
"Hai nona, malam ini kau begitu cantik. Membuatku tak bisa berpaling darimu.” Rayuan gombal Elno membuat Safiyah senyum-senyum malu.
kemudian Elno mendekatkan wajahnya ke wajah safiya dan ingin mencium bibir mungil Safiyah yang merah merekah begitu menggoda. Perlahan-lahan mendekat hingga tinggal beberapa centi lagi akan menyentuh bibir indah itu. Tiba-tiba
“PLAK”
Sebuah bantal melayang ke wajah Elno membuatnya terbangun dari tidurnya dan melihat mamanya berdecak pinggang sambil memegang bantal.
“ mama.” Senyum konyol dibibir Elno membuat ibu Endang semakin geram.
“ mama mama..,! Kamu mimpi apa ha!? Sampai bibirmu monyong-monyong begitu!? Kamu mimpi mesum ya?! Ha??! Jawab!!” sambil memukul-mukul Elno pakai bantal berkali-kali.
“sakit ma..! Nanti wajah tampan anak mama satu-satunya ini rusak!. Mama...!
Ibu Endang tidak perduli, dia terus saja pada kegiatannya menepuk-nepuk punggung Elno dengan bantal
“makanya cepatlah beristri! Biar bisa tersalurkan.” Ibu Endang berhenti menepuk pundak Elno.
Dia mengatur nafasnya perlahan. Dan mulai menggoda Elno lagi.
“kamu mimpikan siapa tadi ha?! Tanya ibu Endang
“ Bukan siapa-siapa, ah.” Elno malas meladeni pertanyaan mamanya.
“ Pasti Mery ya?.., iya kan?” Selidik ibu Endang.
“ha? Bukan!” sahut Elno
“ apa? Bukan?? Lalu siapa?”Ibu Endang makin penasaran
“ kamu jangan menipu Mama, mama tau. Dan sering lihat kalian jalan bersama dan makan bersama. Kalau bukan dia siapa lagi? Mama belum pernah melihat mu bersama wanita lain selain Mery.” Bikin jiwa ibu Endang makin meronta penasaran.
“Tidak ada mama..., jalan bersama dan makan bersama bukan berarti kami pacaran. Dan juga Elno tidak ada apa-apa sama Mery. Elno dan Mery hanya sebatas teman dan rekan kerja, itu saja tidak ada yang istimewa.” Jelas Elno dengan wajah cemberut.
Dia mulai beranjak dari tempat tidurnya dan ingin mandi. Ibu Endang masih saja membahas Mery
“ Tapi El, mama lihat Mery menyukaimu! Jelas sekali dimatanya, kamu balas saja perasaannya ya nak..?” Dengan wajah mengiba dan mata yang kedap kedip kepada Elno, Membuat Elno terbahak melihat kelakuan mamanya.
"Hahahaha ..., Mama lucu sekali. Seperti boneka Barbie!” Elno mencubit gemas pipi mamanya.
“ Tidak! Elno tidak punya perasaan apa-apa kepada Mery, titik!” Elno langsung menutup pintu kamar mandinya.
__ADS_1
“ tapi El, mama ingin punya cucu...??? Teriak mamanya yang didengar oleh Elno dari dalam.
“ iya nanti Elno belikan.” Sambil tersenyum nakal.
“ Emangnya anak kucing?! Main beli aja!” sambil mengomel ibu Endang pergi dari kamar anaknya.
......................
Jam tangan safiya menunjukkan pukul delapan pagi. Dia sudah siap untuk berangkat ke Sanjaya Grup, dia ingin sampai disana lebih awal. Dengan mengendarai sepeda motornya. Entah mengapa pagi ini dia merasa udaranya begitu segar, sehingga membuat hatinya terasa damai tanpa beban.
Dua puluh menit safiya sampai diparkiran gedung. Dia mulai berjalan menuju resepsionis kantor untuk menanyakan keruangan mana yang harus dia masuki.
“ Permisi mbak, saya safiya. Saya mau tanya, saya pemenang perlombaan desain di perusahaan ini, kira-kira saya harus keruangan mana ya mbak?” tanya safiya dengan sopan santunnya.
“ Silahkan ditunggu sebentar ya, karena tuan direktur sedang ada rapat. Silahkan duduk dulu”. Resepsionis mempersilahkan Safiya duduk.
Bukan hanya safiya yang menunggu, kedua peserta yang lain pun sama. lebih kurang tiga puluh menit safiya mengobrol dengan yang lainnya, Safiyah permisi ingin ke toilet.
sambil mencuci tanganya, safiya bergumam dalam hatinya.
Enaknya jadi bos, bisa bikin orang menunggu! tiga puluh menit itu lama, bukan sebentar. uuikh..
