
"Safiyah!? Dia calon istrimu?” Tanya Andi yang terperangah melihat wajah Safiya yang sedang dibersihkan oleh Elno.
“ Iya, kenapa?” tanya Elno heran. “ oh iya, aku belum memperkenalkan kalian ya. hahaha”
" Hiisshh kau ini! Tidak usah kau kenalkan... Aku juga sudah mengenal dia." jawab Andi dengan santainya.
“??” Elno tambah bingung. “ dari mana kau bisa mengenalnya? Hari-harinya hanya terkurung didalam ruang penuh kain dan mesin!” celoteh Elno yang didengar oleh Andi
“ sepertinya aku yang lebih dulu mengenal dia dari pada kamu El!” kata Andi
“ uuwek uwek” Safiyah terbangun dengan perutnya yang terasa mual dan kepala pusing.
“ Safiyah! kamu sudah bangun, sayang?”
“ mas El! Kamu jahat sekali! Bawa mobil seperti kesurupan! Kamu tidak bisa melihat penumpangmu yang terpelanting kekiri dan kekanan, ha?” Elno hanya bisa diam melihat Safiyah yang marah-marah kepadanya. sambil sesekali Safiyah memegangi kepalanya yang pusing. Elno duduk disebelah Safiyah mengelus-elus pundaknya, sedangkan Andi hanya duduk sibuk memainkan ponselnya menghadap kearah lain
“ kakek juga sudah tua sedang sakit! Seluruh tubuhku saja terasa sakit semua, apa lagi kakek! Ha? Kakek? Bagaimana keadaan kakek?” Tanya Safiyah yang baru menyadari tentang kakeknya.
“ kakek sedang diperiksa oleh dokter. Kamu tenang saja. Ini kamu minum dulu air jahe hangat ini, untuk mengurangi mual dan pusingmu.” Bujuk Elno.
Safiyah mengambil cangkir air jahe hangat dari tangan Elno dan meminumnya.
“cepat dihabiskan.” perintah Elno
Safiyah menoleh kesosok lelaki berkemeja putih dengan tiga kancing dibuka dan tangan baju yang digulung sedikit, mengenakan celana panjang hitam sedang duduk dengan kedua kakinya yang panjang saling menyilang sedang asik memainkan ponsel. Terlihat seksi Dimata Safiyah.
Postur tubuh Andi tidak jauh berbeda dengan Elno. Bedanya kalau Andi sedikit berisi dari Elno.
“ Mas Andi?? Tanya Safiyah.
Andi menoleh dan tersenyum, sedangkan Elno mengerutkan kening merasa aneh, kenapa Safiyah bisa mengenal Andi.
“ Safiyah, kita bertemu kembali.” Andi tersenyum dan menjabat tangan Safiyah.
Safiyah menyambut uluran tangan Andi dan tersenyum manis. Elno semakin mengerutkan keningnya.
“ jadi mas Andi yang selalu membantu mas Elno ya? Pantas saja mas Elno begitu percaya diri.” tanya Safiyah.
__ADS_1
“ Kalian sudah saling mengenal? Atau kalian pernah pacaran?” Elno mmulai mencemburui temannya itu, dan memasang wajah penuh tanya.
“ hahaha “. Andi terbahak melihat raut wajah Elno yang lucu menurutnya.
“ iya, aku memang menyukai Safiyah.” Kata Andi yang membuat Elno semakin ppenasaran
“ Mas Andi.... Jangan buat mas Elno cemburu gitu, kepalaku masih pusing untuk menghadapi serbuan pertanyaannya nanti. aku mau tidur lagi, kepalaku masih cenat cenut." Kata Safiyah yang mulai memejamkan matanya.
“ aku memang menyukaimu Safiyah “gumam Andi dalam hati
“ maaf El,aku hanya bercanda. Jangan diambil hati ya! Kita ngobrol diluar saja, biarkan Safiyah istirahat dulu” kata Andi yang menepuk pundak Elno.
Mereka meninggalkan kamar Safiyah dan berjalan menuju ruang keluarga. Andi berjalan didepan diiringi oleh Elno. Pikiran Elno penuh dengan pertanyaan. Begitu besar penasarannya kenapa Safiyah dan Andi Seorang kepala mafia bisa saling mengenal dan sepertinya begitu akrab. Apakah Safiyah masa lalunya Andi? berkecamuk dibenaknya.
Setelah sampai mereka duduk berdampingan di sofa. Terlihat kegelisahan diwajah Elno. Hingga akhirnya dia memulai pertanyaan yang sudah menggelayuti fikirannya.
“ sekarang cepat katakan, bagaimana kalian bisa saling mengenal?!”
