
"Halo. Mery. ada apa lagi kau menghubungi ku, ha?" kata Elno diseberang telpon
" El, ada yang ingin aku bicarakan pada mu." jawabnya dengan ragu.
" Katakan lah sekarang! Aku tidak ada waktu untuk meladenimu".
" El! El, tunggu sebentar. Dengarkan aku, ini mengenai Safiyah." Mery mencoba meyakini Elno.
Elno yang sedang makan bersama Safiyah, mendapat telepon dari Mery menatap kearah Safiyah sambil tersenyum tipis.
" Safiyah? ada apa dengannya?" Elno mencoba memberi angin segar kepada Mery.
sedangkan Mery merasa bisa mendekatkan diri lagi kepada Elno.
" Lebih baik kita ketemu saja, biar ngomongnya enak dan tidak salah faham. Nanti aku kirimkan waktu dan tempatnya."
" Baiklah, aku tunggu!" Elno langsung mematikan sambungan ponselnya.
" yes! yes! yes! ini awalnya Elno, aku akan mendapatkanmu lagi!" gumamnya sendiri.
......................
" Kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh Mery tentang mu sayang?" tanya Elno
" Entahlah, mungkin dia akan membongkar siapa diriku, orang tuaku, bisa juga yang lainnya." jawab Safiyah sambil menaikkan kedua bahunya ke atas.
" Kau pergi saja, Mas. Siapa tahu nanti kita akan tahu apa rencana mereka berikutnya." saran Safiyah yang dianggukkan oleh Elno dan mereka melanjutkan menghabiskan makanan mereka.
......................
Safiyah dan Elno tiba di Rumah Sakit dan langsung menuju ruang dimana kakeknya dirawat. Di dalam ruangan sudah ada Andi yang setia menunggu tuan Subroto dari awal pemeriksaan sampai istirahat diruang perawatan nya.
Tuan Subroto tertidur karena kelelahan telah melakukan berbagai pemeriksaan. begitu juga dengan Andi juga terlelap diatas sofa ruangan itu.
Safiyah mendekati kakeknya, lalu menggenggam tangan yang sudah keriput itu. Dipandanginya wajah Tuan Subroto yang sudah tua. masih terlihat jejak ketampanannya saat muda dulu.
Safiyah mengelus membelai wajah tua kakeknya dengan mata yang berkaca-kaca. Betapa bahagianya dia bisa berkumpul dengan kakeknya.
Safiyah teringat akan cerita mamanya. Mama Sabrina selalu menceritakan kalau Safiyah punya seorang kakek yang tampan dan baik hati. Hanya saja saat itu kakek sedang marah kepada mama Sabrina. Makanya tidak pernah mempertemukan mereka.
Terasa ada yang menyentuh wajahnya. Tuan Subroto membuka matanya. Dan dilihatnya, cucu yang selama ini dia cari ada didepan mata membuatnya menangis.
" Cucuku..., kamu cucuku....?" tanya tuan Subroto sambil meraba wajah Safiyah.
" i-iya kakek .., ini Safiyah cucu Kakek." mereka saling berpelukan dan menangis bersamaan.
__ADS_1
Elno yang melihat kejadian ini ikutan mewek, dan matanya berkaca-kaca, tapi tidak sampai menangis. Dia tahan air matanya jangan sampai mengalir.
Andi yang semula tidur jadi terbangun dan mendekati Elno.
" Ayo tunggu diluar saja". Andi menepuk pundak Elno. Dia tidak ingin melihat adegan mengharukan seperti ini.
Saat mereka akan membuka pintu, bersamaan dengan Sonia yang lebih dulu membuka pintu dan masuk bergabung dengan kakak dan kakeknya.
Melihat Sonia masuk, Romi pun ingin ikut masuk tetapi tubuhnya didorong oleh Elno agar keluar bersama mereka. Romi hanya bisa pasrah ikut perintah atasannya.
Sonia mendekati kakak dan kakeknya.
" Kakak, bagaimana keadaan kakak dan kakek?"
" Kakek, ini Safiyah kenalkan. ini Sonia adik Safiyah. anak mama Sabrina juga." kata Safiyah sambil mengarahkan tangan kakeknya ke arah Sonia.
" kakek.., aku Sonia.., huhuuuu." air mata Sonia mengalir deras. dia tidak bisa tahan kalau melihat orang lain menangis, dia juga ikut menangis.
