Desain Cinta Safiyah

Desain Cinta Safiyah
Draft


__ADS_3

Elno terbayang akan mimpinya beberapa hari yang lalu. langkahnya lunglai, kakinya lemas tak bertenaga. Dia memegangi kepalanya, mengacak-acak rambutnya. mata yang mulai memerah dan berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak. Dia sangat takut mimpinya menjadi nyata.


drttrttt drttrttt drttrttt


ponselnya berdering, dilihatnya Andi yang menelpon, serasa kekuatannya kembali, Elno dengan cepat menyambar ponselnya.


" Halo, Andi! Kau sudah tahu apa yang terjadi pada Safiyah?"


" iya, El. Aku sudah tahu. Bisakah sekarang kau datang ke kediaman Tuan Subroto?"


" Aku berangkat segera!" Elno mematikan sambungan ponselnya dan langsung menyambar kunci mobil yang ada di meja.


Elno berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dengan raut wajah yang cemas dan terlihat kacau. Ibu Endang dan keluarga yang lain memperhatikan Elno.


Ibu Endang mendekati Elno yang turun hendak masuk ke dalam mobil.


" El, Elno! Mau kemana nak? kenapa terburu-buru!" tanya ibu Endang.


" Nanti Elno jelaskan, ma. Elno mau pergi kerumah tuan Subroto."


" Ada apa, El? tolong katakan sama mama, nak? jangan buat mama cemas!" ibu Endang menarik tangan Elno yang hendak membuka pintu mobilnya.


Elno menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya. " Safiyah diculik, ma."


Perkataan Elno membuat Ibu Endang terdiam seketika. " Mama tenang, ya. Elno akan mencari Safiyah sampai dapat." Elno masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan ibu Endang yang mematung ditempatnya.


Tak hanya Ibu Endang yang terkejut, keluarga yang mendengar pun ikut terkejut.


......................


Sampai di kediaman Tuan Subroto, Elno bergabung dengan Andi dan Leo. Mereka memperhatikan cctv di parkiran gedung kantor Subroto Grup. terlihat ada seseorang laki-laki yang memasuki mobil beberapa saat sebelum Safiyah masuk kedalam mobil. Mereka memperbesar wajah laki-laki itu.


" Siapa dia?" kata Elno yang sangat penasaran.


Tiba-tiba terdengar suara Sonia dari belakang mereka, karena dia baru sampai dan melihat wajah yang ada di layar monitor.


" Dia Rendi!"


Ketiga pria itu langsung menoleh kearah Sonia.


" Rendi? siapa dia?" tanya Elno pada Sonia yang mematung, dia tidak mengira kalau Rendi akan berbuat sejauh ini.


" Dia teman kak Safiyah dari kecil. Dia sangat terobsesi dengan kakak. Beberapa kali dia mengutarakan cintanya pada kakak. Tapi selalu kakak tolak karena kakak tidak menyukainya." kata Sonia dengan sorot mata yang berkaca-kaca.


" Jadi begitu" sahut Andi


kemudian Andi memberikan perintah kepada anak buahnya untuk mencari informasi tentang Rendi dan memeriksa setiap cctv yang ada di jalan.


......................


" Rendi! Lepaskan aku! " Teriak Safiyah yang sudah siuman dari pengaruh obat biusnya.


" Tenang lah Safiyah sayang..., jangan berisik. Aku sedang menyetir, sayang!" kata Rendi yang melihat Safiyah dari kaca spion.


" Lepaskan aku, Rendi!"


" sssttttt , jangan berisik! aku sedang konsentrasi!


Safiyah melihat keluar jendela mobil. terlihat banyak pohon-pohon yang mereka lintasi.

__ADS_1


" Kau mau bawa aku kemana, Rendi!" teriak lagi.


" Aku akan membawa mu ke satu tempat yang tidak akan ada yang menemukan kita, sayang..." jawab Rendi dengan senyum liciknya.


" Aku tidak mau! turunkan aku! toloooong! tolong aku! toloooong!" Safiyah berusaha teriak yang sekencang-kencangnya. agar orang-orang mendengar teriakannya.


" aaaakkhhh! berisik!!" kesal Rendi


ciiitt tiba-tiba mobil berhenti. Dia mengambil pakaiannya dan mengguntingnya. kemudian dia membungkam mulut Safiyah.


" mmpph! mmpph!" Safiyah menggelengkan kepalanya. tapi Rendi tidak peduli. Dia tetap saja mengikat mulut Safiyah.


Kemudian Rendi kembali mengendarai mobilnya.


......................


Berkat kecepatan anak buah Andi, mereka dapat melacak keberadaan mobil Rendi. Sekarang Elno, Andi dan Leo pergi mengejar mobil itu, setelah mereka mengetahui kearah mana mobil itu pergi. Dengan kecepatan penuh Andi mengendarai mobilnya. tapi kedua penumpangnya tidak peduli dengan kecepatan mobil. yang ada dipikiran mereka dapat mengejar mobil yang membawa Safiyah pergi.


......................


Hari sudah semakin sore. kabar tentang keberadaan Safiyah belum diketahui. Rumah Ibu Endang terdengar sunyi. seluruh keluarganya sudah mengetahui jika calon istri Elno di culik oleh orang tidak dikenal.


Kepala Ibu Endang pusing berkunang-kunang, mendengar perkataan Elno yang mengabarkan Safiyah diculik oleh seorang laki-laki yang sangat terobsesi dengannya.


