
" Maaf, kalian siapa? A-aku ada dimana?" tanya Safiyah yang baru bangun dari koma. Matanya nanar menatap ke sekeliling kamar.
"ha?? kau sadar nona? syukurlah.." nyonya Kemala tersenyum lebar.
Nyonya Kemala menghampiri Safiyah dan mendudukkan dirinya perlahan.
Sedangkan Noah, menatap penuh kekaguman melihat wajah Safiyah yang cantik dengan mata yang seperti mata elang.
deg
deg
deg
Detak jantung Noah seolah terintimidasi oleh tatapan tajam dari wanita yang baru siuman dari koma ini.
" wah, mata ini.., aku suka melihatnya!" Gumamnya dalam hati dengan senyum kecil nyaris tak terlihat.
" Siapa namamu, nona?" tanya nyonya Kemala .
" A-aku..., A-aku... Aaaaaaw!" Safiyah memegangi kepalanya yang terasa sakit.
" Ada apa? Noah cepat periksa." perintah nyonya Kemala.
Noah dengan cepat mengambil alat-alat kedokteran nya. Dan memeriksanya.
" Nona, apakah kepalamu sakit saat mengingat?" tanya Noah.
" sepertinya, iya." jawabnya agak meringis.
" Apa kau ingat namamu?"
Safiyah mencoba mengingat kembali tetapi kepalanya kembali sakit.
" jangan kau paksakan. Biarkan dulu seperti ini. Nanti kita kerumah sakit untuk periksa lebih lanjut ya, nona."
" Baiklah, terima kasih. Tuan, dan nyonya."
" Kau istirahatlah dulu, jangan banyak pikiran." kata nyonya Kemala sambil memegang kedua tangan Safiyah.
Safiyah menganggukkan kepalanya dan sedikit senyuman di bibirnya. Noah selalu curi-curi pandang.
" Ayo Noah, banyak yang harus kita kerjakan. Biarkan dia istirahat dulu." kata nyonya Kemala sambil menarik tangan Noah keluar.
Sedangkan Safiyah, masih berusaha untuk mengingat siapa dirinya. kenapa dia sampai bisa lupa jati dirinya.
" mama..., jangan tarik tangan Noah seperti ini." protes Noah pada nyonya Kemala.
" Kamu sih, kenapa mata kamu seperti itu, ha? seperti ada bintang-bintang Dimata kamu. Kamu jatuh cinta pada gadis itu?" kata nyonya Kemala
" Sepertinya.., iya ma." goda Noah pada nyonya Kemala dan langsung berlari dari hadapannya.
" Kamu sudah ada Helena, Noah! Jangan aneh-aneh ya!" teriak nyonya Kemala.
__ADS_1
Menjelang makan siang Safiyah merasakan perutnya lapar. Dia ingin mencari sesuatu yang bisa untuk mengganjal perutnya. Dia pun mencoba turun dari tempat tidurnya.
Kedua kakinya sudah menapak ke lantai. Saat dia ingin melangkah, bukannya berjalan malah dia melorot kelantai.
" aakkhh, kakiku kenapa?" dia merintih kesakitan.
" Nona. Anda kenapa? kenapa sampai ada dilantai?" Noah yang baru tiba segera membantu Safiyah naik ke atas tempat tidur lagi.
" Ma-maaf. A-aku lapar. Jadi ingin keluar, tapi kakiku tidak bisa digerakkan." jawabnya terbata-bata.
" Sepertinya harus segera kerumah sakit untuk memeriksa kan kondisinya." gumamnya dalam hati
"Kamu, tunggu dulu disini. Pelayan akan mengantarkan makanan mu."
Noah beranjak pergi dari ruangan itu. Dan tidak lama kemudian masuklah pelayan membawakan makan siang untuk Safiyah.
......................
Dua bulan berlalu, kesehatan Safiyah sudah benar-benar pulih. Hanya saja dia belum bisa mengingat siapa dirinya dan dimana keluarga nya. Yang menjadi petunjuk Safiyah hanyalah cincin yang ada di jari manisnya. Makanya dia selalu memakainya.
Penampilan Safiyah masih seperti sebelum dia hilang ingatan. Suka menggunakan celana panjang dan atasan tunik atau sejenisnya. hanya rambutnya yang dipotong diatas bahu.
" Selamat pagi, Ressa." ucap Tuan Matteo yang baru turun dari lantai atas bersama nyonya Kemala.
" Selamat pagi juga, Tuan." jawabnya yang tersenyum.
" Setiap pagi kamu menyiapkan sarapan apa tidak merepotkan, Ressa?" kata nyonya Kemala.