" Alhamdulillah..., cucu-cucu kakek akhirnya ketemu." tuan Subroto bersyukur telah dipertemukan dengan cucunya.
" sudah, sudah, jangan menangis lagi." bujuk kakek.
" Kenapa kakek tidak bisa melihat, kek?" tanya Sonia sambil menghapus air matanya.
" Kakek juga tidak tahu, kita tunggu saja hasil pemeriksaan dokter, ya." kata kakek sambil memeluk Sonia.
" Sonia, apa-apaan sih! cantik juga enggak!" Safiyah tersenyum melihat kedekatan Sonia dan kakeknya. Padahal baru beberapa menit bertemu.
" Kakek... Sonia senang sekali ada kakek.." Sonia dengan manjanya memeluk kakeknya.
Tidak lama kemudian pintu dibuka oleh Elno dan ada dokter Irwan datang.
" Bagaimana keadaannya Tuan? apakah tuan merasa nyaman disini?" tanya dokter kepada Tuan Subroto.
" Nyaman Dok."
" Dari hasil pemeriksaan darah Tuan Subroto ada zat yang dapat bila dikonsumsi terus menerus berakibat fatal. Makanya untuk awalnya menyerang mata." jelas dokter Irwan.
" apakah mata kakek bisa disembuhkan, Dok?" tanya Safiyah yang tidak rela bila mata kakeknya jadi korban kekejaman pak Danu.
" Mudah-mudahan bisa disembuhkan. dengan cara diberi obat dan terapi mata."
" Tolong sembuhkan mata kakek saya, Dok..." Sonia dengan wajah memelasnya.
" Tuan kita rawat dulu melihat reaksi obat terhadap matanya. Sudah fahamkan kondisi pasien saat ini?" tanya dokter kepada Safiyah dan Sonia. Mereka hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Pasien harus banyak beristirahat. Jangan sering diganggu. kalau sudah faham, kalau begitu saya permisi dulu." dokter Irwan pamit keluar dan bersalaman dengan Elno dan Andi.
" Terima kasih ya, Dok."
" Ok, sampai jumpa lagi." dokter Irwan memberi kode kepada Andi agar menelponnya lain waktu.
Safiyah mendekati Elno dan Andi yang sedang ngobrol diluar ruangan.
" El, aku pamit pulang dulu ya. Masih ada yang harus dilakukan."
" terima kasih, Ndi. atas segala bantuannya."
Elno menjabat tangan andi.
"Safiyah, Mas pergi dulu, kalau perlu apa-apa lagi telpon saja. Mas selalu siap membantu Safiyah." kata Andi yang menggoda Safiyah didepan Elno.
" ehkem ehkem." Elno berdehem tapi tidak batuk
" Iya, Mas Andi. fiyah ucapkan banyak terima kasih sudah membantu membawa kakek dari rumah itu."
" sama-sama fiyah. Sudah tugas kita saling membantu, iya kan."
" iya, hati-hati ya, mas." perhatian Safiyah kepada Andi membuat Elno semakin dongkol melihatnya.
......................
Neny baru tiba di Rumah sakit tempat Tuan Subroto dirawat. Dia tergesa-gesa karena tidak ingin melewatkan momen mengharukan pertemuan kakek dan cucunya itu.
Sambil membawa bekal rantang makanan, dia mencoba menghubungi Safiyah.
" Halo, Safiyah. Dimana ruangannya? ya, sebelah mana? kiiri atau kanan?" saat Neny berbalik kearah kanan tiba-tiba dia menabrak seseorang pria.
" Gubrak! klentang! Klentang!"
" Aaaaawwww....!!! "
semua bekal yang dibawa oleh Neny tumpah semuanya kelantai. berserakan dimana-mana. lebih parah lagi tumpahan lauk pauk itu, mengenai kemeja putih lelaki yang Neni tabrak.
Melihat itu, Neni melangkahkan kakinya untuk mendekati pria itu. tapi malang kakinya malah terpeleset. Beruntungnya lelaki itu reflek menarik tangan Neni. sehingga Neni jatuh di dalam pelukan lelaki itu.
Neni terpesona dengan ketampanan lelaki itu. Dan menghirup aroma tubuhnya yang wangi. Membuat Neni serasa terbang melayang dan lupa akan kejadian yang dia alami saat ini.
Lelaki itu tersenyum melihat kelakuan Neny. lalu berkata. " Apakah pelukanku nyaman untukmu nona?"
bersambung.....
__ADS_1
terima kasih sudah membaca karya author..