangannya, menyambut kedua cucunya agar memeluknya.


" Kakek.." kata keduanya bersamaan.


Tuan Subroto memeluk kedua nya. disebelah kiri ada Safiyah dan sebelah kanan Sonia.


Dibalik masker oksigen Tuan Subroto tersenyum bahagia. Dia mengusap kepala Safiyah dan Sonia.


Elno yang melihat mereka tanpa sadar ikut mengalir kan air mata, tiba-tiba menghapus air matanya agar tidak dilihat oleh Romi yang juga ada di sana.


......................


Mobil Andi sampai di parkiran gedung Safiyah Butik. Dia ingin menemui calon istrinya dan mengajaknya menemui Safiyah sahabatnya.


" Sayang?" Neni menyambut kedatangan Andi dengan pelukan mesra. Kemudian berjalan masuk keruang kantornya.


Setelah pintu ditutup Andi langsung menyambar bibir Neni dengan rakus. Sehari tidak bertemu dia sangat merindukan bibir lembut kekasihnya.


Neni bersandar di dinding menikmati setiap sentuhan bibir Andi. Saling membalas ciuman hingga nafas keduanya tersengal-sengal, barulah mereka mengakhirinya.


" Mas darimana? kenapa penampilan mas berantakan sekali?" Tanya Neni sambil melepaskan pelukannya dan menarik andi duduk di sofa.


" Dari menjemput Safiyah." jawabnya pelan sambil memainkan rambut Neni.


" Ooo." Dia berhenti sejenak berfikir. " Ha? Safiyah!?" Neni melotot seperti tidak percaya.


" Iya, sayang. Safiyah." Andi masih berkata pelan.

__ADS_1


" Mas! Apa maksudnya kamu jemput Safiyah?!" Tanya Neni dengan suara yang agak meninggi.


" Iya tadi mas sama Elno dan Leo, menjemput Safiyah pulang! Begitu!" jelas Andi juga dengan suara yang agak meninggi.


" Ha? Safiyah sudah ditemukan? dan sudah pulang? Aaaaaa! Ayo kita kesana Mas! aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." kata Neni dengan mata yang berbinar binar.


" Nanti dulu, sayang. Mas masih capek! pijitin dulu ya.?" Andi mengedipkan matanya.


" Gak mau!"


" Ya sudah, mas ganti baju dulu." katanya pasrah.


......................


Semalam kondisi Tuan Subroto sempat drop karena terlalu bahagia. Jadi Safiyah, Sonia dan juga Leo bergantian menjaga Tuan Subroto. Pagi ini setelah diperiksa oleh dokter, kondisi Tuan Subroto sudah stabil. Dia sudah bisa berbicara walaupun sedikit.


Dokter juga menyarankan agar tidak membebani pikiran Tuan Subroto.


" Bagaimana keadaan Safiyah, Dok?" tanya Elno pada Dokter yang selama ini merawatnya selain Dokter Noah.


" Hasilnya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sakit yang dirasakan bisa diobati dengan istirahat yang cukup." jelas dokter pada elno.


" Baiklah kalau begitu, Terima kasih Dokter. Kami permisi." Elno dan Safiyah bangkit dan meninggalkan ruang Dokter itu.


Mereka berjalan bergandengan tangan menuju ruang rawat tuan Subroto.


" Aku baik-baik saja kan, Mas? Masnya saja yang takutnya berlebihan."


" Jaga-jaga juga tidak apa-apa kan?" Kata Elno sambil tersenyum senang.


Neni berjalan sedikit cepat sehingga Andi tertinggal di belakang.


" akh, kalau sudah ketemu bestienya, aku terlupakan." gumamnya sendiri


" Safiyah." Neni memeluk Safiyah erat. " Bagaimana keadaanmu? sudah baikan?" tanyanya saat melepas pelukannya.


" Kau lihatlah sendiri." Safiyah memutar badannya.


" hmm, sepertinya sudah lebih baik." ucapnya pelan. Kemudian mereka tertawa bersama-sama.