" Tidak, nyonya. Saya suka melakukannya. Supaya saya ada sedikit kegiatan. Bosan kalau hanya diam di dalam kamar, Tuan." sahut Safiyah yang kini namanya menjadi Ressa.
" Iya, Tuan."
" Minta antar sama sopir saja, ya. Jangan naik taksi. Sekarang sedang rawan kejahatan!" jelas tuan Matteo.
" Ressa sama Noah aja, Pa. Kebetulan jadwal Noah hari ini kosong." sahut Noah yang baru duduk dikursi.
Tuan Matteo dan nyonya Kemala saling menatap. Tidak menyangka Noah akan menawarkan diri. Perjodohannya dengan Helena gagal karena Noah yang tidak peduli dengan gadis itu.
" Terserah sama Ressa, mau apa tidak pergi sana kamu." celoteh nyonya Kemala
" Mau dong, ma. Iya kan, Ressa."
Ressa yang bingung mau jawab apa, terpaksa menganggukkan kepalanya terhadap ajakan Noah.
" I-iya, tuan Noah."
" Kita berangkat jam sembilan. Jangan telat."
" Baik, Tuan.
......................
" Kakek, bangun kek!" tangis Sonia pecah saat melihat Tuan Subroto di bawa masuk ke dalam IGD Rumah Sakit. Sonia yang menangis dipeluk oleh Leo.
__ADS_1
Pagi ini tiba-tiba Tuan Subroto tidak sadarkan diri di kursi rodanya. Beruntung Leo cepat mengetahui nya dan langsung melarikan Tuan Subroto ke rumah sakit terdekat.
" Abang, kakek.., hiks hiks" tangis Sonia yang belum juga berhenti. Leo selalu siap memberikan dada dan bahunya sebagai tempat bersandar untuk Sonia.
Saat bersamaan, Safiyah dan Noah melewati Sonia yang sedang menangis di pelukan Leo. Safiyah sempat menoleh tetapi tidak melihat wajah mereka.
cikleek pintu terbuka dan dokter keluar menghampiri mereka.
" Jantung Tuan Subroto harus segera dioperasi karena ada penyempitan. Keluarga tuan Subroto silahkan langsung ke administrasi untuk menandatangani beberapa dokumen."
" Tolong selamatkan Dia, Dokter. Saya akan mengurus semua keperluan operasinya."
" Baiklah tuan, kami akan berusaha. Kita berdoa saja semoga operasi ini berjalan lancar."
Kemudian Dokter masuk kembali kedalam ruang operasi.
" Sonia, kamu disini sendiri tidak apa-apa kan? Abang pergi sebentar." kata Leo sambil mengusap kepala Sonia.
" Tidak apa-apa, bang. sebentar lagi Kak Neni akan sampai menemani Sonia." jawabnya pelan.
......................
" Nona Ressa. Apa kepalanya masih sering sakit?" tanya dokter kepada Safiyah.
" Tidak sering Dok, hanya sesekali saja." Sahutnya.
" Perkembangannya cukup bagus."
" Tapi, kenapa saya belum ingat apa-apa tentang masa lalu saya, Dok?"
" Pelan-pelan saja, nona. Kasus yang seperti anda ini, biasanya ingatan masa lalu akan kembali. Tapi butuh waktu, mungkin lama, mungkin juga butuh waktu sebentar. Anda berdoa dan bersabar, ya." jelas Dokter dapat dimengerti oleh Safiyah.
" Dokter Noah, tolong dijaga tunangan Anda. Jangan sampai dia stress." Kata Dokter Ridwan tersenyum lebar .
Safiyah terkejut dengan perkataan dokter Ridwan yang mengira dia tunangan nya Noah.
" Baiklah, Dokter Ridwan. Kami permisi dulu." Noah memegang tangan Safiyah meninggalkan ruangan Dokter Ridwan.
Di luar ruangan Safiyah menarik tangannya yang dipegang oleh Noah.
" Maaf Tuan Noah. Kenapa tuan diam saja Dokter Ridwan mengatakan bahwa saya tunangan Tuan?" Protes Safiyah pada Noah.
" Biarkan saja dia mengira begitu. Siapa tahu jadi kenyataan." kata Noah yang tidak disaring lagi. Membuat Safiyah terkejut.
Safiyah dan Noah terus berjalan berdampingan melewati ruang administrasi. Saat bersamaan Leo ada didepan ruang itu sedang menandatangani berkas yang diberikan petugas rumah sakit.
Saat petugas sedang membolak-balik kan berkas itu, Leo menoleh kearah Safiyah dan Noah lewat.
deg
deg
" SAFIYAH!!
__ADS_1
bersambung.....
jangan lupa like like like ya... terima kasih.