Safiyah terkejut dan menatap mata Elno. begitupun juga Elno. mereka saling tatap. tanpa mereka sadari bahwa mereka diperhatikan oleh orang-orang yang ada disana. termasuk Mery yang dari tadi berjalan bersama Elno.
mata Mery melotot dan dadanya terasa panas melihat adegan itu. Romi yang sadar akan ketegangan saat itu berdehem agar tuannya sadar.
"ehkem, ehkem.." deheman Romi menyadarkan Elno dan Safiya.
Safiyah cepat-cepat menunduk dan meminta maaf dan langsung pergi dari mereka. Safiyah tidak ingin terlihat gerogi dan salah tingkah di sana.
Safiya baru sadar jika lelaki itu adalah yang kemarin menolongnya dan hampir mencium nya.
"oh.. dia bekerja disini." gumamnya.
tak lama resepsionis mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam ruangan kerja direktur. satu persatu mereka masuk. dan betapa terkejutnya Safiya saat melihat Elno dikursi direktur.
" akh kenapa harus dia direktunya,? aku harus bagaimana ini? pasti dia akan mengungkit-ungkit kejadian kemarin. akh.. mampus aku! nasib, nasib.. terima sajalah apa yang akan terjadi."
Safiyah berfikir keras dalam hati terlihat dari mimik wajahnya, sehingga dapat dibaca oleh elno.
Elno tersenyum ala joker.
__ADS_1
Pembicaraan pun dimulai. Mery memperkenalkan diri dan direkturnya.
"perkenalkan nama kamu Mery, saya manager desain disini. dan ini direktur kita Elno Sanjaya. kalian bertiga disini adalah pemenang perlombaan desain yang diadakan oleh perusahaan. Dan tuan Elno Sanjaya sendiri yang memilih desain-desain kalian.
kalian bertiga akan membuat pakaian dari desain kalian, dan akan kita nilai dan pilih yang mana yang akan kita luncurkan." panjang lebar penjelasan Mery membuat Safiyah dan yang lain menganggukkan kepala tanda mengerti.
Selama Mery memberikan penjelasan dan pengarahan, beberapa kali dia memergoki Elno sedang menatap wajah Safiya membuat hatinya terbakar api cemburu.
"untuk semua tentang desain, bahan dan lainnya bisa kalian konsultasikan kepada saya atau bisa juga kepada Tuan Elno. cukup ini dulu untuk hari ini, kalian bisa memilih ruangan kalian sendiri disana dan akan dipandu oleh pak Romi. silahkan." Mery mempersilahkan mereka untuk memilih ruangan masing-masing.
safiya dan yang lainnya beranjak dari ruangan itu. Safiya mendapatkan ruangan paling ujung. dia memperhatikan alat-alat dan mesin jahit disana bagus-bagus dan terlihat mahal.
Safiyah duduk dikursi yang disediakan di ruangan itu. membuka tasnya dan ingin mengambil buku catatanya. dia baru ingat buku itu tertinggal di ruangan Elno.
Safiyah segera kesana untuk mengambil buku. sampai disana, Safiyah mendengarkan perkataan Mery.
"El, tidak salah kamu memilih desainer? mereka kampungan semua!" perkataan Mery membuat Safiyah berhenti didepan pintu.
" apalagi gadis yang bernama Safiyah itu! dari pakaianya sudah terlihat selera nya rendah, tidak berkelas! pakaian kita ini untuk orang-orang yang berkelas atas, El!" Mery terdiam mendengar pintu diketok, dan terkejut melihat Safiyah ada didepan pintu.
"permisi tuan saya mau mengambil buku saya yang ketinggalan di sana." Safiyah menunjukkan letak bukunya. lalu dia segera pergi dari ruangan itu.
Elno merasa kalau Safiya mendengar semua perkataan mery, dia segera bangkit hendak mengejar Safiyah tapi dihadang oleh mery.
"Mau kemana El? Mery memegang tangan elno
"Bukan urusanmu! Elno menepis tangan Mery dan pergi keluar.
"aakkhhh..., sudah tujuh tahun aku mengikutimu El..., kau sama sekali tidak melirikku!!! aaaakkhhh...!!! Mery sangat marah pada Elno yang menepis tangannya. Dia remuk berkas yang ada didepannya.
Jika memang karena wanita itu kau memperlakukan aku kasar seperti ini, akan aku singkirkan dia!!
gumamnya dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
bersambung...
maaf ya para pembaca yang Budiman..,
author ya masih amatiran.
mohon dukungannya like komen disetiap chapter, hadiah dan vote.. terima kasih......
__ADS_1