Mereka kemudian menuju ruang rawat Tuan Subroto bersama. Safiyah berjalan didepan bersama Neni. sedangkan Elno dan Andi menjadi pengawal mereka berjalan dibelakang nya.


" Neni, aku tidak menyangka kalau kau akan menikah dengan Mas Andi? Kok bisa? Apakah kau diancam olehnya?" tanya Safiyah sedikit bercanda kepada Neni.


" ehkem ehkem " Andi yang mendengar namanya disebut hanya bisa berdehem. Sedangkan Elno tertawa kecil.


" Aku juga tidak tahu kenapa ya? mungkinkah aku diguna-guna?" jawab Neni yang juga bercanda.


Andi hanya melengos saja mendengar jawaban Neni.


" Kau juga, Fiyah. Kenapa masih ingin kembali padanya? Padahal Dokter Noah itu ganteng, dan sepertinya dia tertarik padamu?" Neni balik bertanya pada Safiyah


" ehkem ehkem" Kini giliran Elno yang berdehem.

__ADS_1


" Benar juga katamu Neni. Dokter Noah memang ganteng dan aku juga tahu dia tertarik padaku." jawab Safiyah santai.


Mata Elno membulat mendengar jawaban dari Safiyah.


" Safiyah!"


Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil Safiyah. Mereka menoleh asal suara.


" Owalah.., Panjang umurnya, baru disebut namanya orangnya nongol." gumam Neni pelan namun mereka bisa mendengarnya.


" Hai Dokter Noah. Aku sebagai sahabatnya Safiyah mengucapkan banyak terima kasih sudah merawat Safiyah." ucapnya sambil tersenyum manis ke arah Dokter Noah. Membuat Andi yang memperhatikan sedikit kesal. Dia tidak terima gadisnya menebar senyuman manis pada laki-laki lain


" Akh ya, terimakasih kembali, nona." jawabnya sambil menundukkan kepalanya.


" Dokter Noah, ada apa?" tanya Safiyah.


" Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah memeriksakan kepalamu?" Dokter Noah balik bertanya.


" Sudah, dan kata Dokter baik-baik saja." Jawabnya pelan.


" Syukurlah kalau begitu." ucapnya sambil tersenyum.


" Dokter Noah!" Panggil seorang suster kepadanya.


" Kalau begitu saya pergi dulu, ya." pamit nya pada Semuanya.


Belum jauh Dokter Noah pergi dari hadapan mereka, tiba-tiba tangan Safiyah ditarik oleh Elno agar cepat masuk ke ruang rawat Tuan Subroto.


" Ayo cepat! lama-lama diluar kau akan dihinggapi lalat!" kata Elno yang membuat Safiyah, Neni dan Andi terperangah.


" Lalat apaan sih Mas? Emangnya aku apa?!" tanyanya ketus.


Sedangkan Neni dan Andi tersenyum melihat tingkah Elno yang cemburu pada Dokter Noah.


Setibanya di ruang rawat inap tuan Subroto, mereka yang ada disana sedikit aneh melihat muka merah Elno.


" Ada apa?" tanya Leo pada Andi yang mendekati ranjang Tuan Subroto untuk menyapanya.


" Biasa, lagi cemburu." jawab Andi.


" Pada siapa?" tanyanya lagi.


" Dokter Noah." jawab Andi membuat mereka berdua terkekeh.


Percakapan Leo dan Andi didengar oleh Tuan Subroto. Sehingga Tuan Subroto memanggil Elno dan Safiyah agar mendekat kepada nya.


" Safiyah, kesini." panggilnya " Kau juga Elno."


Mereka berdua pun mendekat bersamaan.


" Ada apa, kek?" tanya Safiyah.


" Elno, kau bawa mama mu kesini hari ini juga. Kakek akan menikahkan kalian berdua hari ini juga." jelas tuan Subroto.

__ADS_1


" ha? Menikah?"


bersambung...


__ADS_2