“ cepat katakan!” desak Elno.
“ Dulu Safiyah orang kepercayaanku.” Jawab Andi santai.
“ Maksud mu? Dia anak buahmu?”
“ iya benar. Semenjak ibunya meninggal dunia dia ingin fokus membesarkan adiknya dengan usahanya sendiri. Makanya aku melepaskannya.” Penjelasan Andi membuat Elno mengangguk kepalanya.
“ Kalian berdua hanya mantan bos dan anak buah kan? Bukan mantan kekasih?” kata Elno sambil memastikan.
“ Iya. Mantan bos dan anak buah.”
“ syukur lah.” Elno dengan ekspresi wajah lega dan senyum lebar.
“ Tapi El, Sebenarnya dari dulu aku sudah menyukainya. Jadi, kau harus berhati-hati! Jangan sampai aku rebut!” ancam Andi sambil tersenyum nakal.
“ Kau..., jangan aneh-aneh Andi!” teriak Elno yang dihentikan oleh kedatangan pria berjas putih. berwajah tampan menggunakan kacamata membuatnya terlihat berwibawa. itulah dokter Irwan. dokter sekaligus teman Andi, karena usia mereka hanya beda satu tahun saja.
__ADS_1
“ Permisi Tuan Andi, kondisi pasien mengkhawatirkan lebih baik kita bawa ke rumah sakit saja. Agar kita bisa periksa menyeluruh tentang kondisi pasien yang sebenarnya.” Jelas dokter Irwan.
“ Apakah kondisi pasien parah, dokter?” tanya Elno.
“ Lebih baik kita periksa, jangan kita menduga-duga dulu ya tuan.”
“ Baiklah dokter Irwan, sekarang juga kita bawa tuan Subroto ke rumah sakit.” Andi memerintahkan anak buahnya untuk segera melaksanakan sesuai saran dokter Irwan.
“ Setelah Safiyah bangun kau bawalah dia kerumah sakit, El. Kakeknya biar aku yang urus.” Perintah Andi kepada Elno.
......................
“ Plak! Plak! Plak!” suara tamparan wajah yang diberikan pak Danu kepada anak buahnya.
“ Kalian tidak ada yang berguna! Mengejar seorang kakek tua dan pelayan wanita saja tidak ada yang becus!!
Apa kerja kalian,ha?! Plak plak!!” Emosi pak Danu sudah tidak bisa dikendalikan. Pak Yuda yang merupakan kepala pelayan bingung harus berkata apa lagi untuk menenangkan tuannya. Beruntung beberapa saat kemudian Mery masuk dan menenangkan ayahnya.
“ Papa! Mereka bisa mati karena ulah papa! Tenang kan diri papa! Setelah itu kita buat rencana baru!” bujuk Mery kepada ayahnya.
“ kalian semua pergilah! Obati diri kalian!” Mery melambaikan tangannya kepada pak Yuda sebagai isyarat untuk membawa mereka pergi.
“ kita sudah kehilangan tuan Subroto, Mery!? Bagaimana jika dia kembali dan mengambil semua harta nya, ha? Dan kita bisa dipenjara, Mery!” Terlihat sekali ketakutan dan kecemasan diwajah pak Danu.
“ tuan Subroto itu sebatang kara, papa! Siapa yang akan menolongnya! Bukan kah semua hartanya sudah atas nama papa?!” tanya Mery dengan percaya diri nya.
“ Itu belum terjadi, Mery!” bentak pak Danu.
“ Apa? Belum? Kenapa papa lamban sekali!”
“ Tuan Subroto yang masih ingin mencari cucunya. Dan ingin menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepada cucunya itu!”
Penjelasan pak Danu membuat Mery geram, dia tidak menyangka kalau kakek tua itu masih mengharapkan cucunya yang tidak tahu dimana keberadaannya.
“ Mery akan mencari tahu siapa dalang dari penculikan tuan Subroto ini, pa.” Mery mulai mengingat-ingat wajah pelayan yang dia perintahkan untuk mengambil jus tadi pagi.
“ pelayan, Pelayan, Siapa pelayan baru ini, aku seperti mengenalnya! Mery pergi periksa cctv dulu pa.” Mery mulai mencurigai pelayan baru itu.
Mery memeriksa semua cctv yang ada di rumah itu. Dia memperhatikan wajah pelayan baru itu.
" coba diperbesar wajah pelayan itu!" perintah nya kepada tekhnisinya.
" Dia?! aku yakin dia!"
bersambung....
__ADS_1
maaf ya author baru update, kemarin author habis dirawat.., terima kasih ya sudah baca karya author. semoga kita semua sehat selalu ya...