Ibu Endang berbaring di tempat tidurnya, sambil memejamkan mata tapi tidak tidur. Ia memikirkan nasib pernikahan anaknya jika terjadi sesuatu pada calon menantunya. Dalam hati dia berdoa semoga Elno dan Safiyah pulang dengan keadaan selamat.


" Tante, yang sabar ya. Kita doakan yang baik-baik saja kepada mereka." Ratih mencoba menghibur Ibu Endang.


" terima kasih, Ratih." ucap ibu Endang kepada Ratih yang dari tadi selalu menemaninya dan menghiburnya.


......................


Rendi menggendong Safiyah memasuki gedung tua itu. Dia meletakkan Safiyah diatas tempat tidur yang sudah disiapkan sebelumnya. lalu dia mengikat kaki Safiyah supaya dia tidak bisa kabur setelah dia sadar nanti.


Rendi mengelus wajah Safiyah. dengan tatapan penuh nafsu.


" Sayangku..., tunggu sebentar ya. Aku mandi dulu. Setelah itu aku akan memandikan kamu." Gumamnya sendiri.


Setelah Rendi keluar dari kamar, Safiyah membuka kan matanya. Rupanya Safiyah menahan nafasnya saat Rendi menyemprotkan obat bius padanya.


Safiyah berusaha membuka ikatan pada tangan dan kakinya. Dia mencari benda yang dapat digunakan untuk memotong tali pengikatnya. " ah ya, kaca. kaca ini bisa memotong tali ini". gumamnya sambil turun dari tempat tidur dan melompat-lompat kearah pecahan kaca.


Karena tali pengikatnya adalah tali yang gampang putus, jadi dengan mudah Safiyah dapat melepaskan ikatan di kaki dan tangannya.


Safiyah berlari keluar gedung. Dia bingung harus kearah mana. karena hari sudah mulai gelap. tiba-tiba terdengar suara Rendi memanggil nya.


" Safiyah! Safiyah sayang...? dimana kamu? jangan bersembunyi sayang...? kamu tidak akan bisa lari. Kita jauh dari kota sayang...? kemari lah, datanglah ke pelukanku sayang...!


Safiyah sayang!" Rendi berlari mencari Safiyah masuk kedalam hutan.


Safiyah yang melihat Rendi pergi, Dia keluar dari persembunyian nya lalu berlari pergi kearah yang berlawanan dengan Rendi.


Setelah beberapa lama akhirnya Elno, Leo dan Andi tiba di gedung tua itu. mereka melihat mobil Rendi terparkir disana.


" Sepertinya mereka ada di dalam." Kata Andi. Kemudian mereka masuk kedalam tapi tidak mendapatkan apa-apa.


" Safiyah! Kamu dimana?" teriak Elno


Saat mereka sedang memeriksa kamar, mereka mendengar langkah kaki.

__ADS_1


" sssttttt. Andi memberikan tanda kepada Elno dan Leo supaya tidak menimbulkan suara.


" Safiyah sayang..., kamu sudah kembali?" Rendi membuka pintu kamar dan langsung diserang oleh Andi.


Bugh bugh bugh


Rendi ditendang dan ditinju oleh Andi. seketika Rendi pun dapat di lumpuhkan.


" Dimana Safiyah! Cepat katakan!" Elno melototi Rendi dengan emosi yang sudah di ubun-ubun


" hahaha, dia istri ku. Untuk apa kamu mencari istriku, ha?" kata Rendi yang membuat Elno semakin emosi.


" Dia bukan istrimu!!" Elno meninju wajah Rendi berkali-kali.


Leo yang melihat Elno lepas kendali segera menahannya.


" Cukup! Cukup Elno! dia bisa mati karena mu!


nafas Elno naik turun dibuatnya. Dia pergi keluar untuk mencari keberadaan Safiyah.


Polisi pun sudah sampai di lokasi kejadian. Andi menjelaskan semuanya dan menyerahkan Rendi kepada polisi.


Kemudian Andi, Leo dan beberapa orang anggota polisi juga mencari keberadaan Safiyah.


" Safiyaaaaah! Safiyaaaaah! dimana kamu?" teriak Elno.


" Safiyaaaaah!"


" Safiyaaaaah!"


Elno berlari kesana-kemari teriak memanggil Safiyah. tiba-tiba dia terkejut mendengar sahutan seseorang yang dia kenal.


" Mas!"


" Mas Elno! Aku disini...?" teriak Safiyah yang bergelayutan dipinggir jurang.


Elno mencari sumber suara dan terkejut melihat Safiyah ada ditepi jurang. segera ia ulurkan tangan nya.


" fiyah, Fiyah. pegang tangan ku! cepat!"


Safiyah meraih tangan Elno. Tapi seketika tanah yang jadi pijakan Safiyah longsor. Safiyah semakin menggantung.


" Mas, lepaskan saja tanganku!" pinta Safiyah yang berurai air mata.


" Tidak! Tidak sayang!"


Safiyah merasakan genggaman tangannya licin. Dia menatap kearah Elno dan tersenyum.


" Jangan! Safiyah jangan!" Tak terasa air matanya mengalir dengan derasnya.


" Tidak! Jangan!" Elno menggelengkan kepalanya


" Elno!" teriak Leo dan Andi yang baru tiba segera menghampirinya.


"Tidak Safiyah! Tidaaaak!!"


bersambung....


jangan lupa like like like ya, terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2